I Want a Divorce!

Really?

Dari lingkaran terdekat saya, banyak sekali saya dengar cerita tentang perceraian. Alasannnya macam-macam, mulai dari perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), timpangnya ekonomi, komunikasi yang buruk sampai simple reason, nggak cocok lagi. Yah, memang setiap pasangan pasti ada masalah dan batas toleransi masing-masing. Jadi, saya nggak mau membahas alasannya tersebut.

Berdasarkan beberapa buku atau sumber yang saya baca, angka perceraian terus meningkat dari hari ke hari. Padahal setau saya, generasi kita ini sudah jarang yang dijodohin ya, rata-rata memilih jodohnya sendiri. Apakah berarti hati kita yang salah? Entahlah.

Setelah kata cerai dilontarkan, lalu apa?


Yang pasti mempersiapkan dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan pembatalan pernikahan. Sesudah itu?

Menginventori barang-barang yang akan dijadikan harta gono gini. Rumah yang dibeli dengan uang yang dikumpulkan berdua (pintu kamar mandi rusak jadi kalau mandi nggak bisa tutup pintu, kitchen set dengan warna favorit berdua, kamar si kecil yang masih kosong karena kita ternyata belum siap pisah kamar, dst), mobil yang telah membawa kita kemana-mana termasuk ke rumah sakit saat akan melahirkan si kecil, berbagai bentuk investasi yang biasanya kita kumpulkan dari penghasilan selama sebulan, dan lain sebagainya.

Membereskan barang-barang yang ada di rumah. Termasuk televisi yang remote-nya sering hilang (Oh, dulu sering bikin suami kesal saat ingin nonton sepak bola), lemari pakaian yang pintunya rusak (padahal suami sudah janji mau benerin tuh), pakaian (kebaya pengantin dulu masih bagus, mau dikemanain, ya?), album pernikahan (ini siapa yang mau bawa, jadinya?), foto-foto keluarga penuh tawa (buang fotonya, simpan piguranya?) dan banyak lagi.

Membiasakan si kecil atas ketidakhadiran ayahnya. “Ayah mana, Bu?”, “Aku mau sama Ayah”, “Kok Ayah nggak pulang-pulang”, dsb. Hum, kasih jawaban apa, ya, untuk anak usia 3 tahun?

Membiasakan diri sendiri untuk mengambil keputusan bahkan yang paling remeh sekalipun seperti “Masak apa, ya, hari ini?” teringat akan suami yang nggak doyan pasta atau menu sarapannya yang selalu sama: setangkup roti dan secangkir teh. Hingga saat si kecil suhu tubuhnya 39 derajat, bawa ke dokter apa nggak, ya?

Belum lagi masalah pertanyaan dari orang-orang sekitar. Keluarga atau sahabat pasti akan mengerti, tapi lingkaran lainnya? Teman sepermainan, rekan bisnis, rekan kerja sampai ke hal remeh seperti status di Facebook gimana? Dari ‘married’ lalu menjadi ‘single’. Pasti akan mengundang tanya dari ratusan atau ribuan teman di jejaring sosial tersebut.

Terakhir, siapa yang akan menggugat? Kita? Atau pihak suami? Jika kita yang menggugat … saya hanya bilang, nih, mempersiapkan berkas gugatan cerai itu mudah, tapi mempersiapkan mental kita saat membuat kronologis pernikahan sejak ketemu sampai akhirnya memutuskan berpisah itu berat sekali! Dan PR terbesar adalah menceritakan keputusan untuk berpisah pada orangtua (ya, ini harus, bagi yang muslim, setahu saya salah satu dari orangtua harus menjadi saksi saat sidang perceraian nantinya). Menyaksikan wajah kecewa, kaget, marah, sedih mereka terasa lebih berat daripada menghadapi perceraian itu sendiri.

