Selamat Hari Ibu, Mah …

Saya akan bercerita tentang satu hari di Bulan Puasa tahun 2001. Waktu itu saya sedang menyelesaikan skripsi.

Hari itu, hari kerja biasa. Saya ke kampus untuk mengurus urusan skripsi, sambil berkumpul dengan teman-teman. Kami berkumpul di ruang senat Fakultas Hukum. Pada saat itu di TV sedang ada acara mengenai budaya Indonesia. Di sana sedang dibahas mengenai betapa malasnya orang Indonesia, berikut berbagai alasan dan bukti konkretnya.

Setelah menonton acara itu saya sempat berpikir, “Ya juga, ya, orang Indonesia kok malas-malas banget, sih.”

Selesai acara tersebut saya pun pulang karena urusan saya di kampus sudah selesai.

Jalan menuju rumah saya itu melewati kantor Mamah saya yang waktu itu masih bekerja sebagai pegawai negeri. “Ah, nebeng Mamah pulang saja … toh sudah hampir jam pulang kantor juga.”

Sesampainya di kantor Mamah, saya harus tunggu sebentar karena Mamah masih ada pekerjaan. Setelah selesai, kita pun pulang.

Tentu tidak langsung pulang, karena waktu itu Ramadan, jadi Mamah harus mencari makan untuk buka puasa. Mamah tanya, saya mau makan apa. Saya asal jawab saja: mulai dari tajil sampai menu buka puasanya.

Apa yang saya pesan, Mamah turuti, kami berkeliling dalam kemacetan sore Bandung, demi mendapatkan menu buka puasa pesanan saya. Belum antrean waktu membelinya. Melelahkan!

Selain membeli menu buka untuk keluarga, Mamah juga membeli menu buka untuk ibunya, yaitu nenek saya. Jadi kita mampir dulu ke rumah nenek saya untuk memberikan makanan buka.

Sesampainya di rumah, Mamah menyiapkan makanan berbuka untuk saya, adik saya, dan Papap. Selesai berbuka, Mamah yang mencuci semua piring hidangan. Selesai mencuci piring, kami salat Tarawih berjamaah, dan Mamah pasti pisah dengan kita karena Mamah ada di shaf wanita.

Selesai Tarawih, mamah menyetrika baju, dilanjut tadarusan.

Hmm, itu baru satu hari bersama Mamah dan saya bersamanya hanya sejak jam pulang kantor. Apa kabar jam-jam sebelumnya? Mamah bangun lebih awal dari kami, untuk menyiapkan sahur, lalu salat Subuh, berangkat kerja, dan bekerja di kantor. Itu keseharian Mamah.

Saya langsung teringat dengan acara TV tadi yg menyatakan betapa malasnya orang Indonesia dengan banyak alasan logis dan meyakinkan … lalu saya pun berpikir, oke siapa pun boleh bilang orang Indonesia malas, TAPI TIDAK DENGAN MAMAH SAYA, dan wanita-wanita lain yang bekerja keras seperti beliau. Saya tidak terima kalau wanita-wanita mulia seperti Mamah saya dibilang MALAS!

Tulisan ini didedikasikan untuk Mamah saya. Selamat Hari Ibu, Mah … hanya ada satu Hari Ibu dalam setahun, tapi terima kasih untuk 365 Hari Saya dalam setahun di sepanjang hidup Mamah.


*Ditulis oleh Adhitya Pratama (@spektakuler)


7 Comments - Write a Comment

  1. Adhiiit, salam untuk si mamah yang paling cantik sedunia, ya!
    Setuju deh, boleh lah bilang orang Indonesia pemalas, tapi coba di riset ke kaum perempuannya. Berapa persen dari kaum perempuan yang selain perannya jadi ibu juga jadi karyawan, pebisnis, pedagang, atau apapun sebutannya.
    Thanks for sharing ya, Dhit!

Post Comment