Dear Husband…

Pria dan seks tidak bisa dipisahkan. Sejak zaman ABG, saya sudah menyadarinya. Meski dulu bersama mantan tidak pernah melakukan seks pranikah (*uhuk* *pencitraan*), tapi saya tahu betapa pria sangat menyukai segala hal yang berhubungan dengan bercinta, atau setidaknya ‘usaha-usaha’ ke arah ‘situ’ :p

Setelah menikah dan punya bayi, kesukaan pria—dalam hal ini suami—pada seks sepertinya tidak berkurang. Meski di satu sisi bersyukur (artinya di mata suami saya masih menarik, dong?), tapi suami sepertinya menganggap saya pun tetap sama bersemangatnya untuk urusan ranjang. Well, you’ve got me wrong, beibeh :D

Acakadulnya hormon di tubuh, kelelahan mengurus newborn, sedikit-banyak membawa perubahan. Saya termasuk beruntung karena bisa blak-blakan urusan seks ke suami. Tapi saya tahu, di luar sana ada banyaaak istri yang belum berani berkata jujur—dan (sayangnya) memilih untuk berpura-pura enjoy selama bercinta hanya agar suami senang.

So, buat para suami (terutama yang lagi bersemangat karena masa nifas istrinya segera/telah berakhir), monggo diingat-ingat ‘surat’ saya berikut—dan ya, ini berlaku universal, bukan curhatan pribadi semata. Bukan begitu Mommies? :D

Dear husband…

  • Usapan lembut di leher dan paha sudah tidak mempan untuk membuat kami turn on. Tapi melihat kalian mau memandikan dan menyuapi anak (meski lelah sepulang ngantor) hanya supaya kami bisa istirahat, itu bikin turn on!
  • Selama masa menyusui, please tidak ‘bermain’ di daerah payudara. Pertama, payudara kami tidak nyaman karena penuh ASI. Kedua, membayangkan sebelumnya payudara diisap bayi yang innocent lalu sekarang kalian mau menggunakannya sebagai objek erotis, it just feels…weird.
  • Tidak sabar menunggu bayi tidur agar bisa bercinta, sih, boleh saja. Tapi, bukan berarti hanya selang 5 detik setelah bayi tertidur, kami langsung dicumbu! Just take it slow….
  • Membujuk untuk tetap meneruskan ‘aksi’ (dengan alasan ‘tanggung’) saat bayi terbangun menangis akan membuat kami merasa bersalah. Betul, gerakan kami mungkin akan lebih hot dan liar, tapi itu kami lakukan hanya agar kalian cepat ‘selesai’. Sebagai ibu, sudah naluri kami untuk segera menenangkan bayi.
  • Jika kami ketiduran saat menyusui, please jangan dibangunkan. Ketiduran merupakan tanda bahwa kami sudah sangat kelelahan mengurus rumah dan bayi.
  • Maaf jika selama masa menyusui, gairah kami untuk bercinta seolah meredup. Mungkin terdengar konyol, tapi menyusui memberi efek yang sama menenangkannya dengan orgasme. Bayangkan jika kami menyusui tiap 2-3 jam sekali ….
  • Dan terakhir, for God’s sake, jangan pernah mengeluh kurang tidur sebagai alasan kalian langsung terlelap setelah bercinta. Serius. Jika kalian belum pernah merasakan bangun 3-5x sepanjang malam untuk menyusui, please jangan mengeluh kurang tidur. That’s really inappropriate.

With love,
Persatuan istri yang lelah mengurus newborn

*gambar dari sini