Cara Lain Cintai Batik

Sudah pada tahu dong, kalau pada 2 Oktober 2009 UNESCO telah mengakui bahwa batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia? Sejak tanggal itu pulalah, masyarakat Indonesia seperti berlomba-lomba memakai batik. Tak hanya ke pernikahan atau situasi resmi lainnya, batik mulai dipakai kemana pun, mulai dari orang dewasa sampai anak-anak.

Rizka, salah satu crew Fashionesedaily, adalah cucu dari salah satu perajin batik Lasem senior. Dia pernah bercerita bahwa semakin ke sini, jumlah perajin batik di desanya semakin menurun. Para pemudanya memilih untuk bekerja di kota atau kantoran. Kalau hal ini terus berlanjut, bukan nggak mungkin batik yang kita banggakan akan punah. Karena itu, sudah pasti tugas kitalah untuk melestarikan batik ke anak cucu kita (kok berasa tua, ya, ngomongin cucu, hehehe). Mungkin kita nggak bisa jadi perajin batik, tapi kalau para ibu, nih, biasanya rajin mengoleksi dan mengenakan batik baik untuk mereka pakai sendiri atau ke anak-anak bahkan sampai ke para ayah. Cukup nggak, ya, seperti itu saja?

Nah, ternyata, ada satu cara lagi melestarikan batik, terutama untuk anak-anak kita yaitu dengan berpartipasi di program “Satu Batik Jutaan Jari” yang diadakan oleh Bodrexin. Dalam program ini, Bodrexin mengajak anak-anak Indonesia untuk lebih dekat mengenal dan lebih menghargai batik dengan bersama-sama menciptakan satu desain batik dari sidik jari mereka. Lucu banget, ya?

Jadi, sidik jari anak-anak yang terkumpul akan dibuat satu motif batik tertentu yang dibuat oleh desainer batik Indonesia. Sidik jari anak-anak ini dikumpulkan lewat roadshow “Satu Batik Jutaan Jari” di beberapa kota besar di Indonesia atau bisa juga di-upload ke fanpage-nya Kebaikan bodrexin atau follow akun Twitter @tentangkebaikan.

Ayo ikutan, tunggu apa lagi?


12 Comments - Write a Comment

Post Comment