Memulai Hidup Baru di Tanah Air

Setelah merasakan beberapa lama tinggal di negara 4 musim, maka tiba saatnya kami harus kembali ke tanah air. Menurut saya, yang baru pertama kali merasakan tinggal di luar negeri, kerjasama yang baik dengan pasangan dan kepercayaan diri adalah yang pertama kali harus dimiliki oleh orangtua yang memiliki balita. Kami butuh waktu sebulan untuk menyiapkan segala hal untuk pulang kembali ke tanah air, di antaranya adalah memesan tiket pesawat, mengatur jadwal keberangkatan (dari apartemen tempat kami tinggal menuju bandara), menyiapkan barang-barang yang akan kami bawa pulang (termasuk mengirim paket), dan membereskan semua tagihan-tagihan.

Setibanya di tanah air, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa suami harus kembali bekerja, begitupun dengan saya yang beberapa waktu terakhir saat masih di Swedia saya bisa menghabiskan waktu 24 jam bersama anak.  Maka kami pun harus beradaptasi kembali dengan segala-galanya mulai dari nol. Mulai dari adaptasi dengan lingkungan, cuaca, makanan, sampai jadwal keseharian. Kebetulan sampai saat ini kami masih berkeyakinan bahwa kami belum butuh ART. Suami bekerja kantoran dan saya mengajar di sebuah universitas yang jadwal kerjanya tidak seperti orang-orang yang bekerja kantoran, walaupun ada kalanya jadwal saya jauh lebih padat dibanding kalau bekerja kantoran tapi hanya disaat-saat tertentu saja. Kenyataan kedua adalah saya dan suami harus tinggal beda kota, hanya pada akhir minggu saja suami datang (jumat malam – sabtu – minggu – senin subuh) kamipun memutuskan, saat saya harus bekerja, anak dititipkan pada salah seorang keluarga yang tinggal bersama kami (orangtua tinggal beda kota dengan kami). Maka dengan keputusan yang kami ambil itu, praktis saya harus pandai membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah tangga seperti memasak dan membersihkan rumah.  Awalnya cukup kaget, tapi lama kelamaan terbiasa juga.

Kerjasama dengan pasangan adalah hal utama yang harus diterapkan berkaitan dengan adaptasi ini, saling memberi dukungan dan juga memberi pengertian kepada anak bahwa ia akan menjalani banyak perbedaan dengan tempat tinggalnya yang dulu, tapi percayalah bahwa ternyata anak-anak jauh lebih mudah beraptasi dibanding dengan orang dewasa. Untuk urusan makanan awalnya problem besar buat saya, karena di awal kami berada di tanah air, Dipta anak kami benar-benar mogok makan, pernah sampai beberapa hari dia tidak makan hanya mau minum susu itupun tidak banyak.  Namun setelah jungkir-balik ke sana kemari, mencoba segala cara, daya dan upaya … akhirnya dia mau juga makan, dan semakin ke sini selera makannya semakin besar, Alhamdulillah. Lalu untuk adaptasi cuaca juga tidak terlalu masalah, paling sekarang dia jadi lebih sering berkeringat.

Adaptasi lingkungan juga Alhamdulillah tidak terlalu masalah. Untuk adaptasi jadwal keseharian yang awalnya agak membuat saya ketar-ketir, karena saya harus bekerja berarti waktu untuk saya habiskan bersama anak menjadi berkurang, lalu pertemuan dengan ayahnya yang hanya bisa terjadi di akhir minggu juga sempat membuat saya galau kalau (macam abg galau ;p) tetapi ternyata juga tidak lama, Beri pengertian pada anak bahwa ayah-ibunya harus bekerja, setelah bekerja maka kita bisa kembali bermain bersama dan tidak ada yang akan berubah. Sampai sekarang pun saya masih belajar untuk mengatur emosi saat bersama anak, karena mau tidak mau kadang karena keletihan di tempat bekerja bisa mempengaruhi kualitas kebersamaan kita dengan anak. Saya rasa semua ibu bekerja paham betul perasaan-perasaan seperti ini.

Selain dari kerjasama dengan pasangan, hal lain adalah kepercayaan diri. Percaya bahwa apapun yang kita jalani, di mana pun kita menjalaninya kita pasti bisa melewati semuanya dengan baik selama kita berusaha maksimal. Motivasi yang paling penting untuk memupuk kepercayaan diri ini adalah keluarga, karena sebagai ibu kita pasti ingin yang terbaik untuk keluarga khususnya anak, kalau ibunya tidak percaya diri bagaimana anak mau percaya bahwa dirinya mampu. Oke, ini juga pasti klise banget, tapi bener gak? :D

Setelah kita lakukan semua yang menurut kita baik, tinggal ikhlaskan saja pada Allah, ini membantu kita tidak terlalu terpuruk saat ada hal-hal yang terjadi diluar kendali kita sebagai manusia. Bukan tidak mungkin saya, Anda, atau siapapun akan kembali merasakan kehidupan yang baru lagi, tinggal di tempat baru, menggapai mimpi-mimpi yang baru, belajar dan mengajarkan anak-anak untuk beradaptasi kembali dengan kehidupan barunya. Saya setuju dengan pepatah “It’s not only children who grow. Parents do too. As much as we watch to see what our children do with their lives, they are watching us to see what we do with ours. I can’t tell my children to reach for the sun. All i can do is reach for it, myself”


10 Comments - Write a Comment

  1. Dipta kulitnya baik-baik ajakah? sepupu-sepupu gw yang gede di luar, kalo balik ke indo pasti deh kulitnya langsung bruntusan, malah sampe ada yang kayak budukan (aduh maap bahasanya) di seluruh badan gitu…
    welcome home ya Dipta, selamat berkenalan dengan jajanan yang mengandung pewarna tekstil, pengawet, dan zat ‘ajaib’ lain yang kayaknya hanya ada di jajanan Indonesia :D

  2. I agree, anak2 lebih cepat adaptasinya dibandingkan orang dewasa– kami juga mengalami hal yg sama ketika kembali ke tanah air. Yg lebih stress malah orang tuanya hahaha! One thing we learned as a family: home is as long as we are all together, di manapun itu ;)

Post Comment