The Center of My Universe

Beberapa hari lalu, saya ngobrol via BBM dengan seorang sahabat yang sekarang sedang berada di luar Indonesia. Biasalah, kangen-kangenan gitu. Secara kita memang akrab banget dari dulu, meski sekarang saya sudah berkeluarga dan dia belum.

Teman saya ini, sebut saja Fifi, cerita, di negara tempat dia tinggal sekarang, cewek-cewek Asia, termasuk dia, laris manis banget. Tak heran jika jaraaanng sekali cewek Asia yang cuma punya 1 pacar. Rata-rata mereka punya pacar lebih dari 2. Fifi sendiri punya 1 pacar dan 3 gebetan. Nggak cukup itu, masih ada antrian panjang cowok-cowok yang ingin nge-date sama dia.  Ih, eksis banget, ya?  :)

Fifi juga bertanya tentang kabar saya dan teman-teman di Jakarta. Update gosip dan kabar gitu ceritanya. Terutama soal beberapa teman kami yang meski sudah menikah dan punya anak, masih fooling around sama pria lain. Ada yang tanpa perasaan, ada juga yang benar-benar selingkuh luar dalam, alias pakai hati.

Seperti biasa, Fifi selalu tanya “Lo sendiri bagaimana, Ra? Ada gebetan, kah?” FYI, pertanyaan ini selalu dia tanya sejak saya menikah. Capek, deh.

Dan, bukan pencitraan, nih, saya selalu menjawab “Gebetan apa? I’m married and committed to someone. IMHO, that’s the end of my fooling-around-with-men journey.”

Fifi selalu amazed dengan jawaban saya. Padahal tiap kali dia tanya itu, ya, jawabannya selalu sama. Tidak ada yang berubah sama sekali. Buat saya, kalau mau fooling around sama cowok-cowok, buat apa menikah? Once you’re married to someone, you have to be able to commit yourself to him/her. Kalau tetap mau fooling around, ya, lebih baik tidak usah menikah sajalah. Daripada menyakiti hati orang, bukan?

Ternyata alasan saya itu kurang convincing menurut Fifi. Dia pun mencoba mengeksplorasi saya lagi. Dia penasaran, selain alasan di atas, sebenarnya apa, sih, yang bikin saya begitu kuat untuk hidup berkomitmen setelah menikah.

Akhirnya saya cuma menjawab, “I think I love my daughter so much that I’m very afraid if I do anything wrong, she’ll be taken away from me. I’m also afraid that she’ll hate me forever if I hurt her father.

Fifi membalas (katanya, sih, sambil terharu), “Ra, you’re a great mother. If I become a mom someday, I’m gonna look up on you.”

Terus terang, saya merasa nggak ada yang spesial dari jawaban dan pernyataan saya di atas. I’m very sure, that’s what a mother’s supposed to be and do, right? When I gave birth to my daughter, she became the center of my universe. I care about nothing but her.

Jadi setiap kali saya membuat keputusan, anak saya, Nadira, adalah faktor utama untuk jadi pertimbangan. Apakah keputusan saya itu baik/buruk buat dia, apakah keputusan itu akan memengaruhi dia, dsb. Tentu saja suami juga menjadi faktor penting. Tapi, ya, tetap saja, prioritas nomor satu anak, kedua baru suami.

Saat saya cerita ke suami, dia paham akan perasaan saya. Soalnya, dia pun merasakan hal yang sama. Dia (ngakunya, sih) takut mau macam-macam karena di pikirannya selalu ada Nadira. *let’s cross our fingers shall we? Hehehe..*

Makanya dalam pernikahan, kehadiran anak memang biasanya selalu jadi rem bagi suami maupun istri. Anak bisa jadi pengontrol orangtuanya untuk stop berperilaku aneh. Apalagi, anak selalu mencontoh orang-orang terdekatnya, terutama, orangtuanya, atau istilah kerennya, “Children see, Children Do”. Orang tua harus pintar-pintar bertindak dan berperilaku karena apa pun yang mereka lakukan, akan dicontoh plek-plek-plek sama anaknya.

Saya nggak sok moralis ya. This is truly my personal concern and thought. Apalagi, menurut saya, orangtua, terutama ibu, adalah sosok yang (seharusnya) dijadikan contoh nomor satu oleh anak-anak. Kalau ibunya (maaf) kurang benar, anak-anak akan kehilangan pegangan dan role model bukan?

Makanya, terus terang, saya terharu banget sama ucapannya Giuliana Rancic saat ditanya kenapa dia ngotot mau punya anak : “This baby will save my life”. Ironisnya, si Giuliana ini udah 3x ikut in-vitro fertilization dan sekarang didiagnosa kanker payudara. Sad, eh?

Buat saya, Nadira is my life saviour. I can be a better person I am now because of her. Kalau saya nggak pernah melahirkan dia, saya mungkin akan tetap jadi diri saya yang dulu, yang, ya, begitulah.

Thank you baby for choosing me as your mother!

 


31 Comments - Write a Comment

Post Comment