Hey, I’m not a supermom!

Sebagai ibu yang bekerja dengan jam kerja yang sangat parah, saya merasa mulai terpisahkan dengan Varo. Karena nggak bisa ngajar malam, maka saya harus datang pukul 09.00 supaya memenuhi kuota 8 jam kerja. Selain itu, nggak etislah kalo PJU datang pukul 11.00 lalu pukul 18.00 sudah pulang, hehe. Habis itu masih kuliah dulu sampai pukul 21.00. Senin sampai Jumat begituuu terus. Sabtu lumayan “lega” karena bisa datang pukul 22.00 lalu pulang pukul 18.00. Tapi tetep … karena nggak bisa mengajar malam maka saya harus mengganti waktu tersebut setiap hari Minggu karena ada kuota mengajar tiap bulannya. Intinya waktu untuk bersama Varo cuma pukul 06.00-09.00 atau malam kalau dia belum tidur. Huhuhu.


Ternyata berkurangnya frekuensi pertemuan saya dengan Varo menyebabkan berkurang pula tingkat kesabaran saya. Tingkah laku Varo yang dulu saya anggap biasa, sekarang dianggap kenakalan. Misalnya malam hari kalau Varo terbangun, rasanya kesal sekali. Padahal dulu kalau dia malam-malam bangun malahan senang karena bisa sama-sama, langsung, deh, nonton DVD sambil ngemil. Atau kalau saya pulang dia belum tidur, kami bisa bermain bersama. Tapi kalau sampai tengah malam nggak tidur juga, ya, emosi jadinya. Sudah digendong, diayun, dinyanyiin, main game, lihat klip pesawat di internet … tetap nggak ngantuk. Akibatnya, ya, saya ngomel. Kalau melihat ibunya ngomel, Varo pasti langsung nangis. Dasar ibu lagi emosi melihat anak nangis bukannya kasihan malah tambah jengkel. Makin menjadi marahnya. Nada bicara semakin tinggi, mata tambah melotot, bahkan kadang pengen cubit atau mukul saja.

Lalu hal yang paling saya takuti terjadi. Selama ini saya begitu PD merasa bahwa Varo nggak akan “pisah” dari saya. Siapapun yang jaga dia tetap nggak bisa menggantikan saya. Tapi kemudian saya mulai menyadari bahwa 2 minggu ini setiap kali Varo bangun pagi bukan ibu lagi yang dicari tapi Mbak Tian (pengasuhnya). Hal ini kemudian diikuti dengan kegiatan-kegiatan lain … bukan ibu yang diminta menemani, tapi Mbak Tian. Perasaan nggak nyaman dan ketakutan mulai terasa. Akhirnya saya pun introspeksi diri.

Oke, saya bekerja, kuliah, beraktivitas dengan tujuan membahagiakan Varo, umi, meringankan sedikit beban suami. Setidaknya untuk modal usaha nggak perlu minta suami lagi. Jadi kalau saya sering meninggalkan Varo, ya, nggak apa-apa dong. Toh kalo saya di rumah pasti saya main berdua bareng Varo. Toh kita tidur masih berdua. Toh kalau Varo saya marahi ya buat kebaikan dia juga. Hati saya tenang tapi otak saya mencibir sambil menyadarkan saya bahwa itu semua cuma JUSTIFIKASI!

Kenyataannya memang saya jarang banget di rumah, saya jarang banget punya waktu buat Varo, kalaupun ada kita pasti sibuk masing-masing. Saya pasti buka komputer sambil internetan untuk lihat barang, buka FB, dll sedangkan Varo sibuk mainin mobil-mobilannya sendiri. Sambil ngelonin Varo pun saya nggak lepas dari hal lain. Tangan kanan pok-pok, tapi yang kiri tetap pegang HP untuk balas SMS yang belum sempat saya balas. Kalau saya marah sama Varo pun pasti untuk kepentingan saya juga. Jangan bangun tengah malem atau jangan tidur malam-malam karena ibu mau istirahat, jangan rewel karena ibu mau kerja. Intinya memang saya yang nggak beres T___T

Duh, ternyata hal yang saya lakukan selama ini nggak membantu saya mewujudkan cita-cita. Gimana nantinya mental anak saya kalau setiap hari ditinggal, kalau ketemu lalu bikin salah sedikit saja dimarahi, dibentak, dan jarang sekali disayang batinnya. Bener, deh … Astaghfirullah, ibu macam apa saya ini?!?! Maaf, ya, Nak. Saya pun bertekad untuk berubah. Sudah 2 minggu ini kalau pulang kerja laptop, HP akan tetap di tas sampai Varo tidur. Kalau dia nonton DVD, saya juga nonton. Kalau dia main mobil-mobilan, saya ikut bermain bersamanya. Saat dia melakukan hal-hal “kreatif”, saya benar-benar menahan diri untuk tidak membentak. Kalau memang nggak bisa ditahan, ya, saya memilih untuk ngeloyor pergi. Memberi tahu pun tidak lagi melibatkan emosi. Masih dalam tahap mencoba, mencoba, dan terus mencoba. Satu hal yang saya syukuri: Allah menyadarkan saya sebelum terlambat ….


33 Comments - Write a Comment

  1. hiks, baru kejadian tadi malem…. dengan emosi yg memuncak karena capek pulang kantor dan si sasha rewel banget nangis2 minta sama mbaknya, pdhal mamanya pengen bgt spend time sama dia, dan berlangsung lebih dari setengah jam, ga bisa dibujuk apapun…. keluarlah perkataan “DIAAMM” …dari mulut saya… ingat muka sasha setelah saya teriak … sedih bgt rasanya skrg…
    matanya dia makin berair namun tanpa suara, karena takut…

    Ya Allah…. saya berubah jadi ibu yg galak skrg, semua karena tekanan kantor, capek dijalan dan anak yg maunya sama mbak nya karena jarang sama mamanya…

    *sedang meneteskan air mata di depan laptop di kantor*

Post Comment