Sex After Having TWO Children

“Sex matters… a lot. But for parents of a baby, nights can be sleepless and sexless!” (Heidi Raykeil, penulis Love in the Time of Colic)

Setuju dengan kalimat di atas? Sudah, lah, akui saja. Nggak usah bohong dan berusaha memberi kesan bahwa hubungan seks dengan suami masih sespektakuler masa pengantin baru dulu :D


Kehadiran bayi, sedikit-banyak memengaruhi urusan ranjang. Saya mulai menyadarinya setelah Rakata lahir. Gimana nggak terpengaruh, jika sepanjang siang saya menghadapi bayi yang kehausan dan ingin ditimang tiap 2-3 jam sekali, seember popok, botol susu yang mesti disterilkan, piring/gelas kotor di dapur, dll,… Wih, badan rasanya rontok! Apalagi, di rumah ortu memang terbiasa nggak ada ART, otomatis semua harus diberesin sendiri.
Nggak heran, saat malam tiba dan Rakata mulai lebih ‘tenang’, yang saya inginkan hanya rebahan. Santai-santai di kasur sambil nonton TV dan baca majalah, itu saja rasanya sudah surga banget. Keinginan bercinta? Wih, hampir nggak terlintas :D

Jujur, agak kasihan juga sama suami. Awalnya saya sempat mempraktikkan ‘charity sex’ (itu, tuh, tetap meladeni bercinta di saat kita lagi nggak ingin, hanya agar suami senang). Lubrikan pun menjadi senjata andalan saat vagina kering. Tapi lama-lama, saya menyadari bahwa langkah itu salah! Seharusnya, bercinta dilakukan dengan perasaan suka sama suka (dan dua-duanya pun dalam keadaan ingin), dong?

Untungnya, setelah ngobrol dari hati ke hati, suami bisa mengerti. Karena, toh, ‘frigid’ yang saya alami juga nggak berlangsung terus-terusan. Adakalanya, saya malah yang ngajak duluan, bahkan pernah membangunkan suami jam 1 pagi saking ‘gelisahnya’ ingin bercinta :D
Kalau nggak salah ingat, masa ‘frigid’ saya alami hingga Rakata berusia 6 bulan saja, ya. Setelahnya, kembali lancar jaya seperti baru menikah. That’s why pas Rakata usia 13-14 bulan, saya sudah kembali hamil, hihihi.

‘Kerikil’ di ranjang baru kami hadapi lagi setelah Ranaka lahir. Ternyata, punya satu newborn dan satu toddler itu sangat-sangat-sangat melelahkan! Padahal, setelah Ranaka lahir saya sudah memperkerjakan seorang ART untuk bantu-bantu. Tapi tetap saja, tenaga seperti dicungkil sampai otot terkecil. Boro-boro bercinta, saat suami iseng menjawil bokong saja saya langsung menghardiknya :D

Kadang, saya malah berharap suami lembur dan pulang larut, biar saya nggak merasa bersalah menolak ajakannya—tinggal pura-pura tidur, hihihi
Titik balik saya terjadi saat Ranaka berusia 5-6 bulan. Saat itu suami merajuk untuk bercinta, tapi saya tolak. Sambil bercanda, suami mengelus ‘senjatanya’ sambil bilang, “Kasihan kamu, sudah seminggu nggak dipakai.”

Jleb.

Has it been that long?

Huaaa! Saya seperti ditampar! Saya nggak mau jadi istri yang setelah punya anak jadi terlalu memfokuskan seluruh tenaganya untuk anak hingga lupa pada suami. Jangan sampai, deh, suami malah cari pelampiasan ke perempuan lain (meski yakin suami nggak akan melakukannya, tapi namanya kemungkinan dan kesempatan, kan, selalu ada, ya). Bisa nangis darah, deh, jika benar sampai kejadian *meski nangisnya sambil ngasah golok buat ngebiri :D

Akhirnya, saya mulai menghipnosis diri. Yang tadinya saya menganggap tubuh sudah terlalu lelah untuk bercinta, pelan-pelan saya ajak ‘berpikir’ kembali tentang asyiknya bercinta, nikmatnya orgasme, pokoknya yang indah-indah, deh. Koleksi lingerie pun saya tambah :D

Cara saya berhasil. Belakangan, urusan ranjang sudah nggak jadi isu lagi di antara saya dan suami. Apalagi, sebulan belakangan saya lagi giat berdiet untuk menurunkan BB yang sempat over 10 kg pasca melahirkan dua anak. Memang, sih, baru turun setengahnya alias 5 kg, tapi efeknya ke stamina dan keinginan bercinta sangat dahsyat!

Haduh, ngomongin soal bercinta, saya jadi salting sendiri, nih, nulisnya :D
WhatsApp suami buat pulang cepat, ah… *wink*

*gambar dari sini


32 Comments - Write a Comment

Post Comment