Seorang sahabat yang pernah bercerita tentang rencananya untuk bercerai bilang saya memiliki empati berlebih (secara saya yang mewek). Saya kemudian mencoba memposisikan jika saya berada dalam posisinya. Kemana perginya cinta, janji sehidup semati yang pernah diucapkan di hadapan ratusan pasang mata saat akad nikah dulu? Bagaimana kehidupan suami pascaperceraian nantinya? Kalau dia sakit, siapa yang menemani, siapa yang melayani kebawelannya minta ini itu kalau sakit?

Perceraian apa pun sebabnya akan menyakitkan. Jika bukan kita yang sakit, maka anak atau bahkan pasangan mungkin merasakan betapa sakitnya berpisah dari orang yang dikasihi. Saya bukan penasehat pernikahan dan juga bukan orang dengan kehidupan pernikahannya sempurna. Tapi saya juga tidak menentang perceraian, jika memang harus karena adanya hal-hal yang tidak bisa ditolerir lagi oleh masing-masing yang terlibat dalam pernikahan tersebut atau jika seandainya sudah sampai ke tahap konsultan pernikahan tapi memang sudah tidak bisa bersatu lagi.

Berpikir untuk pisah, mungkin pernah terbersit di pikiran kita saat lelah atau emosi yang bicara. But then again, do we really want it? Kalau di film Love, Wedding, Marriage (2011), Ava (Mandy Moore) yang berperan sebagai konsultan pernikahan selalu meminta ke pasangan-pasangan yang bermasalah untuk memikirkan kembali alasan mereka menikah. Why don’t we try it?


39 Comments - Write a Comment

  1. Luph it so much!!!
    Bener bgt!
    Klo aku pribadi sie menentang perceraian, no matter what!
    Tak ada mslh yg tak bs dipecahkan, namun tdk dgn bercerai…
    Seandainya butuh wkt u/ berpikir sendiri, better “pisah dulu sementara” u/ bs menjernihkan pikiran…
    Lagipula klo dalam kepercayaanku “Apa yg telah dipersatukan TUHAN tidak dapat diceraikan o/ manusia”
    So… ’till death do us apart…

    Thanks for sharing, Mba Lita :)

    1. nenglita

      Sama-sama, tentu semua pasangan pengennya till death do us apart yaa, cuma harus dimengerti juga sih, batas toleransi setiap orang beda-beda. Walaupun aku pribadi juga sampai saat ini selalu ‘patah hati’ tiap dengar teman yang mau pisah…

  2. sanetya

    Sebagai produk rumah tangga yang tidak utuh *halah* cukup bisa membuat gue membuka mata kalau ada banyak hal yang membuat perceraian memang jalan yang terbaik. Tapi memang keputusan tersebut harus diambil setelah memikirkan banyak hal dan risiko yang timbul setelah perceraian final juga harus dipikirkan. Intinya … ya tidak semudah mengucapkan kata cerai lah.

  3. artikelnya bagus banget !!
    klo gw sering liat infotaiment, kok ya artis cerai gampang bener kya orang putus pas pacaran gitu..tapi pas baca artikel ini jadi makin sadar .. bahwa cerai itu ngga enak dan perlu banyak pertimbangan untuk mengucap kata itu..
    bener kata manda..keputusan tersebut tidak semudah mengucapkannya..

    TFS ya jeng lita :)

  4. Kalo gue liat, sekarang ini kenapa banyak terjadi kasus perceraian lebih karena banyak perempuan yang berani speak up for their own rights. Jadi janda kini nggak lagi tabu atau memalukan. Coba liat 2-3 dekade lalu. Banyak perempuan yang rela bertahan dipukuli setiap hari atau kerja membanting tulang karena suami gak kerja atau makan hati karena suami main perempuan. Semua dilakukan karena takut jadi janda, karena janda (dulu) punya stereotipe negatif di mata masyarakat. Kayak seorang teman gue pernah bilang (she’s a divorcee btw) “Perempuan single itu nilainya 0. Begitu menikah nilainya jadi +1. Tapi begitu bercerai, nilainya bukan kembali ke 0, melainkan ke -1.” My friend said it based on her personal experience being a divorcee :(

    Gue sih nggak menentang perceraian. Tapi ya jangan segitu gampangnya lah memutuskan untuk bercerai cuma karena hal yang remeh temeh. Kalo masih belum punya anak mungkin lebih mudah ya. Cuma tinggal pisah secara legal dan agama, putus semua hubungan, masing-masing go on with their lives, selesai.

