Nursing Strike: Another Lesson Learned

Sejak lahir, walau pun sempat jaundice, hingga sekarang berusia 11 bulan, kegiatan menyusui anak kedua saya Rimba dilalui nyaris lancar sulancar. Pengalaman mengibarkan bendera putih pada susu formula di kesempatan pertama memang membuat saya bertekad kuat memberikan ASI sampai Rimba usia 2 tahun, Insya Allah. Jadi semua daya upaya agar lancar menyusui saya kerahkan. Termasuk ngejus pare (Siapa ini yang punya ide bikin jus pare? Hah??? Siapaaa???)*mukasepet*.

Semua tantangan termasuk perintah para tetua untuk segera memberi susu formula dan air tajin ketika si bayi nangis melulu berhasil saya taklukkan. Belajar dari pengalaman menyusui anak pertama yang tak sampai setahun membuat saya pede di kali kedua ini. Saya sudah pasang tameng, kuda-kuda, benteng, pokoknya semua, semampu saya untuk berjuang memberikan ASI eksklusif.

Ealaaah … ndilalah, kok, ya, malah ketemu fase Nursing Strike alias mogok menyusu. Perasaan selama ini lancar-lancar saja. Rimba toh sebentar lagi ulang tahun yang ke-1. Masa, ya, sih, mogok menyusu? Ya ampun, ini nggak ada, nih, di pelajaran menyusui 3 tahun yang lalu.

Selama ini pun saya tak begitu memperhatikan isyu Nursing Strike saat mengikut kelas edukASI AIMI. Tak pernah terlalu mengindahkan saat banyak kultwit membicarakan soal mogok nyusu. Tak pernah terpikirkan saya dan Rimba harus melalui fase ini. Hhhhh ….

 

Strike One

Awal ketidak tertarikan Rimba terhadap kegiatan menyusu sudah mulai terasa dari sore hari di akhir minggu. Di mana saya justru di rumah seharian. Walau masih mau melahap payudara, ia hanya menghisap beberapa kali lalu melepaskannya, mengisap lagi, melepaskannya lagi, begitu terus berkali-kali. Tapi saya tak punya feeling apa-apa. Toh ia masih lahap menyusu hingga tertidur malamnya.

Dua hari kemudian, malam sepulang saya dari kantor, ia bangun di jam rutinnya menyusu. Saya pun siap menyodorkan payudara. Segera ia melahap puting ke mulutnya. Tak sampai 3 hisapan, dia lepaskan lalu menjerit-jerit marah. Saya coba lagi, hal yang sama terulang kembali. Terus sampai lebih dari 15 menit saya coba, dia masih menolak dan menjerit-jerit kesal. Saya gendong dia dan mengayunnya namun tak berhasil. Saya kembali sodorkan payudara, kali ini ia memalingkan muka. Ya Allah … kenapa ini? Saya ambil ASIP tanpa sempat menghangatkannya terlebih dahulu. Ia pun dengan lahap minum dari gelas kemudian tak lama tertidur kembali.

Saya tertegun. Jangan-jangan ini yang namanya mogok nyusu. Apa benar Rimba yang sudah nyaris berumur setahun ini bisa kena? Bingung puting jelas nggak mungkin. Sejak 6 bulan, ia tak lagi minum ASIP dari botol. Malam itu, setiap kali terbangun, ia hanya mau minum ASIP.

 

Strike Two

Keesokan harinya saya menjelajah internet mencari tahu soal Nursing Strike. Dari web resmi La Leche League International, dan browsing di tempat lain salah satunya di sini, ternyata mogok nyusu bisa terjadi di usia berapa pun. Ada sejumlah penyebab seperti misalnya tumbuh gigi, hidung tersumbat, atau bila Ibu mengganti deodoran/parfum/deterjen untuk mencuci baju. Bahkan ada kalanya penyebabnya tak bisa diketahui pasti. Dapat berlangsung 2-5 hari. Ada pula yang sebulan. Apa??? Sebulan??? Sehari ditolak Rimba saja hati ini sudah sakit rasanya.  Bagaimana sebulan?

