Tentang Mama

Mama

Sosok yang menyeramkan. Setidaknya, itulah pikiran Alex kecil. Alex yang takut mamanya marah. Alex yang selalu menangis saat mamanya menyuruhnya minum minyak ikan, yang rasanya membuat ia hampir selalu muntah karena baunya sangat amis. Alex yang sering sekali merasa deg-deg an setiap ada ulangan, karena ia khawatir mendapatkan nilai di bawah delapan. Kalau ia mendapat nilai jelek, delapan ke bawah merupakan standar jelek buat mamanya, maka Alex enggan pulang. Takut dihukum. Hukumannya sangat menyakitkan. Namun rasa sakit yang ia terima tak sebanding dengan rasa malunya. Alex akan dipaksa berlutut di atas kulit kerang darah, badan dan punggung harus tegak, di depan pintu menghadap ke jalan raya sehingga orang-orang yang lewat bisa menertawakannya karena ia juga harus memegangi kedua telinganya.

Mama.

Sosok yang selalu tegas, menuntut Alex untuk belajar terus menerus. Di saat balita berusia dua setengah tahun berlari riang gembira, Alex kecil harus belajar mengeja dan membaca. Tak heran, pada umur tiga setengah tahun, Alex sudah bisa membaca surat kabar. Walau kadang ia tak mengerti isi surat kabar tersebut. Yang penting, Mama tersenyum saat Alex bisa membaca dengan lancar. Umur empat tahun, Alex sudah hafal 16 ditambah 17 sama dengan 33. Alex sudah hafal perkalian satu sampai sepuluh. Bukan, bukan karena Alex anak yang jenius. Namun karena Alex takut mamanya akan merengut dan memaksanya belajar seharian sehingga ia tak punya waktu untuk bermain bersama teman sebayanya.

Mama.

Sosok yang secara tak langsung membuat Alex menangis terus di kelas satu SD, karena bosan. Anak-anak di kelasnya belajar mengeja, membaca dengan terbata-bata, Alex sudah mulai belajar bahasa Inggris. Sudah bisa membaca dengan sangat lancar, sehingga pelajaran di kelas bagaikan neraka. Maka tidaklah mengherankan jika Alex juara kelas. Tidak mengherankan juga jika Pak Fendy, guru bahasa Inggris yang lulusan Kanada, yang selalu bersenjatakan rotan hijau yang sering disabetkan ke meja sehingga murid-muridnya takut, paling sayang padanya. Karena Alex bisa melafalkan abjad dalam bahasa Inggris dengan sempurna. Karena Alex sudah mengerti perbedaan Simple Present Tense dan Simple Past Tense. Juga karena kosakata dan pronunciation Alex lumayan bagus.  Semua karena Mama yang galak.

Mama.

Sosok yang membuat Alex tak mau masuk ke kelas dua karena pelajarannya terlalu mudah, sehingga Alex pun  loncat ke kelas tiga.

Mama.

Sosok yang membuat Alex tak berani pulang ke rumah saat cawu dua kelas tiga, karena hanya mendapatkan ranking 9. Bagi Mama, bagus adalah ranking satu. Ranking dua, masuk kategori lumayan saja. Ranking tiga, tak ada uang jajan sehari dari Mama. Bayangkan jika mendapatkan ranking 9. Hari itu, seluruh keluarga, mulai dari nenek yang sangat memanjakan dan sayang kepada Alex, Papa, yang jarang kelihatan di rumah karena lebih suka bekerja, hingga paman dan bibi kalang kabut mencari Alex yang bersembunyi di toko Papa yang dijaga karyawannya saja. Alex bahkan harus bersembunyi di belakang Nenek karena ketakutan memikirkan hukuman yang akan diterimanya di rumah. Di luar dugaan, Mama hanya berpesan: cawu depan harus juara umum lagi.

Mama.