    Nah kalo punya anak itu yang ribet. Harus mikirin hak asuh, trus hubungan ke depan gimana with the ex karena meski kita benci setengah mati sm dia, anak kita tetap anaknya kan? Belum lagi peran ganda kita sebagai ibu sekaligus ayah or sebaliknya. Trus nanti kalo kita/mantan menikah lagi, gimana nasib anak kita dan hubungan dengan partner baru kita. Makanya sesuai inti tulisan ini, think carefully before you decide to get a divorce. Apakah penyebabnya adalah hal yang prinsip kayak KDRT, selingkuh, etc? If not, go to marriage councelor deh, atau ngobrol sama orang terdekat yang kira-kira bisa netral dan kasih pendapat yang objektif.

    1 more thing, kalo emang beneran udah mantap bercerai, Bismillah aja dan just do it. But please, don’t do anything stupid that may cause more damage to your relationship with your ex-husband-or-wife-to-be. Kayak memamerkan pacar baru untuk balas dendam karena istri selingkuh padahal gugat cerai aja belum, menjelek-jelekkan suami di social media, mengindoktrinasi anak dengan sudut pandang negatif tentang ibunya, etc. Hormati dia sebagai orang yang pernah mengisi hati dan hari-hari kita dulu. Hormati ortu, sodara dan teman-temannya sebagaimana yang kita kenal dulu. Hormati anak kita karena biar bagaimanapun, he/she’s our children’s father.mother, right?

    *maap panjang bener, abis topiknya menarik banget sih*

    1. nenglita

      “Perempuan single itu nilainya 0. Begitu menikah nilainya jadi +1. Tapi begitu bercerai, nilainya bukan kembali ke 0, melainkan ke -1.”
      Iya, temen saya yg juga seorang janda juga malah ada yang sampe disamperin satpam kerumahnya pas dilihat ada tamu laki2 datang, padahal itu temaaan :(

      Tapi beneran, sebelum mengucapkan kalimat ini harus benar2 dipikirin SEMUANYA, sampai hal terkecil pun. Karena ketika sudah diucapkan, bisa sih ditarik lagi, cumaaaaa pasti akan ada hal2 yang berubah setelah itu..

  5. nice topic, lit…

    kalo bicara perceraian, yang terlintas diotak gw adalah gmn dengan anak2nya? bukankah anak lahir dari hasil cinta ayah-bundanya? kalo ternyata ayah-bundanya memutuskan untuk bercerai, gak kebayang deh perasaan anak2 mereka.

    kadang anak2 salah mengartikan perpisahan orang tuanya. hal ini gw dpt dari seorang keponakan gw; anaknya salah seorang dari sepupu gw; yang ayah-bundanya memutuskan untuk berpisah. di benaknya, ayah/ibunya pisah karena dia nakal. yang ada keponakan gw itu jadinya selalu berusaha untuk menarik perhatian orang lain. belum lagi waktu sepupu gw itu punya pasangan baru. yang ada seakan-akan dia merasa orang itu merampas ibunya dari dia.

    makanya saya setuju banget sama komentar mbak irasistible diatas, bahwa sebelum memutuskan untuk bercerai, ada baiknya kita memikirkan perasaan orang-orang disekitar kita, terutama anak. begitu kan ya, mbak, intinya? :)

  6. Another good article nenglita. Gw selama ini heran sama satau saudara yg nggak juga ngurus cerai padahal dari banyak faktor gw ngeliatnya udah nggak ada gunanya diterusin. Udah pisah rumah sekian tahun, udah nggak dikasih nafkah apa2, udah nggak ada komunikasi sama sekali, harta bersama juga bisa dibilang nggak ada dll. Tapi dengan baca artikel ini gw jadi nyadar, mungkin memang nggak sesimple yg gw liat untuk memutuskan cerai ya…

