Facing the Daughter Reality

Sering orang bilang kalau anak perempuan itu dekat dengan ayahnya sementara anak laki-laki dekat dengan ibunya. Saya menolak untuk mempercayai hal ini. Saya punya dua-duanya, si sulung yang perempuan dan adiknya yang laki-laki. Saya ingin kedua anak ini, perempuan maupun laki-laki, dekat dengan bunda DAN ayahnya.

Tapi sekarang saya belum akan membicarakan si adik. Sekarang ini saya akan membicarakan si kakak perempuan … yang sudah berumur 10 tahun duduk di kelas 5 SD. Ya, kelas LIMA! SD-nya sudah lewat setengah. Sebentar lagi teenager. Sebentar lagi SMP. Sebentar lagi mulai jalan-jalan di mal sama teman-teman. Sebentar lagi abege. Sebentar lagi ditelepon dan didatangi anak laki-laki. Aaaarrggh!

Anak saya ini tidak bongsor macam teman-temannya, masih suka nonton kartun, dan menurut gurunya masih lebih kekanak-kanakan dibanding kebanyakan temannya–yang dalam hati saya syukuri, karena saya ingin dia menikmati masa anak-anak sepuas-puasnya. Saya sering lupa kalau sebentar lagi dia sudah bukan anak SD lagi. Si ayah sepertinya malah lebih clueless lagi, Aira–nama anak saya–sepertinya akan selalu jadi little princess di mata ayahnya.

Tapi beberapa waktu yang lalu Aira mengatakan sesuatu yang membuat saya rasanya dilempar keluar dunia pastel warna-warni yang selama ini saya bayangkan kalau melihat Aira, saya dilempar kembali ke kenyataan. Kenyataan bahwa anak ini tidak akan selamanya jadi kecil. Ini dia kalimatnya: “Bun, temen aku di sekolah udah ada yang M, lho.” Yak, perut saya mules seketika. Saya tidak tahu siapa itu temannya yang sudah M alias menstruasi itu, tapi sumpah detik itu juga perut saya yang mules. Karena kalimat itu mengingatkan kalau pada waktunya nanti Aira juga akan menstruasi, akan menjadi remaja dan kemudian perempuan dewasa.

Saya tidak tahu pastinya kapan saat itu akan terjadi, yang pasti saya rasanya belum siap. Bukan hanya soal menstruasinya, tapi juga soal perkembangan sosial-emosional anak usia remaja dengan segala perubahan hormon dan mood-nya. Saat itu juga di dalam kepala saya langsung mengevaluasi hubungan saya dengan Aira selama ini. Karena saya tahu pasti di usia remaja anak cenderung akan menarik diri dari orangtuanya dan ini yang ingin saya minimalisir. Saya ingin jadi temannya, dalam kapasitas yang tepat. Bukan bunda sok asik yang bikin dia malu. Hehehe. Saya ingin dia merasa kalau dia bisa cerita apa saja kepada saya atau ayahnya.

Si ayah memang yang lebih dulu merasakan kalau anak perempuannya sudah hampir abege, ketika pada suatu hari dia bercerita pada saya dengan muka patah hati kalau Aira menolak dirangkul di depan teman-temannya ketika dijemput di sekolah. Hal-hal seperti ini mungkin memang akan ada masanya, dan mungkin tidak akan selamanya, tapi si ayah lumayan merasa ditampar. Kasihaaaan … haha x) Akhirnya kami sebagai orangtua hanya berbesar hati kalau masa itu sudah tiba. Ketika anak diminta untuk belajar untuk mandiri, maka orang tua juga harus belajar, belajar untuk ‘melepas’. Berat memang, tapi akan terjadi dan lebih baik terjadi. Ingat film Failure To Launch? Sudah tua masih nempel terus sama orangtua juga nggak lucu, kan?

Jadi, kami melanjutkan waktu obrol-obrol kami bersama Aira. Ayah dalam perjalanan ke sekolah, atau saat bemalas-malasan waktu akhir pekan di rumah. Aira biasanya cerita apa saja tentang sekolah dan teman-teman kepada ayah. Waktu ngobrol sama Bunda sebelum tidur. Atau saat kami girls day out berdua ke mal atau ke salon. Saya ingat dulu pertama kali creambath berdua dengan mama saya, dan saya lakukan itu bersama Aira. Jalan-jalan ke mal bukan lagi sekedar liat-liat mainan atau beli buku, tapi pilih-pilih dan beli baju atau sepatu lalu ngopi-ngopi sambil ngobrol. Topiknya dibuka seluas-luasnya. Termasuk soal menstruasi yang sudah waktunya dibicarakan oleh ibu dan anak perempuannya. Saya memperbanyak membaca soal bagaimana menghadapi anak remaja, fisiologis, dan psikologis. Saya tahu kadang-kadang sebanyak apapun yang saya baca, ketika waktunya tiba insting yang lebih banyak berperan. Tapi saya tidak mau clueless. Saya juga tidak mau Aira clueless, makanya ketika ada sesuatu yang ingin dia ketahui, saya ingin dia bisa bertanya kepada saya atau ayahnya, dan kami bisa memberikan jawaban yang baik.

 


26 Comments - Write a Comment

  1. Sedang ada disituasi seperti ini, anak ku cwe 14 Y.O, udh sibuk bgt sm schedule dgn temen2’y…..
    Dan ga prnah bisa ketinggalan dgn gadget’y dmn pun & kapan pun :( I miss my litle princess but we should learn & grow with our kids

  2. baca artikel ini aku setuju dengan deeth,,,skrg ini baby boy ku baru 5 bln n bener2 aku puas2in gendong n peluk,,,,gak peduli omongan sekitar yg blg anakku bau tangan,,,gak ada itu istilah bau tangan,,,sebodo deh mau capek kek,mau panas kuping di omongin kek,,,yg penting he is still my baby boy now,,,,
    anak perempuan sih masi mending ya masi mau di peluk2 walopun gak di depan temen2nya,,,lha klo cowok??!!,,,pasti aku bakal patah hati karena pasti nantinya dia ogah di peluk n di cium di depan or di belakang temen2nya

Post Comment