Uang (Bukan) Sumber Masalah

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, disebutkan bahwa penyebab nomor satu perceraian adalah financial matter alias duit. Seperti kata pepatah Barat, “Money is the root of evil”. Uang juga merupakan sumber perpecahan terbesar dalam sebuah pernikahan. Rata-rata karena disebabkan tidak adanya kejelasan dalam hal finansial keluarga.


Dari beberapa teman perempuan yang sering curhat ke saya, pada umumnya mereka komplain soal suami-suami mereka yang tidak memberikan nafkah yang cukup. Alasannya, para suami itu berpikir bahwa istri mereka bekerja dan memiliki sumber penghasilan. Sehingga mereka tidak perlu diberi anggaran banyak-banyak karena toh, mereka bisa meng-cover semua dengan penghasilannya sendiri. Padahal sebenarnya sang istri keberatan jika mereka ikut menanggung beban finansial keluarga. Apalagi jika beban yang mereka dapatkan lebih banyak dari yang didapat sang suami.

Dalam agama saya, nih, disebutkan bahwa suami itu wajib memberi nafkah istri dan anak-anaknya. Jika istri bekerja atau menghasilkan uang, ia tidak wajib memberikan uangnya untuk keluarga. Kalaupun ia berkontribusi pada keuangan keluarga, itu dilakukan atas kerelaannya. Karena itu, dalam berbagai artikel tanya jawab psikologi yang sering saya baca (saya gemar baca artikel begini, FYI hehehe..), para psikolog yang menerima curhatan kasus perceraian yang bermuara pada financial problems biasanya akan memberi satu saran: suami wajib memberi nafkah keluarga tanpa diminta.

Sementara sang istri, jika suami tidak memberi nafkah, harus berani meminta. Untuk keluarga saya sendiri, Alhamdulillah, suami saya bukan tergolong pria yang pelit dan harus ditagih dulu baru mau mengeluarkan uang. Kebalikannya, dia justru sering menawari saya tambahan uang karena saya ini gengsian. Benar, lho, saya ini dulunya malaaaaas sekali minta uang pada suami. Saya dulu menganggap, meski gaji saya tidak seberapa, saya punya uang sendiri sehingga saya punya power. Kalau saya minta uang pada suami, power saya berkurang.

Hahaha … picik banget ya? Lama-kelamaan, pola pikir seperti itu bikin saya capek sendiri. Akhirnya saya setuju bekerja sama dan kompromi dengan suami untuk urusan finansial rumah tangga. Kami menganut pola partnership untuk berbagai urusan rumah tangga. Suami tidak menyerahkan 100 persen gajinya kepada saya untuk kemudian saya atur sedemikian rupa. Saya sadar diri, saya ini orang yang sangat payah dalam mengatur pengeluaran. Setelah berdiskusi, saya dan suami sepakat untuk menerapkan pola manajemen keuangan rumah tangga yang lebih moderat saja.

Jadi, suami memberi saya uang sejumlah sekian untuk berbagai kebutuhan rumah tangga dan gaji ART kami. Ia juga bertanggung jawab membayar listrik, air PAM, telepon, cicilan Kredit Bangun Rumah, dan segala tetek bengek urusan mobil. Sementara saya bertanggung jawab pada urusan pendidikan Nadira. Mulai dari tabungan pendidikan untuk biaya masuk TK, sampai reksadana setiap bulannya untuk biaya pendidikannya SD hingga kuliah nanti.

Sisanya, kami harus membayar cicilan kartu kredit, tagihan ponsel serta premi asuransi jiwa masing-masing. Selain itu, saya juga punya pengeluaran lain berupa cicilan rumah yang saya beli sejak masih lajang dulu.
Dengan pengaturan begini, saya dan suami sama-sama punya tanggung jawab atas keuangan keluarga. Selain itu, kami juga sama-sama punya kebebasan untuk membeli apapun yang ingin kami beli. Meski begitu, kami tetap berdiskusi atas beberapa pengeluaran, terutama jika yang ingin kami beli berharga cukup “wah”. Misalnya, suami ingin beli velg mobil baru, ia pasti akan berbicara terlebih dahulu pada saya. Begitu juga jika saya ingin beli tas atau panci yang harganya lumayan.

So far, saya sih cocok ya dengan metode seperti ini. Tapi saya yakin, setiap orang pasti punya metode yang cocok dengan kepribadian masing-masing. Apa pun itu, yang penting semua lancar, bukan?