    1. nenglita

      Iya, mungkin kalo situasinya udah begitu masing2 dalam pasangan tersebut udah bener2 nothing too lose ya. Males mikir masalah gugat2an, padahal kondisi ‘gantung’ gitu juga ga baik untuk semuanya. Baik suami, istri bahkan anak2…

  7. hm… kalo suami ke luar kota aja atau kerja di luar kota kita pasti sudah merasa repot ya sendirian ngurus rumah, apalagi kalo cerai… kalo pas pompa air rusak, rumah kebanjiran… gubrak! :(. sebagai anak yang berasal dari keluarga yang gak utuh juga, zaman sekolah dulu sempat merasa malu/ minder karena lihat kok teman2 ylain keluarganya harmonis, bapak ibunya masih rukun damai bahagia sejahtera hidup bersama, hehe… Jadi berusaha menutupi, ga berani ngaku jujur. Kalo ada teman ke rumah, tanya bapaknya di mana, bilangnya lagi pergi, hehehe… Apapun bentuknya, perceraian pastilah berpengaruh pada anak2, deh.
    Aduh… amit-amit jabang bayi… mari ibu2, kita sama2 menjaga dan berdoa biar kelurga kita senantiasa utuh dan bahagia sampai kaki nini, yaaa…

  8. Melihat banyak urusan yang harus ditangani belum biaya pengacara tentunya bisa bikin niat cerai (waduh, cerai diniatin) itu mandeg yah….tetapi, terkadang memang ada hal2 yang sulit dijelaskan…KDRT tidak selalu dalam bentuk fisik…non-verbal macam macam perendahan diri, tidak ada nya penghormatan dari salah satu pihak, itu juga membuat frustasi….dan seringkali keluarga yang gak tahu apa-apa juga gk mungkin bisa memberikan saksi…

    mungkin sebelum niat bener2 untuk mengucapkan I Want a Divorce, kita lihat lagi mimpi kita tadinya apa…tanya sama suami/istri..kalo jawabnnya lempeng aja…ya mungkin emang divorce jalan terbaik…

    1. nenglita

      Betul, KDRT memang bukan hanya fisik. Kemaren di twitter sempat ada yang bahas tentang ini juga.
      Kalau masalah saksi, perceraian yang tanpa ‘masalah’ pun, setau gue harus tetap ada saksinya ketika di Pengadilan Agama.

      Dan setuju, sebelum mengucapkan kata2 tersebut, harus dipikirkan bolak balik secara matang dan komunikasi jika memang keputusan ini yang akan dijalankan harus mantep dua2nya.

  9. saya tidak menentang peceraian, tapi ga setuju juga kalo “begitu mudahnya bercerai”, pengalaman saya hidup di lingkungan pekerjaan yang menangani orang-orang bercerai, rata-rata mereka datang ke kantor kami karena masalah mereka memang sudah berat dan susah untuk menyatukan mereka kembali. berat yang saya maksud, mereka datang dalam kondisi sudah tidak tinggal bersama selama beberapa waktu (bahkan beberapa tahun), atau kondisi yang membahayakan seperti suami atau istri yang sangat ringan tangan (apa??? istri??? iya, bahkan KDRT saat ini banyak pula suami yang menjadi korban), dan sebab lain yang terlalu panjang kalo dibahas disini, hehehehe
    saat ini saya menikah (masih baruuu banget, baru 4 taon) dan merasakan sendiri betapa tidak mudahnya memelihara pernikahan, apalagi selama ini kami selalu long distance (belom pernah bener2 tinggal serumah). tapi kembali kepada komitmen, janji kita kepada Allah (mitsaqon gholidon), janji kita kepada keluarga dan keinginan kita untuk terus bersama agar pernikahan ini bisa terus langgeng.

Post Comment