22 Lessons I’ve Learned Since Becoming A Mom

Akhir Desember ini, genap 2,5 tahun saya menyandang status ibu. Belum lama, sih … masih hitungan newbie, kalau kata mereka yang anaknya sudah masuk SD dan SMP. Tapi, saya nggak pernah mengira bahwa dalam rentang 2,5 tahun saja, banyak pelajaran baru yang saya dapat. Eh, tadi saya bilang banyak, ya? Maaf, ralat. Maksud saya: BUANYAAAAK :D

Dan kalau diingat-ingat, nih, rasanya nggak ada satupun dari pelajaran itu yang tercantum di buku mengenai tumbuh-kembang anak .

Ini dia daftar hal-hal yang saya pelajari sejak menjadi ibu:

  1. Perut nggak langsung rata setelah melahirkan, dan juga hingga beberapa bulan tahun setelahnya.
  2. Bayi adalah makhluk yang sangat multitasking. Hanya bayi yang bisa tidur nyenyak sambil BAB.
  3. Feses jadi terasa nggak semenjijikkan dulu. Bisa, tuh, acara makan disela dengan membersihkan pup, lalu lanjut makan lagi tanpa hilang selera :D
  4. Perihnya patah hati ternyata nggak ada apa-apanya dibanding perihnya puting digigit pas menyusui.
  5. Sekarang, tangisan bayi orang lain di pesawat terdengar nggak mengganggu—padahal di zaman lajang dulu, bawaannya ingin membekap si bayi supaya diam  :D
  6. Bukan cuma baju bayi yang dimasukkan ke diaper bag, tapi juga baju ibunya—yeah, bayi sangat hobi muntah di baju ibunya.
  7. Gank ala masa SMA kembali ‘menghantui’. Bedanya, gank-nya adalah gank ASIX, gank MPASI anti gula-garam, gank stay at home mom, gank pemuja clodi … banyaklah. Dan ya, tentu saja lengkap dengan aneka bentuk ‘bully-nya’.
  8. Watch out for ‘mompetition’.
  9. Setiap orangtua punya metode masing-masing dalam membesarkan bayinya, nggak usah ikut campur apalagi sok menasihati. Intinya: my baby, my rules!
  10. Berlama-lama di kamar mandi, berendam di bathtub, memakai conditioner setelah keramas, luluran… semuanya harus dilupakan untuk sementara waktu—kecuali jika rela bangun pagi sekali untuk itu, misalnya pukul 4 pagi.
  11. Meski pegalnya naujubile, menggendong toddler seberat 10 kg—atau setara sekarung beras—selama berjam-jam keliling mal, ternyata bisa dilakukan.
  12. Nggak ada ART yang sempurna, karena kita pun bukan majikan yang sempurna.
  13. Asuransi kesehatan dari kantor sangat terasa manfaatnya saat imunisasi. Jika nggak di-cover, imunisasi itu merampok isi dompet, jendral!
  14. Punya suami sukses berkarier tentu membanggakan. Tapi punya suami yang mau ikutan repot mengurus bayi (ganti popok, memandikan, menidurkan, jago membuat MPASI, dsb…) jauuuh lebih membanggakan.
  15. Sedikit MSG dan makanan instant nggak akan membunuh anak.
  16. Warna putih wajib dihindari. At all costs. In everything. Seprai, sofa, karpet, handuk, terutama baju. Kalau sudah kena noda, susah bersihinnya!
  17. Serajin-rajinnya merapikan rumah, nggak akan pernah bisa rapi. Selesai diberesin, pasti akan kembali berantakan.
  18. Perasaan khawatir ternyata bisa muncul berbarengan dengan perasaan bangga, contoh: anak pertama kali naik tangga perosotan yang tinggi tanpa dipegangin.
  19. Jangan malas untuk sering-sering foto anak. Mereka tumbuh besar dengan cepat!
  20. Dan, rajin mencetak foto = penting. Hanya menyimpannya di folder ‘my pictures’ = siap nangis darah saat komputer rusak dan semua file foto hilang.
  21. Dipanggil ‘mbak’ instead of ‘ibu’, oleh orang nggak dikenal, merupakan self-esteem booster paling ampuh buat seorang ibu beranak dua.
  22. Saat punya satu batita, bisa tidur 8 jam nonstop adalah sebuah kemewahan. Tapi saat punya dua batita, bisa tidur 8 jam nonstop adalah sebuah kemustahilan  :D

 

Ya, itulah daftar milik saya. What about you, Mommies? What’s the best lesson that you’ve learned on your own? Spill it :D

 

*Diceritakan oleh Amelia Yustiana (@amel_oh_amel), ibu dari Rakata dan Ranaka

 


110 Comments - Write a Comment

Post Comment