Mendokumentasikan Foto

Abis liburan akhir tahun, koleksi foto pasti bertambah banyak, dong. Apalagi kalau sempat jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri. Niat mulia, sih, ingin mencetak foto dan menyusunnya di album—bahkan tercetus keinginan membuat scrapbook segala. Tapi yaaa … seringnya niat hanya tinggal niat. Setelah balik ke rutinitas sehari-hari, boro-boro kepikiran scrapbook. Paling banter, foto hanya menghias Facebook atau buat gonta-ganti profpic BB :D

Kalau saya, biar nggak tercecer, sengaja bikin satu blog khusus yang berisi foto jalan-jalan. Meski ‘judulnya’ blog traveling, jangan harap isinya informatif (misalnya ada rincian biaya, rute menuju satu tempat, dll). Soalnya, tujuan utama blog ini memang semata buat backup foto, jaga-jaga seandainya file aslinya hilang. Makanya, teman yang ngintip blog saya suka sebal, karena isinya nggak penting—hanya foto-foto narsis saya, suami, dan anak-anak :D

Selain mendokumentasikan foto liburan ke blog, belakangan saya lagi suka membuat video klip dari foto-foto yang ada. Pernah coba bikin pakai Windows Movie Maker, tapi menurut saya agak menghabiskan waktu. Soalnya untuk kasih efek di tiap transisi foto masih harus dikerjakan secara manual.

Sempat juga mengunduh beberapa aplikasi via internet, tapi nggak ada yang hasilnya memuaskan. Sampai akhirnya saya menemukan aplikasi membuat slide show dari TripAdvisor—tahu, dong, situs yang sering jadi referensi buat traveling ini….

Coba bikin sekali, saya langsung ngerasa sreg. Gampang banget, sih. Yang paling penting: nggak butuh waktu lama dan … GRATIS! Tugas kita hanya mengunggah foto, pilih tema, tulis nama kita, lokasi liburan, pilih musik, langsung, deh, video klip jadi hanya dalam hitungan detik! (eh, ini tergantung koneksi ya … kalau internetnya lelet mungkin perlu beberapa menit lebih lama) :D

Kelebihan aplikasi ini:

  • User friendly. Saya yang gaptek saja bisa mengerti dengan mudah :D
  • Ada pilihan menu bahasa Indonesia—tapi kalau saya, sih, lebih suka versi bahasa Inggris.
  • Pilihan temanya bervariasi (ada belasan) dan bisa dicocokkan dengan kegiatan liburan kita, misalnya ke pantai, backpacking, atau lainnya.
  • Secara otomatis video klip akan dilengkapi peta, sehingga foto-foto kita seolah jadi bagian dari travel TV show gitu.

Kekurangan aplikasi ini:

  • Untuk bisa mengunduh, kita mesti publish dulu video klip yang kita buat—via Facebook, Twitter, blog, atau e-mail—dan video klip mesti dilihat oleh minimal 10 orang. Baru, deh, bisa kita save ke komputer.
  • Di versi publish, secara otomatis muncul tulisan ‘comment bellow’ di akhir video klip. Kesannya minta dikomentarin banget—untung di versi asli, tulisan tersebut nggak muncul lagi.
  • Di sepanjang video klip, ada watermark logo TripAdvisor di bagian kiri bawah. Tapi bagi saya pribadi, logo ini, sih, nggak terlalu menganggu, justru bikin video klip terlihat lebih keren :D

 

Contoh video klip yang saya buat, bisa dilihat di sini. Gimana? Lumayan keren, kan, jadinya? :D

Selamat berkreasi, Mommies!

 

*Diceritakan oleh Amelia Yustiana (@amel_oh_amel), ibu dari Rakata dan Ranaka.

 


10 Comments - Write a Comment

    1. masa sih Lit? jadi klik ‘music’ di bagian customize, trus pilih lagu dari file di komputer.. nah, biasanya abis itu ada tulisan kalo lagunya dilindungi hak cipta dan lo harus pilih lagu lain… tapi nanti lagu yang tadi diupload tuh tetep masuk ke daftar pilihan music kok… eh, bingung sendiri gw baca penjelasan barusan :D

  1. mell, sony vegas juga boleh dicoba lho, di kantor gw sih biasanya buat bikin showreel program, tapi ini ga tertutup buat itu (video programs) aja sih, dan ini buat pribadi maksudnya ga perlu menggunakan jasa internet, cukup download atau beli softwarenya. banyak aplikasi tambahannya juga, misal font atau efek2 seru lainnya. yang pasti sih gampang makenya, just drag and drop. maaf ya info nggak lengkap2 amat nggak ada link ke sony vegasnya atau version yang mana yang lebih oke hehehehe, soalnya yang ngajarin gw di kantor udah resign ! ;D
    semoga sedikit membantu yaaa!

Post Comment