Kredit Bangun Rumah

by: - Thursday, January 26th, 2012 at 8:00 am

In: Home & Living 25 responses

0 share

Memiliki tempat tinggal sendiri merupakan impian semua keluarga. Meski tinggal bareng orangtua atau kerabat cukup enak, terutama dari sisi hematnya pengeluaran biaya rumah tangga (big grin), dari sisi psikologis, tinggal di rumah sendiri sangat menyenangkan dan memuaskan batin. Kita bisa melakukan apa yang kita inginkan tanpa perlu berkompromi. Toh, ini rumah kita sendiri, bukan?

Untuk memiliki tempat tinggal, entah itu rumah atau apartemen, saat ini boleh dibilang susah-susah gampang. Susah karena harga yang sangat tinggi, bahkan kadang suka tak masuk akal jika dibandingkan dengan penghasilan kita. Gampang karena meski harga rumah sangat tinggi, banyak bank yang menawarkan fasilitas kredit sehingga memungkinkan kita untuk memiliki rumah sendiri.

gambar dari sini

Di antara berbagai jenis fasilitas kredit tersebut, yang paling terkenal tentunya adalah KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Ada juga KPA atau Kredit Pemilikan Apartemen. Kali ini, saya ingin membahas KBR atau Kredit Bangun Rumah, berdasarkan pengalaman pribadi.

Alhamdulillah, saya dan suami cukup beruntung mendapatkan sebidang tanah ‘hibah’ dari orangtua. Meski begitu, kami sempat pusing juga karena terus terang, kami tidak punya dana untuk membangun rumah di atas tanah tersebut. Setelah mencari informasi dan melakukan riset ke berbagai pihak, kami menemukan kredit untuk membangun rumah bernama KBR dari beberapa bank. Setelah kami mencari info lebih banyak lagi, pilihan kami jatuh ke KBR yang diberikan oleh sebuah bank pemerintah.

Kami pun langsung mencari info detil tentang KBR tersebut. Pertama-tama yang harus disiapkan adalah sertifikat tanah karena tanah tersebut akan dijadikan sebagai jaminan KBR. Kemudian, siapkan pula rancangan anggaran bangunan (RAB) dan surat izin mendirikan bangunan (IMB).

Untuk RAB, karena kami membangun rumah dengan bantuan kontraktor, kami pun meminta bantuan kontraktor yang kami pilih untuk membuatkan RAB. Biasanya para kontraktor memiliki format RAB yang sudah standar sehingga memudahkan mereka untuk membuatnya.

Untuk IMB, silakan mengurus ke kecamatan (untuk tanah seluas maksimal 200 m2) atau ke dinas tata kota (untuk tanah seluas lebih dari 200 m2). Terus terang, untuk mengurus IMB ini saya dan suami harus banyak-banyak menelan pil sabar. Sudah minta tolong “orang dalam” untuk bantu mengurus, eh jadinya cukup lama, sekitar 2-3 bulan. Untuk mengurus sendiri, kami terbentur masalah waktu karena kami berdua sama-sama kerja.

Anyway, setelah RAB dan IMB jadi, jangan lupa sertakan slip gaji (kalau suami istri bekerja, sertakan slip gaji keduanya), fotokopi surat nikah dan KTP, dan sertifikat tanah ke dalam aplikasi KBR.

Tak lama setelah aplikasi diterima, petugas dari bank bersangkutan akan datang ke lokasi dan melihat kondisi tanahnya sekaligus melakukan assessment. Biasanya tidak sampai seminggu, jika semua kondisi oke, petugas bank akan menghubungi dan meminta kita ke notaris yang ditunjuk untuk menandatangani perjanjian. Beberapa hari kemudian, uang akan ditransfer ke rekening kita di bank bersangkutan.

Transfer dana KBR akan dilakukan bertahap, sesuai tahapan pembangunan yang dibuat oleh kontraktor dalam RAB. Pihak bank juga akan mengawasi progress pembangunan, apakah sesuai yang ada dalam RAB atau tidak. Pasalnya, karena bunganya yang relatif lebih rendah dibanding Kredit Tanpa Agunan (KTA), banyak pihak yang menyalahgunakan uang dari KBR untuk membuat usaha atau lainnya, bukan untuk membangun rumah.

