IMG01926-20120208-0958

Tinggal Sepagar Dengan Mertua

Salah satu yang membuat saya mempertimbangkan untuk mau menikah dengan suami saya adalah karena dia satu-satunya anak laki-laki di keluarganya yang sudah ditinggal ayahnya ketika masih berusia 6 tahun. Saat ini rumah yang ditinggali keluarganya adalah rumah yang dibangun dari hasil kerja kerasnya. Dia merenovasi rumah ibunya dan membangun “bachelor pad” untuknya di dalam halaman rumah keluarganya. Saya merasa salut dan berpikir, laki-laki yang mau mengurusi ibunya pasti akan bisa mengurus istrinya juga. Saya tahu mereka tinggal di Depok, lokasi yang cukup jauh dari tempat saya terbiasa hidup yaitu di Kebayoran Baru. Kami sempat membicarakan bahwa setelah menikah saya akan tinggal di Depok karena dia tidak mungkin membiarkan ibunya tinggal sendirian. Dari situ semuanya dimulai dengan niat baik dan nekat :)

Setelah menikah saya berhasil “membujuk” suami untuk tetap tinggal di rumah keluarga saya dengan alasan tempat kerja kami sangat dekat dari situ dan orangtua saya belum membolehkan untuk langsung pindah. Hal ini berlangsung sampai putri saya yang pertama lahir dan berusia 40hari (sekitar hampir 1 tahun dari waktu kami menikah). Begitu selesai pengajian, truk pengangkut sudah siap di pagar untuk mengangkat barang-barang kami. Tidak ada alasan bagi saya untuk menunda lagi, memang daerah Depok udaranya lebih bagus untuk bayi dan suami ingin tinggal di rumah yang sudah dibangunnya sendiri sehingga tidak harus membiayai dua tempat tinggal. Saya harus menghargai keputusannya dan memulai hidup kami berkeluarga di rumah sendiri, tapi sepagar dengan mertua.


Masa-masa beradaptasi tinggal satu pagar dengan mertua pun dimulai. Jarak rumah kami hanya beberapa meter saja terpisah oleh tangga naik ke atas apabila mau ke dapur tempat memasak/keluar ke garasi. Terpisah atap tetapi tetap dalam satu pagar. Karena pada saat pindah saya masih dalam masa cuti melahirkan maka setiap hari pasti kami berinteraksi, paling tidak ketika pagi-pagi “menjemur” bayi di halaman. Terus terang awalnya saya masih merasa agak canggung karena bagaimanapun kami tidak terlalu akrab sebelumnya dan tidak mengenal kebiasaan masing-masing.

Lika-likunya mungkin ketika sudah kembali bekerja otomatis waktu di luar rumah sangat panjang ditambah dengan perjalanan pulang yang jauh. Ketika sampai di rumah muka saya sudah tidak karuan dan rasanya ingin langsung mandi, menyusui, dan tidur saja. Hal ini sempat membuat beliau mengira saya kenapa-kenapa. Padahal saya hanya capek dan ingin dibiarkan sendiri. Sulit juga mau mengatur muka “ceria” selalu. Kalau ada apa-apa pasti beliau bilang ke suami dan awalnya urusan rumah tangga seperti berbelanja, gaji pembantu, dll masih diatur beliau namun lambat laun semuanya saya yang mengatur. Saya cukup beruntung tidak mempunyai mertua yang terlalu “demanding” dan membiarkan saya tanpa terlalu banyak ikut campur. Beliau tidak terlalu memanjakan anak-anak saya seperti ibu saya sendiri yang kadang sangat susah untuk diberitahu(lho ini beda topik ya hehe), tetapi karena ibu sendiri mungkin saya masih lebih merasa “cuek” untuk menegur, hehehe.

Memang butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan dan beradaptasi, sebagai yang muda harus berusaha mengerti (walaupun kadang merasa kesal dan ego beraksi :) Dalam hati pasti ingin juga tinggal sendiri di rumah dan tanah yang benar-benar milik sendiri, tetapi untuk sekarang rasanya hidup nomaden dengan Senin-Jumat di Depok kemudian Sabtu-Minggu ke Kebayoran harus dijalani dengan lapang dada.

