Mempersiapkan si Kecil Menjadi Anak Sulung

Suatu pagi seperti biasanya, saya yang sedang mengandung anak kedua bersiap menuju kantor. Namun ada yang tidak biasa hari ini pada Kenzie, si sulung, dia yang biasanya bersemangat bangun pagi, mendadak merengek meminta saya untuk tetap tinggal di rumah, yang paling membuat saya patah hati pagi itu dia bilang, “Kenapa setiap hari cibebi (panggilan kami untuk jabang unborn baby) ikut ke mana-mana Mama pergi, tapi Kenzie ditinggal?” Wow, ternyata menyiapkan kehadiran anak kedua lebih membutuhkan “waktu” dibanding anak pertama yang notabene hanya saya dan suami yang butuh mental menyiapkan menjadi orangtua, apalagi anak pertama kami berusia 3 tahun, masa di mana kepercayaan dirinya sedang tumbuh, namun setengah dirinya masih membutuhkan perhatian.

Saat dinyatakan positif hamil, saya dan suami selalu bilang bahwa Kenzie akan menjadi seorang kakak, saat itu dia merasa menjadi seorang kakak adalah hal yang menyenangkan, bisa bermain bermain bersama adik tanpa harus keluar rumah, dan dengan inisiatifnya dia ikut menyiapkan kebutuhan adiknya seperti membereskan lemari pakaian adik yang telah kami siapkan, bahkan dia bilang nantinya Kenzie yang akan menggantikan popok cibebi kalau Mama di kantor atau ikut andil memberikan makan untuk adiknya. Namun, dari tulisan seorang psikolog yang saya pernah baca, ini merupakan reaksi sesaat dari sang kakak, lihat & tunggu sampai kelahiran itu datang dan dia melihat langsung bayi kecil yang dibawa pulang Ibu, itulah reaksi yang sesungguhnya. Tapi tidak ada salahnya kami sebagai orangtua memberikan sedikit pandangan tentang situasi yang akan terjadi nanti.

Berikut yang kami lakukan selama ini untuk menyiapkan kehadiran adik:

Menjaga untuk tidak memposisikan kehamilan ini menjadi “penghalang” antara saya dan Kenzie. Sebisa mungkin saya melakukan banyak hal bersama walaupun hanya sebentar setiap harinya sepulang kantor, seperti bermain puzzle, mewarnai, atau ketika saya harus istirahat karena perut yang semakin membesar, saya mengajaknya bercerita di atas tempat tidur.

Mengajak Kenzie untuk merasakan saat janin mulai bergerak di dalam perut, bercerita dan bernyanyi bersama untuk adik di dalam perut, sampai ada sebuah rutinitas Kenzie saat bangun tidur bertanya pada “perut” saya, mimpi apa semalam cibebi di dalam sana?

Menceritakan bagaimana rutinitas bayi yang baru dilahirkan, agar dia tidak memiliki ekspektasi tinggi tapi sebenarnya bayi baru lahir belum banyak bisa diajak bermain, Kenzie nanti hanya bisa mencium tangannya, mengelus kepalanya atau belum bisa disuapi makan (seperti yang sangat ingin Kenzie lakukan untuk adiknya), karena adik kecil masih menyusu pada Mama. Bayi kecil juga hanya bisa menangis, karena hanya itu caranya berbicara, saat nanti adik nangis mungkin adik ingin menyusu, atau ingin digantikan popoknya.

Menunjukkan foto-foto pada kehamilan pertama, saat si Kakak berada di dalam perut, foto USG-nya, sampai foto ketika dia IMD, juga menceritakan bagaimana senangnya saya sewaktu kehamilan pertama, ada Kenzie di dalam perut mama, melihat Kenzie lahir, menceritakan proses kelahirannya, bahkan dia sekarang kalau ditanya bagaimana dulu mama melahirkan Kenzie, dia semangat cerita, “Air di dalam perut mama untuk Kenzie berenang dulu (ketuban) pecah pas mama pulang kantor.” Ini akan membantunya mengerti bahwa ia juga pernah merasakan menjadi bayi yang mendapatkan perhatian khusus dan belajar bagaimana bayi bisa tumbuh dan berkembang sampai seperrti sekarang.

Mengajaknya melihat langsung bagaimana keadaan bayi yang baru dilahirkan di rumah sakit yang belum bisa apa-apa, karena saat ini dia melihat anak terkecil di dalam keluarga besar kami anak dari kakak saya yang sudah berusia 1 tahun, terkadang dia berpikir nantinya adik saat dilahirkan sudah bisa makan dan merangkak seperti itu.

- Membuat dia merasa menjadi bagian dari “tim penyambutan bayi” tanpa memaksanya saya minta usul dari Kenzie di mana menempatkan lemari pakaian adik, memilih warna baju untuk adik, sampai saat saya membeli bedong praktis dan mencoba belajar menggunakannya dia pun ikut mengambil alih belajar membendong boneka :D Saat saya meletakkan lemari pakaian adik, sebelumnya saya meminta izin untuk diletakkan di kamarnya, supaya dia tidak merasa “posisinya digeser” dan berterima kasih karena memiliki anak yang baik dan mau berbagi.

Tidak mudah memang untuk memberikan perhatian pada kakak saat kehamilan semakin tua dengan perut yang semakin besar dan tenaga sudah tidak sebanyak pada awal kehamilan, di sinilah peran ayah ikut membantu, dan untungnya anak kami laki-laki, jadi bisa mandi bersama ayah, atau melakukan hal-hal seperti menyuci mobil dan lainnya. Terkadang dia juga mulai bertingkah seperti anak bayi, merengek, mengucapkan kata-kata yang tidak jelas seperti “bubu baba”, sampai minta nenen walaupun hanya pura – pura. Tapi itu menjadi hal yang wajar, saat dia mulai merengek dengan kalimat bayi, saya bilang Kenzie adalah seorang anak yang sudah pintar bicara, tapi kalau Kenzie hanya mau bermain menjadi bayi lagi boleh, lalu kami pun mulai bermain seolah-olah ia seorang bayi yang minta menyusu dan dibedong :D

O, ya, satu lagi yang saya dapatkan dari guru sekolah Kenzie, saat nanti adiknya lahir, dan dia mogok sekolah, jangan memaksanya, karena masa – masa tersebut adalah waktu yang rentan untuk kepercayaan dirinya.

Semoga upaya kami dalam menyiapkan mental anak pertama membuatnya menjadi seorang kakak yang menyayangi dan bisa berbagi dengan adik kelak, juga membuatnya menjadi seorang kakak yang lebih percaya diri.


23 Comments - Write a Comment

Post Comment