The Hubby, The BFF

Saya pernah tweet ini: “Meet @tedwahyu, my other girlfriend. We gossip & watch The Vampire Diaries together.” FYI, @tedwahyu adalah suami saya, dan ya, saya menyebut dia ‘girlfriend’.

Hubungan kami tidak diawali dengan proses pertemanan dulu. Noooo, dari awal si suami memang niatnya mendekati saya bukan untuk dijadikan teman, tapi untuk dijadikan pacar, lalu kami menikah. Itu lebih dari 11 tahun yang lalu. But somewhere along the way we became friends. Dan menurut saya ini bukan hal yang buruk. Maksudnya, ada kan yang bilang dalam suatu hubungan pasangan sudah terlalu nyaman dan ‘sparks’-nya hilang, maka itu menjadi titik jenuh hubungan mereka. Tidak begitu untuk saya. Hubungan kami yang seperti teman membuat kami merasa nyaman sekali, sehingga kami bisa benar-benar menjadi diri sendiri. Hubungan kami jadi santai banget, tidak ada tekanan atau pengharapan untuk menjadi yang paling sempurna.

 

Kepada suami yang sahabat saya ini saya bisa bercerita apa saja, mengeluarkan isi kepala saya yang terkadang absurd atau yang tidak bisa saya katakan ke orang lain. Suami juga bercerita apa saja tentang pekerjaannya, saya tidak selalu mengerti, tapi terkadang yang dibutuhkan seseorang hanya untuk didengar bukan? Kami ngobrol nggak jelas, juga gosip ngomongin orang. Layaknya dua sahabat perempuan ….

Terkadang di akhir minggu kami jalan-jalan ke mal berdua saja, tanpa anak-anak. Nonton film, makan, atau window shopping. Ya, kami senang lihat-lihat baju dan sepatu, kalau sudah gajian baru dibeli … seperti sahabat, kan? Kalau bertemu teman dan mendapat komentar, “ Kok nggak sama anak-anak?” maka akan kami jawab, “Kenapa harus selalu sama anak-anak?” Kami punya waktu yang sangat cukup kok bersama anak-anak, jadi nggak ada salahnya, kan, menyisihkan waktu untuk berdua saja. Bukankah pola pengasuhan juga terbentuk dari baik-buruknya hubungan suami istri? Jadi menurut saya penting banget untuk menjaga hubungan suami istri dengan hal-hal sederhana. Little things do count.

Tapi tentunya kami tidak selalu berduaan kemana-mana. We’re our own person. Saya dengan kesukaan dan kebiasaan saya, begitu juga dengan suami. Dia membiarkan saya menjadi saya, seperti saya membiarkan dia tetap melakukan segala hal yang dia suka, seperti mengejar tim sepak bola kecintaannya sampai ke negeri tetangga. Sesekali dia juga akan membiarkan saya pergi keluar kota dengan sahabat saya yang perempuan sungguhan .. haha. Kami menyebutnya “mommy vacation” dan dia siap memberi pembelaan kalau ada yang memberikan komentar negatif tentang mommy vacation saya. Dia akan bilang, menjadi orangtua bukan “one man show” jadi nggak ada salahnya sesekali Bunda liburan sendiri, masih ada Ayah yang mengurus anak di rumah. And I love him even more for this.

Saya bukan pakar tentang hubungan suami istri. Saya hanya tahu pasti kalau saya merasa nyaman sekali dengan hubungan saya dan suami selama lebih dari 11 tahun ini. Jadi, sekarang saya akan berhenti mengetik, karena si sahabat sudah menunggu saya, kami ada jadwal chick flick marathon.

 


19 Comments - Write a Comment

  1. Eh, kaki Teddy ga beda jauh sama lo, ya, Puan *salah fokus*
    Gue pun merasakan hal yang sama … tahun ini tahun ke-13 gue sama Febri sama-sama dan kami merasa semakin nyaman sama apa yang dijalani. Langgeng terus, ya, Bunpu dan PakTed.

  2. Gue justru mengawalinya dari sahabatan sama suami gue. Temen kerja, tim bikin program tv, nongkrong editing, mbandel2 juga, jadi pas pacaran dan nikah, we’re far from romantic thingy. Pacaran aja jarang bener pigi beduaan, seringnya ya gabung rame2 sama temen2 nongkrong. Kalo sekarang setelah menikah, nggak banyak berubah sih, cuma suami gue ga bakal mau diajakin nonton chickflick :p

  3. @Manda: berati kaki Teddy yang kecil atau kaki gue yang gede? *tetep salah fokus* Aaaaamiiin… terima kasih yaaaa :)

    @Lita: Suami gue lagaknya gak mau ntn chickflick, tp kl gue nonton nanti dia melipir2 ikutan duduk & nonton, sama hal-nya soal serial TV termasuk si Vampire Diaries itu. Hehehe… Cuma Twilight aja yang dia kapok gak mau ikut nonton lagi. :p

  4. cengar cengir baca tulisan ini ;) meski hubungan saya dan suami baru berlangsung sekitar 6 tahun (5 tahun pacaran, 1 tahun menikah) tapi sependapat sama mbak Puan, suami adalah BFF! saya dan suami selalu punya ‘our quality time’ yang menyenangkan, bahkan setelah punya baby. kesamaan kami nonton star world, fox, fox crime. serialnya? sebut saja Glee (biasanya laki2 ogah bener nonton Glee, dia semangat 45 nanyain kapan sih main lagi?), How I Met Your Mother, bahkan kadang dia ketahuan nonton Desperate Housewives! udah gitu, suami adalah partner belanja asik! dia sih gak pernah ngeluh kalau saya keluar masuk dept store dan toko2, termasuk toko pernak-pernik :p

    jadi, setuju banget: suami adalah sahabat sejati, a true BFF! :D

  5. hehehe.. ternyata bukan aku doang yg sering nonton chick flick bareng suami.. dia walo badan besar tapi demen juga komedi2 romantis n selama ini kalo aku seret2 nonton film2 yg “cewe” banget kaya Twilight, SATC, dan sejenisnya ga pernah nolak hehe.. walo aslinya dia enjoy apa kaga mah ga tau ya :D

  6. Sama ama deeth, hubungan suami dan saya baru sekitar 6 tahun (1 tahun pdkt, 4 tahun pacaran, 1 tahun menikah), dan suami adalah BFF! Temen baik sekaligus temen bertengkar juga sih LOL. Saya ngeracunin dia dengan film2 crime (CSI, Mentalist, Sherlock) dan dia ngeracunin saya nonton Twilight!

Post Comment