Menikah atau Kuliah?

Biasanya, alur kehidupan seorang perempuan adalah: kuliah-bekerja- menikah-punya anak. Tapi ada beberapa perempuan yang menurut saya berani ambil risiko dengan menikah dulu sebelum lulus kuliah. Kenapa menurut saya penuh risiko?

Kehidupan setelah menikah dan menjadi ibu yang sekarang saya jalani ini menurut saya sangat kompleks. Mengayomi anak, menjadi partner suami, keuangan keluarga, dan lain sebagainya dan seterusnya.

Saya tidak sanggup membayangi dalam kondisi saat ini tapi saya sambil kuliah. Harus mengerjakan tugas, mikirin skripsi, mengejar dosen, haduuuuh … bisa pecah kepala!

Dua di antara perempuan yang mengambil risiko untuk menikah (lalu kemudian punya anak) sambil meneruskan kuliah adalah Gemma dan Dhalia yang menikah di usia 23 tahun.

Alasan menerima pinangan :D apa?

Lia: Terlalu klise kalo saya bilang saya mencintai dia, awalnya saya juga gak mengira akan menikah secepat itu. Kaget waktu cuma nanya SMS “Lagi apa?” dan dia jawab ” Lagi ngomong sama mama dan ayah kapan ada waktu untuk melamar kamu”. Itulah awalnya … kaget karena sebelumnya kita tidak pernai membicarakan pernikahan, meskipun kalau pas berantem (waktu pacaran) dia selalu bilang “Tahun depan aku nikahin kamu”. Tapi pada dasarnya saya merasa  hubungan yang dijalani selama kurang lebih 2 tahun membuat kami saling membutuhkan dan kami pun sama-sama nyaman menjalani hubungan ini. Itu pertimbangan utama saya.

Gemma: Alasannya adalah … lakinya ngebet! Hahaha, awalnya tidak menyangka bakal nikah semuda itu, tapi pacar saat itu pintar ambil hati dan sebenarnya memang sudah sreg dan ngebet kawin juga, sih … (apa ini yang namanya dibutakan gejolak nafsu kawula muda?)

Sempat ada pertimbangan untuk tunggu selesai kuliah dulu baru menikah?

Lia: Pasti ada. Tapi jujur saat itu saya tidak bisa ambil keputusan sendiri, agak bingung juga, nih. Jadi sebelum ambil keputusan, saya diskusi dengan kakak (yang kebetulan belum menikah) dan ibu saya. Mereka menyerahkan pada saya dan mendukung apa pun keputusannya. Cuma catatan dari ibu dan bapak adalah walaupun sudah nikah kuliah harus diselesaikan. Bahkan setelah menikah saya masih dapat supply biaya kuliah 1 semester dari orangtua, sempat menolak tapi orangtua maksa kata mereka, “Ini terakhir kali, kok, mama sama papa biayain pendidikan kamu.” Hiks, jadi sedih mengingatnya.

Gemma: Sempat banget, orangtua juga maunya lulus dulu baru nikah. Apalagi saya juga sempat ganti jurusan kuliah. Tapi lagi-lagi calon suami dan keluarganya ingin cepat-cepat nikah (tolooong aku, mak!). Suami juga berusaha meyakinkan bahwa menikah bukan halangan untuk lulus kuliah. Halangan memang tidak, sih, tapi lulusnya jadi lama, yaaa. Pokoknya saat itu calon suami jamin si cewek kuliahnya tak akan terbengkalai, didukung sepenuh jiwa raga, hal itu juga yang akhirnya membuat saya mengiyakan pinangan. Uhuy.

Setelah menikah, lanjut atau cuti cuti kuliah?

Lia: Saat itu saya nikah Agustus 2004, Alhamdulillah selang sebulan setelah menikah saya dinyatakan hamil 2 minggu. Kami memang tidak ingin menunda punya anak. Saat itu awal semester baru dimulai, sampai usia kehamilan 6 bulan saya masih tetap kuliah. Alhamdulillah saya kuat dan senang menjalani masa-masa kuliah saat hamil, kerja pula. Duhhh capenya terasa banget, apalagi selesai kuliah pagi, langsung ngantor, tapi untuk semester berikutnya saya ambil cuti kuliah 1 semester karena usia kandungan sudah 7 bulan. Dua bulan lagi bakal melahirkan, deh … lalu berpikir lagi setelah melahikran berencana ASI eksklusif jadilah ambil cutinya 2 semester.

Gemma: Alhamdulillah 2-3 bulan setelah nikah langsung hamil. Tetap lanjut kuliah, justru jadi semangat kuliahnya dengan perut buncit, berasa diperhatikan sekeliling, halah…. Paling yang tidak tahu menyangka tekdung lebih dulu, hahaha. Kebetulan suami juga teman sekelas, jadilah tiap hari kita kuliah bertiga sama si bayi di kandungan :D

Setelah menikah dan punya anak, bagaimana membagi waktu dengan kuliah?