Intinya, kalau semua oke dan tidak ada hambatan, proses pengajuan aplikasi KBR cepat banget. Memang, sih, KBR ini sepintas terlihat lebih ribet dibanding KPR yang lebih dikenal publik. Namun setelah dijalani, ternyata tidak seribet itu, lho. Tertarik?

Share this story:

Recommended for you:

25 thoughts on “Kredit Bangun Rumah

  1. Pingback: fita Nofianti
  2. Pingback: lita iqtianti
  3. Pingback: kirana
  4. Pingback: moch rifki
  5. Pingback: sally natanegara
  6. Pingback: Tya Priyandito
  7. Pingback: ekaeka
  8. Pingback: graciana wulansari
  9. Pingback: HLindonesia
    1. Sesuai namanya, KBR hanya untuk membangun rumah, Mbak Vera. KBR dan KPR itu diberikan dengan bunga rendah karena tujuannya untuk memenuhi kebutuhan primer, dalam hal ini rumah. Kalau untuk renovasi, berarti kebutuhan primernya sudah terpenuhi kan? Jadi biasanya untuk renovasi, disarankan pakai KTA (kredit tanpa agunan) yang bunganya memang lebih tinggi dari KBR. Tapi coba deh tanya-tanya ke bank. Siapa tau sekarang ada kredit untuk renovasi rumah :)

  10. Oh ya tadi di twitter ada yang nanya soal jumlah yang diberikan sesuai RAB atau nggak. Jawabannya ini ya:

    Seperti KPR, untuk KBR juga dilihat dari kemampuan orang yang mengajukan kredit (dilihat dari slip gaji) dan hasil assessment tanah yang akan dibangun. Misalnya, tanahnya senilai Rp 450 juta, gaji yang mengajukan kredit (suami+istri) total Rp 24 juta, lalu kredit yang diajukan adalah Rp 350 juta selama 20 tahun (cicilan perbulan +/- Rp 3 juta). Jumlah itu biasanya akan dipenuhi semua oleh bank karena dilihat, Rp 3 juta perbulan itu hanya 1/8 total income rumah tangga. Selain itu, nilai tanahnya pun lebih tinggi dibanding nilai pinjaman yang diajukan. Jadi kalau tiba-tiba ada kejadian gagal bayar di tengah jalan, bank tidak rugi karena tanah yang diagunkan lebih tinggi daripada kredit yang mereka berikan.

    Tapi semua kembali lagi ke pihak bank sih. Yang utama dari semuanya adalah kelengkapan surat-surat koq :)

  11. Walaupun kelihatannya lebih simpel KPR (soalnya rumah udh ada dan tinggal masuk), tapi kayanya kalo KBR ini menyenangkannya karena bangun rumah sesuai keinginan.
    Oh iya, kok ga diceritain dapat bonus mobil pulak :))

    1. Iyak betul. Kalo KPR kan kita tinggal nrimo, rumahnya yang model apa. Kalo KBR bisa otak-atik model rumah sesuai keinginan dan kebutuhan.

      Mobil mah kejutan ituuu… :D

  12. Pingback: GAindonesian
  13. Nice info Ra, ternyata masih banyak yang belum tau tentang KBR ya. Lumayan tuh jadi mungkin bisa diakalin beli tanah dulu (daripada dipake untuk DP rumah) trus bangunnya pake KBR yaa…lebih murah nggak tuh jatohnya?

    1. Iya Han, bisa sih. Tapi lama bener pasti deh. Karena kan setelah proses beli rumah, kudu nunggu balik nama sertifikat tanah, bikin IMB, bikin RAB, aplikasi KBR. Jadi ya kudu sabar kali ya, hehehe..

      Kalo soal lebih murah KBR, bisa jadi ya. Tapi kudu sabar bener kayaknya :D

      Untuk yang lebih simple, kayaknya mending beli kavling tanah aja di komplek perumahan/cluster. Sekarang kan lagi tren tuh, developer ngejual rumah/kavling. Nanti mereka yang ngebangun rumahnya berdasarkan rancangan baku tapi yang bisa disesuaikan sama keinginan kita. Dan ini pake KPR bukan KBR :)

    1. Jadi gini Mbak. Beberapa developer belakangan ini kan jual rumahnya sistem cluster. Mereka bekerjasama dengan bank untuk KPR. Nah, developer ini menyediakan tanah dan denah bangunan kayak gimana. Itu masih tentatif, masih bisa berubah sesuai keinginan kita. Beberapa temanku begitu koq ;)

Leave a Reply