Pregnancy is a Beautiful Thing

Saya tidak pernah membayangkan diberi  kepercayaan untuk menjadi ibu hamil secepat ini. Tiga minggu setelah menikah saya positif. Bingung, clueless, banyak hal yang membuat saya menjadi ragu. Ragu apakah bisa menjalaninya? Apakah seorang yang tomboi, tidak pernah benar dalam mengerjakan suatu hal, tidak pernah menyukai anak kecil terlebih bayi, dan tidak tahu tetek bengek mengurus anak bisa menjadi seorang ibu?

Bulan pertama saya mengalami morning sickness, ohhh ternyata ini rasanya mual sepanjang hari. Ingin rasanya kembali ke pelukan mama-bermanja manja tapi keadaan tidak demikian. Setelah nikah saya memutuskan untuk ikut suami ke luar kota, jauh dari keluarga dan tinggal di tempat asing tanpa seorang kenalan.

Acara Siraman (7 bulan)

Bulan kedua dan seterusnya berjalan mudah,  saya mulai bisa beradaptasi,  tidak lagi mual, lebih nyaman, semua terasa sangat menyenangkan.  Ketika baju mulai kekecilan, saya masih saja menyamarkan perut buncit. Kemeja dan jaket besar milik suami menjadi favorit kala itu. Padahal, kalau dipikir-pikir hamil saya bukan termasuk hamil dengan kenaikan BB yang drastis. Hanya naik 8 kg. Dipikiran saya waktu itu modis tidak penting, paling penting nyaman dengan apa yang dikenakan.

Dan akhirnya tiba saat melahirkan. Setelah satu minggu bertahan pada pembukaan satu, 3x bolak balik UGD untuk cek pembukaan saya memutuskan untuk tetap menunggu di rumah sampai dengan pembukaan lanjut. Hypnobirthing yang jauh jauh hari saya pelajari coba dipraktikkan. Tetap tenang, makan banyak, berusaha santai, masih update status dan tidak panik walaupun kontraksi sudah 10 menit sekali. Benar saja, ketika saya sudah tidak kuat lagi berdiri kami pun berangkat ke Rumah Sakit.

Proses selanjutnya berjalan mudah, dengan beberapa kali mengejan bayi kami keluar. Proses normal, tanpa induksi dan tanpa erangan kesakitan (setidaknya demikian testimoni keluarga dan suster). Bayi kami yang masih berdarah langsung diletakkan di atas dada untuk mencari puting ibu. Selama 45 menit IMD berhasil kami lakukan. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dikaruniai bayi laki-laki yang sehat dan lucu. Mata bulat yang bersinar membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seorang bayi. Anak saya sendiri!

Kini tanpa terasa dua tahun sudah kami menjadi orangtua. Banyak hal yang dipelajari, banyak pelajaran yang kami ambil. Bahu membahu membesarkan anak, mengurus suami, anak, rumah sekaligus tanpa ada asisten rumah tangga dan jauh dari keluarga menjadi dinamika kehidupan yang sangat menyenangkan. Kami menikmati setiap detiknya. Sampai sekarang Hazel masih menyusui, cukup ASI tanpa susu formula. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, banyak akal, dan ceria.

Tidak ada yang tidak mungkin jika kita yakin bisa menjalani karena sejatinya memutuskan menjadi hamil, mengemban amanah menjadi orangtua dan mendidik anak adalah hal yang membahagiakan.


30 Comments - Write a Comment

Post Comment