Sosok yang berangkat ke Hongkong setelah Papa meninggal. Sosok yang dengan tega menitipkan Alex kepada Om di Malang, memaksanya beradaptasi dengan cepat, dewasa terlalu cepat, dan belajar untuk mengandalkan dirinya sendiri, tak boleh mengharapkan bantuan orang lain, mengerjakan segala sesuatu sendiri, dalam usia yang terlalu muda. Di sinilah, kebencian kepada Mama mulai tumbuh. Mama yang selalu memaksanya belajar, Mama yang pelit pujian, Mama yang lebih sayang kepada adik, Mama yang tak memedulikannya. Mama yang tak sayang padanya. Alex benci Mama.

Mama.

Sosok yang belakangan, setelah Alex beranjak dewasa, menjadi pahlawan baginya. Alex sekarang mengerti, Mama memaksanya minum minyak ikan yang berbau amis supaya ia tumbuh kuat, supaya otaknya bertambah cerdas. Alex sekarang mengerti, alasan mamanya mengajarnya dengan keras, untuk bekal masa depannya. Alex bisa berbahasa Inggris tanpa perlu kursus. Alex bahkan bisa mengajari teman-teman SMA nya tanpa perlu melihat buku. Alex dengan gampang mengerjakan persamaan diferensial dan soal matematika lainnya tanpa harus banyak memeras otak. Semua berkat Mama.

Alex.

Seorang anak yang terlambat menyadari, bahwa tidak ada mama yang membenci anaknya sendiri. Mama bekerja keras di luar negeri, untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Mama, sosok yang sering menangis di malam hari karena merindukan rasa memeluk anak-anaknya. Sosok yang lebih suka makan seadanya, supaya ada uang lebih yang bisa ia kirimkan untuk jajan anak-anaknya. Sosok yang rela pulang dua atau tiga tahun sekali, supaya ongkos pesawatnya bisa ditabungkan untuk membeli rumah sehingga anak-anaknya tak perlu lagi menumpang pada saudara yang lain.

Mama.

Yang sampai hari ini masih bekerja, supaya ia tak perlu meminta uang kepada anak-anaknya yang sudah mandiri dan bekerja. Mama, yang sebulan sekali selalu menelepon, untuk sekedar mendengarkan suara anaknya, sekedar menawarkan rindu yang menggunung, tersenyum puas mendengar cerita sepuluh menit hidup anak-anaknya. Mama, yang tak pernah mengeluh meskipun ia tahu, anaknya pernah sangat membencinya, hingga tak mau berbicaranya selama bertahun-tahun. Selama itu pulalah, Mama sering menangis diam-diam, mempertanyakan dirinya sendiri, mengapa anaknya sangat membencinya? Apakah salah jika ia mendidik anaknya dengan keras, supaya anaknya bisa menjadi manusia? Mama, yang pada akhirnya tak merasa perlu menjelaskan tindakannya di masa lalu, karena ia tahu anaknya pasti akan mengerti. Mama, yang setiap bertemu dengan kolega atau rekan kerja atau saudara yang lain, selalu membanggakan anak-anaknya.

Alex.

Yang menangis. Yang merindukan kegalakan mamanya. Merindukan waktu Mamanya menyuruhnya berlutut di kuling kerang darah, karena itulah cara Mama menyayanginya. Mamanya berkata, di dunia yang keras, anaknya harus kuat. Tak boleh cengeng, tak boleh menyerah, karena Mama tak akan bisa membimbing anaknya setiap saat. Alex, yang sampai sekarang masih mengingat perkataan mamanya: kalau mama sudah tak ada, Mama tak akan merasa khawatir, karena kamu sudah mendapatkan bekal yang cukup. Mama yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri, mama yang menyayangi anak-anaknya dengan cara yang tak biasa. Mama yang luar biasa. Surga, memang terletak di telapak kaki Mama. Dan Alex tak sabar menunggu kepulangan mamanya, supaya ia bisa sungkem, memeluk, dan mencium kaki mamanya. Alex, yang mencintai mamanya lebih dari apapun di dunia.

*Ditulis oleh Alexander Thian (@aMrazing)

*thumbnail dari sini


110 Comments - Write a Comment

  1. Pingback: GTS

  2. Pingback: ..

Post Comment