Saya mulai panik. What to do? Atas anjuran AIMI, juga dedengkot MD Kirana, saya pun melakukan skin to skin contact. Melakukan ekstra pelukan dan belaian. Bagaimana dong memaksimalkan kontak tersebut jika pagi hingga sore hari saya bekerja? Cuti hampir tidak mungkin, karena saya baru masuk kantor baru. Anak baru belum boleh cuti. Satu-satunya cara adalah dengan meakukannya saat tidur malam. LLLI menganjurkan untuk terus tawarkan payudara setiap kali bayi ingin minum tak lebih dari 10 menit. Jika ia masih tidak mau, tidak boleh dipaksa. Skin to skin contact pun tak melulu menuntut Ibu dan bayi bertelanjang dada. Bisa juga hanya dengan mengenakan pakaian tipis hingga jarak kulit Ibu dengan bayi tak terlalu jauh.

Malam pertama skin to skin contact, Rimba masih menolak menyusu. Yang tadinya dia masih mau menghisap barang 1-2 kali, kini benar-benar ogah. Setiap disodori payudara ia memalingkan muka sambil menjerit-jerit kesal. Jeritannya pun membangunkan tidur nyenyak para tetangga. Oke, yang ini saya lebay. Pokoknya, benar-benar bikin saya nyaris putus asa.

 

Strike 3

Hari ketiga, badan rasanya mulai rontok. Bayangkan, setelah lelah bekerja di kantor dan berjibaku menghadapi jadwal commuter line yang macam menunggu Godot, sampai di rumah harus menghadapi nursing strike Rimba. Belum si abang yang juga minta perhatian. Harus bangun pagi-pagi pula. Benar-benar butuh kesabaran ekstra, baik lahir mau pun batin.

Skin to skin contact masih belum menampakkan hasil yang signifikan. Tapi saya coba terus menyodorkan payudara, tak lebih dari 10 menit. Begitu terus setiap kali ia bangun di jam-jam rutin menyusu. Ini sangat melelahkan.

 

Strike 4

Hari ke-4 saya berdiskusi dengan suami yang sedang tugas ke luar kota. Saat saya curhat sambil menangis seperti anak kecil, ia pun membujuk saya. Mari lihat malam ini, kalau Rimba masih menolak menyusu, mungkin memang ia sedang self weaning. Huhuhuhu. Tuhan, saya belum rela. Saya masih ingin menyusui selama ia perlu. Dan lagi, menurut banyak artikel yang saya baca, sebelum usia 12 bulan, biasanya bayi belum mau self weaning.

Seharian di kantor saya sangat gelisah. Menjelang pulang, hati saya deg-degan. Berdoa penuh harap, skin to skin contact yang kami lakukan 3 hari ini paling tidak menunjukkan hasilnya walau pun sedikit. Allah Maha Baik. Alhamdulillah, sujud syukur, Rimba mulai mau menyusu walau hanya sebentar-sebentar dan diiringi dengan rengekan. Paling tidak, jeritan-jeritannya yang luar biasa keras tak lagi terdengar dan mengganggu tidur si abang. Terlebih lagi no more ASIP saat Mama sedang di rumah.

Di hari ke-5 dari fase nursing strike, Rimba kembali lancar menyusu walau hanya ketika ia sedang mengantuk. Bila sedang terjaga ia selalu menolak. Sebuah perkembangan yang cukup menggembirakan. Mengingat penolakan-penolakan yang dilakukannya hampir seminggu ini membuat saya benar-benar kehilangan akal.

Total butuh waktu seminggu penuh untuk Rimba kembali ke kegiatan menyusunya seperti biasa. Kini matanya kembali berbinar-binar dan tertawa senang saat saya membuka kancing baju atau mengangkat kaus. Mogok nyusunya cukup sekian saja, ya, Nak.

 

Note: Buat mommies baik yang sedang hamil mau pun menyusui, jangan anggap sepele hal yang terlihat remeh temeh. “Ah kayaknya tak mungkin deh saya begitu.” “Ah masih jauh, nanti aja dipikirin kalau sudah kejadian.” Ingat yaaa … menyusui itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bukan sesuatu yang mustahil dilakukan. Cari info sebanyak-banyaknya soal menyusui, tak hanya bagaimana memperbanyak ASI, tapi juga rintangan-rintangannya. Nursing strike kelihatannya jauh dari kita, tapi bukan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Saya bersyukur tak harus melewati hari-hari mogok menyusu selama sebulan. Apa jadinya nanti? Bisa-bisa saya kurus karena banyak pikiran. Walaupun bagian jadi kurus itu saya harapkan banget-banget *angkatbarbel*.

 

 


19 Comments - Write a Comment

Post Comment