Mengenal Tradisi Lewat Permainan

Dibandingkan anak-anak seusianya, Langit agak ketinggalan untuk urusan per-gadget-an. Main komputer atau laptop? Baru bisa menonton saja. Menyalakan dvd sendiri? Baru bisa memasukkan keping cakram ke dvd player. Mengoperasikan handphone? Baru bisa geser-geser foto tuh. Saya percaya ini bukan keterlambatan, karena mengoperasikan gadget, menurut saya, nggak termasuk ke dalam milestone anak :D

Bukannya sok perfeksionis ya, saya tentu juga sering menggunakan tekhnologi sebagai pengalih perhatian Langit jika saya sedang melakukan hal lain. Misalnya kalau lagi nggak ada pengasuh, saya meminta ‘bantuan’ televisi untuk ‘mengasuh’ Langit sementara. Atau kalau sedang menyetir, Langit akan menonton aneka video dari handphone saya. Tapiii, dalam kondisi ‘sadar’ (halah), sebisa mungkin saya mengajak Langit main yang ada interaksinya. Mulai dari main masak-masakan, mewarnai, melukis atau permainan zaman saya kecil seperti congklak dan depruk bulan.


Harus diakui, sih, permainan zaman kita kecil dulu, lebih memicu kita untuk berinteraksi dengan orang lain. Coba sebut, mana ada mainan tradisional yang bisa dimainkan sendiri? Bola bekel bisa beramai-ramai, bentengan apalagi, galasin juga! Nah, minimal harus ada dua orang yang terlibat, kan?
Saat ini saya merasa bahwa kita adalah generasi peralihan. Merindukan masa kecil yang penuh dengan kebersamaan, tapi di sisi lain saya harus menyaksikan banyak orang yang asyik dengan kesendiriannya hingga nyaris egois. Saya pribadi, menginginkan anak saya menjadi social person, yang mudah berbaur  serta memiliki tenggang rasa yang tinggi terhadap orang lain.

O, ya, bukan berarti saya membenci masa kini dengan segala kecanggihannya lho (toh saya bekerja di dunia online, masa kini banget kan? Hihihi ). Dengan segala kecanggihan tekhnologi yang ada, semakin mudah informasi yang bisa kita dapatkan. Tinggal ketik keyword, beribu informasi bisa didapat, mulai dari kesehatan, ASI, parenting, perkembangan anak, dan lain sebagainya! Tapiii saya juga nggak mau Langit kehilangan jati dirinya sebagai anak Indonesia, dong (kalau istilah suami saya, nasionalismenya harus dijaga :D).

Nah, untuk itu, kami berusaha melakukannya melalui mainan, buku cerita, bahkan pakaian. Kalau pakaian, sudah pasti, batik juaranya. Saat ini, sedang ada event “Satu Batik Jutaan Jari” yang lucu banget. Jadi, cap sidik jari anak-anak yang terkumpul di facebook-nya Kebaikan bodrexin akan dibuat menjadi satu motif batik tertentu. Langsung upload cap sidik jarinya si kecil seperti pernah saya ceritakan di artikel Let’s Participate, deh! Ditunggu sampai 30 April 2012.

Satu lagi, Mommies … jangan lupa juga follow @tentangkebaikan untuk mendapatkan info terbaru tentang event ini!


32 Comments - Write a Comment

Post Comment