*gambar dari film Monster in Law

Teringat cerita teman-teman yang tinggal satu atap di pondok mertua indah (as they call it) dan mempunyai hubungan yang kurang baik karena mertua yang selalu ikut campur dengan segala urusan. Apalagi kalau sudah urusan anak, sepertinya sebagai ibu pasti kita langsung defensif membela diri. Ada juga yang walaupun tidak serumah tetapi selalu saya “diributin” dengan urusan mertua. Kalau sudah begini sebagai menantu kebanyakan makan hati, syukur-syukur kalau sang suami bisa menenangkan hati istrinya apabila tidak berhasil bicara dengan sang ibu. Karena bagaimanapun itu adalah ibunya jadi pasti harus dimaklumi. Semoga mommies akur dengan mertua masing-masing, ya ;)


26 Comments - Write a Comment

  1. pasang muka ceria itu yang susah ketika kita sudah butek melewati macetnya Jakarta, alasan apapun paling susah dipahami oleh para orang tua kita, karena mungkin zamannya mereka kota tidak semacet ini ya. sama, gw pun merasakan demikian, dikira oleh mertua gw lagi bete ngeliat mertua di rumah :(

  2. Mirip…kalo aku pagarnya beda, tapi dindingnya nempel..he2..
    sampe usia pernikahan 5 thn dan anak saya umur 1thn, rumah kami masih nempel..

    keuntungannya : hati tentram meninggalkan anak dijaga oleh eyangnya, kalo ada apa2 mertua siap membantu kapan saja, termasuk mengantar ke dokter kalo suami lg berhalangan
    kekurangan : dikit2 ngecek ke rumah, pa lagi kalo anak nangisnya kenceng bgt, pd heboh datengin ke rumah, jd privacynya berkurang aja…pdhl kita kan bs jg diemin anak…

    Pingin pindah n cari rumah agak jauh kok kayaknya berat, mertua keberatan bgt kita niat mo beli rumah,,,baru niat padahal..ha2…

  3. Gue pernah tinggal sama mertua selama 3 tahun. Dan meski dulu stres tiap hari, skrg gue bisa metik hikmahnya. Mungkin kalo gue gak tinggal bareng mertua, sampe sekarang gue tetep gak bisa masak, manja dan hidup seenaknya kali ya. Trus punya mertua yang (boleh dibilang) difficult person itu justru memotivasi gue untuk doing my best in everything. Buat bukti aja kalo I’m worth it *kompetitip bok :D* Mungkin kalo mertua gue lembut hati, easy to handle dan santai kayak nyokap, gue gak bakal jadi se-rabid mom sekarang ya, hihihi..

    Oh ya setuju sama Fang di atas, satu hal yang paling positif tentang tinggal bareng mertua adalah urusan anak. Meski ada pengasuhnya, gue gak terlalu khawatir karena anak gue diawasi juga sama mertua. Jadi pengasuh anak pun gak berani macem-macem kan :)

    Sekarang gue tinggal masih sekomplek sama mertua. Win win solution sih. Udah pisah rumah jadi nggak harus berinteraksi tiap hari. Tapi anak gue dan pengasuhnya masih bisa diawasi beliau :)

  4. Setuju sama irasistible & flang di atas, mendingan coba dinikmatin aja keuntungannya daripada kekurangannya. Abis sampe sekarang blom ada pilihan lain mau gimana lagi hehe Lagian sekarang jadi mikir ntr kalo udh tua trs sendirian gimana yah (hormon hamil talking nih jadi mellow)*sambil usap2 perut dan berdoa nanti punya menantu2 yg sayang sama mertuanya. Jauh yaa mikirnya :)

  5. saya sih ga tinggal sama mertua, tapi tinggal sama ortu sendiri karena sebelumnya suami kerja di luar Jawa. Ga bisa ngebayangin gimana klo tinggal ama mertua, krn keluarga suami berbeda sekali dengan keluarga saya. Paling lama tinggal dirumah mertua sekitar 2minggu an, sering disindir karena sering jajan diluar (ga cocok sama masakan mertua) :D

Post Comment