Saudari Impian

Sewaktu kecil kami sering berpindah kota mengikuti daerah tugas papa. Sebagai anak perempuan satu-satunya dengan dua saudara laki-laki, ditambah dengan kondisi saya sebagai anak baru pindah yang sangat pemalu, maka waktu itu saya sangat kesepian dan ingin punya saudara perempuan yang bisa diajak bicara “rahasia-rahasian”. Pasti asyik sekali kalau punya saudari yang mengerti banget saya banget.

Sore sepulang sekolah, saya suka mengintip anak-anak di luar kompleks perumahan kami dari jendela kamar saya yang kebetulan berada di lantai dua rumah kami waktu itu. Rasanya iri sekali melihat kumpulan kakak beradik yang sedang main lompat karet, masak-masakan ataupun sekolah-sekolahan, sedangkan saya harus main sendirian di rumah karena kedua saudara laki-laki saya jelas tidak tertarik main “mainan perempuan”.

Impian terpendam itu semakin dalam ketika semasa kuliah jauh dari keluarga, saya menyaksikan anak kerabat kami yang dua bersaudara perempuan. Mereka jarak usianya hanya dua tahun dan wajahnya pun mirip jadi seperti anak kembar. Saya kagum sekali melihat mereka tumbuh karena ayah ibunya mendidik mereka dengan sangat baik sehingga mereka juga sangat dekat dan saling melengkapi bahkan sampai sekarang walaupun sudah masuk usia SMA. Saya jadi ingin punya dua anak perempuan seperti mereka.

Setelah menikah, secara otomatis yang saya idamkan adalah anak perempuan. Walaupun pada umumnya orang Asia ingin punya anak pertama laki-laki, saya tidak. Saya ingin sekali punya anak perempuan karena anak ini akan menjadi pengganti saudari bagi saya. Wah ternyata doa saya sejak kecil dikabulkan. Anak pertama saya seorang perempuan mungil yang cantik. Saat lelah mengurus anak pertama, saya sering iri mendengar banyak teman yang bisa minta bantuan saudara perempuannya untuk gantian mengurus anaknya supaya bisa istirahat sebentar. Aih, jadi makin menjadilah keinginan saya memberi adik perempuan untuk anak pertama saya.

Selang waktu dua setengah tahun, saya hamil lagi. Di-USG waktu usia kehamilan empat bulan, kata dokter anaknya laki-laki. Suami saya senang, karena dia ingin mengajarkan kendo ke anaknya. Kalau perempuan, kan, gak mungkin, ya? Eh, ternyata hasil USG-nya salah. Pas enam bulan kami USG lagi baru terlihat kalau anaknya perempuan. Wah, saya girang sekali. Saya akhirnya benar-benar punya sepasang anak perempuan yang lucu dan cantik.

Hanami dan Kimiko, kedua putri saya tersayang

 

Ya, anak-anak perempuan saya adalah milik saya yang paling berharga. Walaupun sering berantem dan kadang-kadang membuat saya pusing, saya sangat bangga dan bahagia memiliki mereka berdua. Saya temukan dalam diri mereka kriteria-kriteria saudari impian saya. Harapan saya cuma satu, kelak mereka bisa saling mendukung dan melengkapi bahkan ketika kami orangtuanya sudah tiada. Amin.


5 Comments - Write a Comment

  1. Nice story!
    Gue juga merasa beruntung punya saudara perempuan, dan herannya nggak pernah merindukan sosok kakak laki2 (mungkin yang satu ini terlampiaskan -halah bahasanya- dengan memiliki banyak sahabat dekat yang laki2 sih). Mengutip dari blog my very best friend a.k.a kakak gue:
    A sister is a gift to the heart, a friend to the spirit, a golden thread to the meaning of life. ~Isadora James

    peluk cium untuk 2 anak perempuanmu yaa :*

  2. Lita, beruntung banget kamu punya saudara perempuan. Aku dan mamaku sama2 gak punya saudara cewek, saudara2 kami cowok semua. Untung anakku kakak beradik perempuan, jadi mudah2an mereka bisa saling membantu nantinya. Salam untuk si cantik Langit… ;)

Post Comment