22 Comments - Write a Comment

  1. Klo aku sama misua mungkin punya gaya atur keuangan yg aneh… krn penghasilan kami adalah penghasilan bersama dan pengeluaran kami adalah pengeluaran bersama juga… jd nda pernah pke istilah itu uang’mu ini uang’ku… atau itu belanjaan’mu… ini belanjaanku…

    Kami dari awal sejak pacaran sudah membicarakan hal ini supaya tidak ada pemicu keributan dari hal FINANCIAL… jadi sekalipun dulu suami saya wiraswasta dan penghasilan nda tentu.. tetap saja pengeluaran ditanggung sama2, tidak bergantung pada besar-kecil kontribusi penghasilan kami…

    Ditambah lagi, keluarga kami (adik-adik dan ortu kami) juga seringkali memang masih membutuhkan FINANCIAL SUPPORT dari kami, sehingga dari awal kami berkomitmen agar FINANCIAL bukanlah MAIN ISSUE ketika kami berumah tangga…

    Sekalipun kami juga nda bisa dibilang sebagai pasangan/keluarga kecil yg berlimpah uang/harta… kami mensyukuri karena kami amsih dipercayakan membantu orang-orang terdekat kami ^^

  2. Umm setahuku pepatah Barat itu yang lengkap: “the love of money is the root of evil” CMIIW
    Aku juga mirip ama irasistible nih, kebutuhan rumah suami yang penuhi, istri yang persiapkan dana pendidikan anak (tapi anaknya masih TTC hehe).

  3. Emang sensi nih masalah uang ya. Gw sama kaya wikit, all in one bowl. Semua penghasilan jadi satu, setiap pengeluaran rumah tangga (kebutuhan rumah, tabungan, investasi, dana pendidikan, dll.) direncanain bareng-bareng. Kalo mo belanja pribadi ya saling tau aja, kadang bilang kadang ngga (kalo yang nilainya ga terlalu ngaruh ke cashflow). Kalo mau ngasi ke keluarga juga saling tau dan dibicarain bersama. Kebiasaan ini udah diterapin dari mulai pacaran pas sama2 mulai berpenghasilan. Jadi uang buat pernikahan juga ditanggung sama-sama. Dari awal bareng udah commit juga bahwa uang ga akan pernah dijadiin masalah dalam hubungan. Pokoknya mau lebih atau kurang dinikmati bersama..

  4. Hehehee, kalo gue sih yang penting sama sama jujur. Tapi selama setahun lebih nikah, suami selalu ngasih semuanya ke gue buat diatur, walaupun 2 hari kemudian pasti gue transfer balik buat ‘jatah’ bulanan suami hehehee.. dan uang gue hasil kerja freelance? buat ditabung dan dana darurat :D.. ya mirip-mirip sama SunShine lah kalo mau belanja buat keperluan pribadi, tau sama tau ;)

  5. Sangat setuju dengan masalah finansial yang harus dibahas di awal kalau bisa sebelum menikah supaya tidak menimbulkan “tention” pas sudah menikah. Saya juga mirip2 dengan sunshine semua di gabung trus saya atur kebutuhannya masing2. Bahkan tiap bulan saya bikin perinciannya pake excell pemasukan dan pengeluarannya, di print trus di taro di folder supaya transparant jadi jelas buat apa saja dan ga tiba2 heran uangnya kemana aja :)

  6. tadinya gw gengsi juga ya minta uang saku buat keperluan pribadi, tapi nglirik ipar2x pada “dimanjain” suami jadi pengen juga heuheuheu… Tapi klo utk kebutuhan keluarga dan sekolah kami masih lakukan bersama terbuka dg setor ke rekening rumah tangga bersama tp suami gw lebih rajin klo ada sisa lebih dari gaji atau bonus dia masukin ke rekening itu jadi lebih banyak dia sie yg menopang keluarga kecil kita. Utk hal yg besar dan penting seperti investasi dengan nilai yang cukup besar, rumah dan mobil sampai liburan keluarga, gw dan suami saling konsultasi dan pakai sistem patungan dg sama besar.

  7. @wikit, Sunshine, sazqueen, elvyani, aanpinkie, sepatukaca: Hebat ih bisa jadi manajer keuangan yang andal ;) Gue sebenernya pengen terapin konsep all in bowl atau pake rekening rumtang. Tapi setelah ditimbang-timbang dan mengingat gue itu pemalas, jadi pilih yang praktis aja. Apalagi untuk urusan duit, laki gue lebih primpen dan teratur dibanding gue, hehehe..

Post Comment