Absen ke UGD Saat Liburan

Tidak ada orangtua yang mau anaknya sakit, apalagi saat liburan yang seharusnya menjadi saat bersenang-senang. Itulah yang terjadi pada saya liburan lalu …

Sebelum kepergian kami ke Malang, Ava demam 38.5’c. Saat itu saya kompres air hangat dan juga saya pantau panasnya, dia bilang lehernya sakit, saya bertahan nggak kasih obat karena Ava masih ceria, jumpalitan, lari-lari, dan makannya pun lahap.
Hari Kamis Ava sehat … benar-benar sehat nggak ada tanda sakit atau apa. Jumat pagi pun kami berangkat dengan ceria, karena Ava gembira sekali ingin sekali ke kebun binatang.

Malam pertama di Malang tiba-tiba jadi seperti mimpi buruk buat saya. Pukul 12 malam Ava terbangun dan menangis karena hidungnya mampet, saya (yang capek banget dan setengah sadar) menggosokkan Transpulmin BB. Saya lupa sekali kalau kulit Ava tidak kuat dengan obat tersebut … hiyaaah, semakin nangis dia, tapi hidungnya sudah lega katanya. Setelah saya lap pakai handuk dan kasih minyak telon, memakaikan kaus kaki lalu kasih susu, Ava tidur lagi.

Pukul 3.30 bapaknya Ava membangunkan saya dengan panik …

“Ma … ini Ava kenapa kok goyang-goyang?”

Saya setengah tidur

“Ngigo kali, Pa … selimutin aja”

Tiba-tiba terdengar suara suami saya bertambah panik
“Ma … MA, ANAKNYA MENGGIGIL!!!! BADANNYA PANAS BANGET, MA!!”

Mendengar kalimat itu saya langsung duduk kaget, melihat Ava yang bergumam tidak jelas dalam keadaan tidur dan menggigil parah, saya ambil termometer digital yang memang selalu saya bawa, hasilnya 39.5’C. Saya peluk Ava., suami langsung meminumkan penurun panas dan air yang banyak … ditunggu 5 menit makin menggigil, saya ukur suhunya sekarang 39.9’c .

Ibu saya, yang juga ikut berlibur langsung bilang, “UDAH LANGSUNG UGD AJA!!!” Saya cepat mengemas barang-barang Ava termasuk obat-obatan dan termometer. Plus untungnya setiap liburan atau pergi jauh saya selalu bawa buku dokter Ava (buku yang berisi catatan medis pasien, itu saya berikan kepada dokter jaga).

Ava sempat batuk dan muntah di perjalanan.  Tiba di UGD, langsung diukur lagi oleh suster suhu tubuhnya, tetap 39.9’c. Diagnosa dokternya radang. Sepuluh menit kemudian, dokternya bilang, “Dikasih obat penurun panas lewat dubur, ya, Bu.”

Saya sudah terlalu panik sehingga tidak bisa protes atau bertanya-tanya atas diagnosa dokter. Obat pilek batuk yang saya bawa diminum, dikasih obat penurun panas, dan juga dikasih obat mual … plus … JRENG JRENG … antibiotik.

Inilah perdana Ava minum antibiotik, saya sudah tidak bisa berpikir!  Jauh dari rumah, jauh dari 5 orang dokter anak Ava (Ya, Ava punya dokter anak sampai 5 supaya selalu ada cadangan. Tahu sendiri, kan, jadwal dokter suka penuh; ke luar negeri, seminar, dll.  Lebay, yah?), dan jelas saya tidak mau sampai Ava kenapa-kenapa. Toh yang memberikan obat juga dokter, kan?

Alhamdulillah, keesokan harinya Ava bangun cerah ceria dan kembali merengek minta ke kebun binatang.

Saya ikuti insting sebagai ibu, suami saya jelas ikuti instingnya sebagai bapak. Saya ngga bisa membayangkan apa yang terjadi kalau Subuh itu baik saya ataupun bapaknya nggak bangun sama sekali selama Ava menggigil dan demam tinggi :( . Mungkin saya lebay tapi ini pelajaran yang penting banget untuk kami. Sampai sekarang masih teringat jelas tampilan angka 39.9’c di termometer serta tubuh mungil Ava saat menggigil.

Beberapa poin lain yang bisa digarisbawahi untuk catatan kita semua adalah saat liburan, jangan lupa cek dokter atau rumah sakit terdekat dari tempat menginap, jangan lupa bawa termometer serta obat-obatan, dan juga buku dokter anak.

Liburan kemarin benar-benar liburan yang tak terlupakan, deh, judulnya :)


6 Comments - Write a Comment

Post Comment