Lia: Alhamdulilah saat saya masih kuliah saya masih tinggal sama mertua yang dengan senang hati menjaga anak saya. Ketika kuliah sambil kerja, jadwal kuliah memang tinggal sedikit jadi saya tidak setiap hari kuliah. Untuk kuliah, saya ambil jadwal seminggu 3 kali, di hari-hari lainnya saya bisa membagi waktu antara kerja dengan mengurus anak. Me time saya … ya saat jam istirahat di kantor. Jadi kalau libur kerja dan kuliah, waktu benar-benar saya curahkan untuk keluarga.

Gemma: Masa ini masa yang paling stres dan bikin pegel-pegel atur jadwal. Pertama, ternyata Yardan lahir dengan kelainan jantung bawaan yang berarti membuat saya harus memberikan perhatian khusus. Sempat bingung juga, di satu sisi ingin total sama anak, di sisi lain tidak mau mengecewakan orangtua dengan meninggalkan bangku kuliah. Alhamdulillah keluarga sangat mendukung, jadi selama saya kuliah Yardan dititip ke rumah orangtua dulu. Tugas-tugas kuliah juga dikerjakan saat anak tidur atau multitasking tangan kiri menyusui bayi dan yang kanan mengetik makalah. Jadi, ya, sebenarnya badan rontok banget habis melahirkan langsung digeber begadang momong bayi, tugas kuliah, dan ujian.

Biasanya, kan, lulus kuliah pada sibuk cari kerja. Nah, kalian sendiri gimana?

Lia: Dari sebelum menikah sampai saat ini saya masih kerja di tempat yang sama, jadi ketika lulus kuliah saya tidak sibuk cari kerja. Setelah lulus kuliah saya benar-benar menikmati yang namanya jadi sarjana komunikasi, ibu dari anak saya, dan karyawan. Target saya setelah lulus kuliah adalah siap-siap hamil anak kedua. Hehehe dan akhirnya, Alhamdulillah beberapa bulan setelah wisuda saya hamil anak ke-2.

Gemma: Lehaaa-lehaaaa. Tidur, shopping, tidur, shopping … maunya, sih, gitu. Kenyataan, sih, tetap mengejar-ngejar anak untuk mandi di rumah! Untuk sekarang ini saya belum mau kerja kantoran. Keingian, sih, ada tapi prioritas untuk ada di samping anak sekarang ini nomor satu.

Pernah mengalami saat tersulit dengan posisi menjadi ibu, istri, dan mahasiswa? Share dong :)

Lia: Wawwww … ini, nih … membuat saya agak jauh dengan anak saya yang pertama. Saat itu saya lagi menargetkan kalau dalam waktu 2 bulan skripsi harus selesai. Akibatnya, waktu untuk si abang Axl jadi sedikit banget dan dia jadi lebih dekat dengan ayahnya dibanding bundanya. Sedih banget, tapi semua itu pilihan yang harus saya jalani, berat banget. Untung suami dukung banget, dia yang menyemangati, “Demi skripsi memang harus ada yang dikorbankan. Untuk urusan abang serahkan pada saya. Mumpung anak masih satu, kamu prioritasin skripsi dulu, deh.”

Mana pekerjaan di kantor lagi padat-padatnya. Saya bisa selesai syuting pukul 4 pagi sementara pukul 7 pagi harus berangkat lagi. Belum sempat tidur, sampai di rumah hanya untuk mandi lalu dijemput lagi untuk beraktivitas. Tidak tegaaaaa sekali liat Abang Axl di gendongan ayahnya, saya cium-cium sebelum berangkat sambil saya berbisik ke telinganya, “Maafkan bunda, ya, Nak”. Setelah itu saya langsung nangis.

Kalau selesai syuting lebih cepat yaitu sekitar pukul 12 malam, saya tidak langsung pulang ke rumah tapi ketemu dengan senior kampus yang membimbing skripsi saya. Di hari libur, saya sibuk membuat revisi skripsi.

Melihat kondisi saya seperti itu banyak yang tanya, kenapa tidak berhenti kerja saja, sih. Inginnya, sih, begitu, tapi karena materi skripsi berhubungan dengan kantor tempat saya kerja dan kantor memberi keleluasaan untuk melakukan riset serta boleh membagi waktu dengan kuliah tanpa potong gaji sedikitpun membuat saya memutuskan untuk tetap bekerja. Alhamdulillah semua itu bisa terlewati.

