Shakii, Anakku si Pejuang Kehidupan

Dari awal kehamilan, janin saya memang ada di luar kandungan. Dokter sudah memberikan ultimatum kuret, tetapi saya tetap positif dan coba pengobatan alternatif. Alhamdulillah, dengan izin-Nya, janin bisa masuk ke rahim. Tapi kandungan saya memang ringkih.

Pada usia kehamilan 4 bulan, ibu yang juga sekaligus sahabat setia saya, meninggal karena malpraktik. Hal tersebut mengakibatkan kondisi saya drop, stres berat dan hampir depresi. Stres ini memicu keputihan makin banyak dan keputihan itu membuat kontraksi sering terjadi. Di usia kehamilan 7 bulan, berat badan saya hanya naik 6 kg. Berat bayi hanya sekitar  1.7 kg. Selain itu, dia terlilit tali pusar 2 kali. Dokter menyarankan agar saya mengonsumsi makanan berlemak.

Seminggu setelah check up terakhir, saya mengalami kontraksi hebat. Dokter kemudian menyuntikkan cairan agar paru-paru bayi matang. Tiga hari kemudian, saya seperti mengompol tetapi tidak bau apa-apa. Saya kira itu hanya keputihan seperti biasanya.

Satu minggu setelahnya, saya berkonsultasi lagi ke dokter. Berat bayi naik menjadi 1.8 kg tetapi air ketuban hanya ada 60 persen dan setelah di-CTG, detak jantung bayi melemah. Saat itu juga dokter merujuk saya untuk sectio keesokkan harinya (14 Maret 2010), karena jika ditunda bayi mungkin tidak selamat. Saya masih berharap untuk bisa melahirkan melalui proses normal, tapi kondisi bayi tidak memungkinkan.

Saya syok, bukan karena belum siap. Tapi was-was proses kelahiran gagal dan bayi tidak selamat. Semalaman saya tidak bisa tidur saking gugupnya. Bayi ini adalah cucu pertama di keluarga saya dan sangat ditunggu-tunggu terutama oleh almarhumah ibu. Jadi semua perasaan campur aduk; excited, takut, dan juga sedih karena ibu tidak bisa bertemu cucunya. Alhamdulillah, suami lebih ikhlas dan tenang menghadapi situasi ini.

Karena saat operasi saya hanya dibius lokal, saya bisa berdoa terus semoga anak bisa lahir selamat. Tepat pukul 07.20 saya mendengar tangisan pertamanya. Masya Allah … saya tidak sanggup melihatnya. Tubuhnya kecil sekali, biru. Saking kecilnya, saat diangkat suster terlihat seperti anak kucing. Haha.

Pasca melahirkan bisa jadi masa tersulit untuk saya. Saya dengar anak saya baik-baik saja, semuanya normal. Dia hanya perlu dirawat di dalam inkubator, prosedur standar untuk bayi prematur. Tak lama, suster menelepon dan meminta suami menemui dokter. Singkat cerita, anak kami kritis. Kemungkinan dia bertahan hidup 50-50. Dia tidak bisa selamat tanpa alat bantu. Suami saya berkata, “Tadi ketika saya melihatnya, dia sulit bernapas sampai lekukan tulangnya terlihat saat dia menarik napas. Saya tidak sanggup melihatnya. Saya bilang ke dokter untuk melakukan apa pun asalkan dia bisa selamat.”

Saat itu saya masih belum bisa melihatnya, hanya dari foto saja. Setelah pengaruh bius habis, saya masuk ke ruang NICU yang isinya inkubator berukuran besar dan alat pendeteksi denyut jantung. Lalu saya tertegun melihat inkubator dengan tulisan “Bayi Ny. Rinta” di depannya. Kontan saya lemas. Ya, Allah … sekecil itu bayi saya. Saya tidak tega melihatnya penuh selang.

Melihat saya menangis terus, suster pun berkata, “Jangan menangis, Bu. Kasihan, lho, bayinya. Ayo, lebih baik ajak ngobrol saja agar dia kuat.” Tim Dokter Perinatologi menjelaskan bahwa bayi prematur sangat bergantung pada kondisi dirinya sendiri, seberapa kuat dia bisa bertahan hidup. Jika ditanya sampai kapan dia harus berada dalam inkubator, hanya Allah yang tahu jawabannya, ujar dokter.

Di saat ibu lain bisa menyusui langsung anaknya, saya tidak bisa menyentuh anak saya sama sekali. Hanya bisa lihat dari kaca. Shakii, nama panggilan kami untuknya, hanya bisa minum dari selang. Setelah hari ke-4, Shakii sudah boleh menyusu langsung dan ketika saya gendong … itu adalah 30 menit yang paling indah dalam hidup saya.

 

Walaupun saya tidak berhasil memberikan ASI eksklusif tapi Alhamdulillah Shakii sehat. Sempat memiliki masalah berat badan yang kurang tetapi dia jarang sakit. Jadi kalau banyak yang bilang anak prematur itu ringkih dan sakit-sakitan, Alhamdulillah tidak terjadi pada Shakii.

 

Tumbuh kembangnya juga sesuai dengan usia. Shakii baru bisa berjalan saat usia 16 bulan, mungkin sedikit terlambat, tetapi saya tidak khawatir. Dari usia 1 tahun, Shakii aktif panjat sana-sini. Sekarang, di usia 20 bulan, dia mulai lari ke sana kemari dan bawel sekali walaupun yang terdengar hanyalah bahasa planet. Terpenting, nih … Shakii tahu, lho, kuas blush on harus dipakai di mana. Begitu juga dengan lipstick dan maskara. Benar-benar duplikat mamanya, deh. Hihihi.

Menulis pengalaman ini untuk Mommies Daily membuat saya tambah bersyukur karena Allah memberikan saya kesempatan untuk menjadi ibunya Shakii. I love you, Almeera Azzalea Shakii ….

 

 

 


32 Comments - Write a Comment

Post Comment