Rumah Ideal Kami

Saat saya dan suami membeli rumah di Cilegon (FYI, Cilegon itu letaknya di Banten—nggak jauh dari Anyer), banyak yang kaget.

“Kok, di Cilegon? Jauh amat! Kenapa beli rumahnya nggak di sekitar Jakarta saja, sih?” Begitu komen 95 persen teman dan kerabat. Wajar mereka mempertanyakan keputusan kami. Bukan hanya dari lahir sampai menikah tinggal di Jakarta, kantor saya dan suami pun letaknya di Jakarta. Kebayang, dong, Jakarta-Cilegon itu, kan, jaraknya lebih dari 100 km. That’s why banyak yang berpikir saya dan suami sudah gila :D

Padahal, setidaknya ada dua alasan kami membeli rumah di Cilegon.

Pertama: mencari rumah di pusat kota Jakarta yang nyaman dan layak huni (menurut standar saya), tuh, sulit. Andaikan ada, mahalnya pasti amit-amit  :D

Kedua: bagi saya, membeli rumah di pusat kota Jakarta sama saja dengan ‘menghadiahi’ anak polusi 24 jam nonstop! Pasti sudah tahu lah, ya, betapa buruknya kualitas udara Jakarta ….

Lalu, kenapa nggak ambil rumah di pinggiran seperti Depok, Cibubur, Tangerang, Bekasi, dsb, yang lebih murah dan mungkin nggak sepolutan Jakarta? Well, opsi ini bukan nggak pernah terpikir. Kami nyariiisss saja deal dengan rumah di kawasan Jatiwarna. Tapi, batal di menit akhir. Kenapa? Karena beli rumah di pinggiran (tapi ngantornya tetap di pusat kota) sama dengan berangkat ngantor lebih pagi, lebih lama kena macet, boros bensin-tol, dan lebih parah lagi: selamanya ‘terpaksa’ menggantungkan hidup dengan mencari nafkah di Jakarta!

Ah, padahal sejak sebelum menikah, cita-cita kami adalah hengkang dari Jakarta. Serius. Saya dan suami sudah suntuk dengan sumpeknya ibukota. Macet, banjir, tingkat kriminalitas tinggi, manusia di mana-mana, polusi, … bukan lingkungan seperti itu yang kami inginkan untuk menjalani hidup.

Lalu, apa alasan memilih Cilegon?

Pertama: di Cilegon ada bubur Babunhok—bubur terenak di dunia versi saya dan suami. Kalau pindah ke sini, otomatis bisa makan bubur ini tiap malam. Eh, meski muji-muji, saya bukan marketing bubur ini, ya :D

Kedua: Cilegon adalah kota besar terdekat dari Pulau Tunda, pulau tempat saya dan suami pertama kali bertemu.

As simple as that.

Terkesan alasan asal? Ah, nggak juga. Kan, ada juga pertimbangan lain. Saya rasa, setiap pasangan bebas menentukan mau memilih rumah seperti apa, karena pandangan setiap pasangan mengenai rumah ideal tentu juga berbeda-beda—bayar cicilan KPR-nya, kan, juga keringat berdua, hi hi hi.

Bagi saya dan suami, rumah ideal = berada di kota kecil, berada dalam kompleks perumahan, hubungan antar tetangga akrab, usia tetangganya sepantaran, ada fasilitas olahraga, jalanan depan rumah sepi tanpa lalu lalang motor-mobil, nggak jauh dari laut, dan yang terpenting adalah berada di dekat Pulau Tunda—karena di pulau inilah kami berencana menghabiskan masa tua… #tsaaah #sokromantis

Lalu nanti mau kerja apa di Cilegon? Ya, kita serahkan saja pada alam. Saya selalu percaya, di mana pun kita berada, rejeki nggak akan pernah tertukar  :)

Itulah rumah ideal versi saya dan suami. Kalau versi Mommies, rumah ideal itu seperti apa?

 

*Diceritakan oleh Amelia Yustiana (@amel_oh_amel), ibu dari Rakata dan Ranaka

 

NB: Sayangnya, karena satu dan lain hal, kepindahan ke Cilegon terpaksa ditunda sementara waktu. Mungkin ada Mommies yang tinggal di Cilegon mau mengontrak rumah saya? Eaaa, malah numpang iklan :D

 

 

 


18 Comments - Write a Comment

Post Comment