Gemma: Pernah dan banyaaaak…. Terutama masa-masa awal setelah melahirkan, bawaannya mewek melulu meratapi hidup. Sejak tahu anak saya juga memiliki kebutuhan khusus, maka keinginan saya adalah melakukan apa pun yang terbaik untuknya. Di lain sisi saya juga mau mempertahankan nilai-nilai saat kuliah dan lulus tentunya. Saya juga berniat memberikan ASI eksklusif kepada Yardan, jadi malam saya pompa ASI biar saat kuliah saya tenang menitipkannya di rumah orangtua.

Bencana sempat datang pas kuliah libur, saya males mompa dan langsung kasih ASI langsung dari gentongnya. Ketika kuliah masuk lagi ternyata Yardan sama sekali tidak mau minum ASIP apa pun medianya (cup, sendok, dot), maunya langsung nemplok ibunya. Puluhan botol ASIP terbuang percuma karena Yardan tidak mau minum kalo tidak nempel puting ibunya. Akhirnya saya menyusui Yardan sebelum kuliah, berangkat ngebut untuk kuliah sebentar, pulang buru-buru, dan langsung menyusui Yardan lagi. Untung jarak kampus dan rumah orangtua dekat dan bisa ditempuh dengan waktu sekitar setengah jam. Saat itu Yardan baru berusia tiga bulan dan hal tersebut membuat saya tidak tenang, akhirnya memutuskan untuk cuti kuliah selama setahun.

Selama skripsi dapat dikatakan saya hanya tidur 4 jam per hari. Saya baru bisa mengerjakan skripsi ketika anak tidur siang atau malam. Soalnya Yardan memang paling gratak kalo lihat laptop ibunya dalam keadaan siap pakai, bawaannya mau ikut main saja. *keluh*

Pengalaman berharga apa yang kalian pelajari dengan menjalani ini? (misalnya jangan menikah sebelum lulus kuliah? hihhi)

Lia: Pengalaman berharga jadi mahasiswa sekaligus ibu dan istri memang berat, tapi kalau kita sudah berhasil menjalaninya, nikmatnya luar biasa. Kalau ada momies yang terlanjur menikah sebelum lulus kuliah sebaiknya harus punya niat yang kuat dan pengorbanan demi tercapainya “LULUS KULIAH”, misalnya :
1. Dukungan dari keluarga sangat diperlukan mulai dari suami, orangtua, dan mertua
2. Skala Prioritas, tagetkan apa yang harus dicapai,
3. Kalau menurut saya, urusan anak adalah urusan kita dan Tuhan, jadi kalau tiba-tiba hamil itu berarti anugerah, jangan dianggap beban. Tuhan kasih kita anak karena Dia percaya kita bisa menjaga titipan-Nya.
4. Lakukan semuanya dengan hati yang ikhlas. Kadang kita lelah dengan urusan kuliah atau pekerjaan, di rumah anak rewel, sakit, atau GTM. Nah, jangan panik menghadapi ini … maklumi saja, anak jarang ketemu kita … jadi sekalinya kita punya waktu, dia akan sangat minta perhatian ibunya.

Hidup itu pilihan, apa pun yang kita pilih jalani dengan hati yang ikhlas dan nikmati saja. Menjalaninnya berat tapi ketika sudah berhasil melewatinya tidak sangka kita ternyata bisa. Alhamdulillah anak-anak saya tumbuh jadi anak yang mandiri terutama Abang Axl, sekarang sudah kelas 1 SD tapi masih sering saya peluk dan ciumi pipinya. Kalau yang kecil … Alhamdulilah saat dia bayi waktu saya sudah cukup luang tidak seperti zaman abangnya. Lulus kuliah setelah menikah dan punya anak rasanya seperti bisul yang sudah pecah. Legaaa banget. Haha.

Gemma: Tentunya kalau mau hidup lebih damai sejahtera … ya lulus kuliah dulu baru kawin. Nafsu bisa nunggu, kok. Hihihi.

Tapi seandainya memang harus menikah dan punya anak saat masih kuliah, selama dalam diri ada niat untuk menyelesaikan kuliah, pasti bisa. Peran keluarga sangat membantu dalam memberikan dukungan dan bantuan agar kita dapat menyelesaikan kuliah. Bersyukur sekali bisa dapat dukungan luar biasa dari suami dan orangtua hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah dengan jurusan yang disukai tanpa harus kehilangan waktu dengan anak.

Yang harus diteriakkan dalam hati tiap hari adalah kata: SEMANGKAAA! (Semangat Kuliah demi Anaknya, Kakak!) :D

Kalau membaca cerita dua mommies di atas rasanya ikutan stres juga, ya, tapi bisa dilihat keduanya memiliki optimisme tinggi terhadap kehidupan makanya berhasil melewati masa-masa sulit. Selamat ya, Gemma dan Lia!


31 Comments - Write a Comment

Post Comment