Ibu = Menteri Keuangan Keluarga

Di setiap keluarga, idealnya ada satu pihak yang mengatur keuangan. Umumnya, yang menjadi menteri keuangan adalah ibu. Kenapa? Ya, biasanya, sih, karena seorang ibu sudah pasti tahu dan berurusan dengan perintilan yang berhubungan dengan pengeluaran keluarga setiap harinya. Mulai dari biaya anak sekolah, bayar listrik, rumah, keamanan, belanja popok, sabun cuci, minyak goreng, beras, hingga liburan.

Nah, jujur ketika pertama kali harus memegang peran ini saya agak kebingungan. Gaya hidup waktu single, terkadang suka kebawa di awal berkeluarga. Hasilnya? Untung, sih, belum pernah minus (ketok-ketok meja), hanya saja agak kebingungan karena pikiran “Pergi kemana uang-uang ituuu..?!” selalu mengganggu. *drama*

*gambar dari sini

Setahun belakangan ini, saya banyak mengikuti seminar, mulai dari kesehatan, parenting, hingga keuangan. Ini semua amat sangat berguna bagi kehidupan saya setelah berkeluarga (eh, buat yang belum berkeluarga juga penting, lho, terutama bagian keuangan itu).

Beberapa pelajaran yang bisa saya ambil terutama dari seminar keuangan itu adalah:

  • Pengeluaran untuk cicilan utang seperti KPR/ KPA, mobil, kartu kredit, dll, tidak boleh lebih dari 30% pendapatan.
  • Pengeluaran untuk kebutuhan keluarga, seperti asuransi, transportasi, belanja bulanan (!!!), pembantu rumah tangga, dll itu sekitar 20-40% dari pendapatan
  • Untuk tabungan dan investasi, sekitar 10-30% dari pendapatan. Lengkapnya tentang investasi, coba cek artikel tentang investasi untuk pemula, deh!

Nah, kalau di atas adalah berdasarkan seminar, sekarang padukan dengan beberapa kiat yang sudah saya lakukan, yuk, antara lain:

  • Mencatat pengeluaran setiap hari itu penting! Saya tipe orang yang agak-agak ‘berantakan’ dan pelupa, nggak heran duluuu sering tidak tahu (dan jadinya tidak peduli) kemana perginya 50 ribu rupiah atau 3 ribu rupiah. Dengan mencatat pengeluaran per hari ini, saya jadi bisa menelusuri, dipakai apa uang tersebut, mengurangi pengeluaran yang dirasa kurang perlu dan tentunya punya laporan ke suami kalau ditanya-tanya, hehehe. Biasanya, kan, para suami suka bingung, masa per bulan uang sekian tidak cukup? :D O, ya, karena kami di rumah masak hampir setiap hari dengan membeli sayuran di tukang sayur (supaya masih segar), maka saya meminta asisten rumah tangga di rumah untuk mencatatnya juga.
  • Memberlakukan belanja bulanan, ya hanya sebulan sekali. Saya ini acara belanja yang disukai selain ke toko buku adalah belanja bulanan atau mampir ke minimarket. Nah, bahayanya, kalau mampir hanya dengan niat membeli sabun misalnya, keluar dari sana tetap saja minimal yang dikeluarkan 200 ribu rupiah juga *face palm*. Jadi, saya mendisiplinkan diri untuk mampir ke supermarket hanya sebulan sekali dengan membawa catatan barang apa saja yang harus dibeli (walau masih suka melenceng 2-3 barang nggak perlu yang dibeli juga)
  • Membeli barang-barang dalam kemasan isi ulang terutama untuk barang-barang rumah tangga sepertu minyak goreng, deterjen, sabun mandi cair, cairan pembersih lantai, dsb. Beda harganya mungkin tidak terlalu jauh, tapi lumayan, lho, kalau setiap belanja bisa menghemat hingga 20.000-50.000 rupiah.
  • Pasang mata dan telinga untuk kata ‘diskon’. Penting banget, nih! Setiap Jumat, beberapa surat kabar nasional memasang iklan supermarket yang berisi beragam barang dengan harga diskon. Nah, ini biasanya menjadi patokan supermarket mana yang akan saya sambangi, hehehe. Ini juga belaku untuk pakaian, sepatu atau lainnya, walaupun, ya, untuk yang ini jangan jadikan ‘diskon’ sebagai alasan :D
  • Untuk urusan suka-suka, anggarannya juga harus ada lho. Misalnya untuk makan di restoran atau liburan. Anggaran untuk pos yang ini, jangan sampai mengambil dari pos lain. Saya dan suami biasanya melirik dari pos pengeluaran sehari-hari, jika memang bulan itu pengeluaran tidak banyak maka bolehlah kami makan di restoran atau bahkan liburan. Nah, urusan yang satu ini, di mana kita sudah begitu akrab dengan dunia internet,  saya sangat berterimakasih sama aneka situs penjual voucher diskon yang mulai marak. Salah satunya Dealgoing.com, yang bikin saya betah di situs ini adalah karena semua situs  dengan konsep sama ditampilkan di sini. Jadi tidak  usah buka banyak tab di laptop untuk tahu ada penawaran apa yang mau dibeli. Istilahnya, one stop shopping gitu, ya :)

Susah- susah gampang sebenarnya mengatur keuangan keluarga. Saya, sih, mengakui bahwa masih jauuuuuuh dari sempurna dalam mengatur keuangan rumah tangga. Tapiiii, nggak ada salahnya kita belajar sama-sama. Mommies di sini ada yang mau sharing kiat dalam mengatur keuangan keluarga?


66 Comments - Write a Comment

Post Comment