Ubud, Dongeng Sekolah Tebing dan Happiness

Selalu ada senang yang berbeda setiap kali akan melakukan perjalanan ke Bali dibandingkan dengan melakukan perjalanan ke kota atau tempat lainnya. Siang itu saya dan Clara Ng berangkat dari Jakarta melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Meski bukan high season, tidak sedikit saya temukan keluarga yang juga berangkat berlibur. Saya lihat satu keluarga, sepertinya warga negara asing, dengan 3 anak yang semuanya masih toddler siap berlibur tanpa bantuan nanny. Heboh tapi sepertinya ayah dan ibunya menikmati. Jadi kangen anak di rumah, deh. Baru juga mau berangkat. Hehe.

Ya tentunya perjalanan ke Bali kali ini adalah dalam rangka menghadiri Ubud Writers dan Readers Festival 2011 (UWRF) yang berlangsung pada 5-9 Oktober 2011. Saya dan Clara Ng mewakili Buah Hati yang mengisi acara di Youth & Children Program. Berlangsung pada hari pertama yaitu 5 Oktober, acara kami adalah “Buah Hati: Dongeng Sekolah Tebing Writing Class with Clara Ng”. Masih dalam rangka peluncuran buku Dongeng Sekolah Tebing: 52 Kisah Sekolah Terpencil di Ujung Angin karya Clara Ng. Di  UWRF kali ini Clara Ng berbagi cara menulis fiksi untuk anak-anak usia 8-12 tahun.

Kami sampai di Ubud sudah gelap, setelah makan malam di Bebek Bengil, kami langsung check in di hotel, disambut dengan pemandangan sawah di teras belakang kamar kami. Wah, sudah resmi sampai di Ubud nih, ya. :)

Suasana festival UWRF sangat terasa. Café, restoran, galeri dan tempat kebudayaan lainnya di sepanjang jalan utama di Ubud siap menyambut para tamu festival ini yang datang dari berbagai negara. Turis maupun wisatawan domestik sudah terlihat bersliweran, menikmati jalan kaki di kota kecil nan nyaman ini.

Keesokan harinya, kami bangun pagi untuk sarapan di teras belakang kamar kami, dengan pemandangan sawah yang hijau. Di seberang sawah terlihat tamu hotel lainnya bersiap untuk spa yang diawali dengan yoga dengan pelatih privat. Enaknya. :)

Setelah sarapan kami langsung menuju ke pusat kota, untuk persiapan acara. Lokasi acara kami di Bale Banjar Ubud Kelod, terletak di jalan utama Monkey Forest. Ada dua venue utama untuk Youth & Children Program: Bale Banjar Ubud Kelod dan Pondok Pekak, lokasinya berdekatan.

Youth & Children Program di UWRF memiliki acara-acara yang menarik untuk diikuti anak-anak. Ada story telling, workshop pembuatan banner dan kaus, talkshow untuk remaja,  pertunjukkan musik dan masih banyak lagi. Terbuka untuk umum dan gratis, lho.

Acara kami dimulai jam 3 sore. Anak-anak sudah berkumpul dan sudah siap dengan alat tulisnya. Clara memulai acara dengan menjelaskan hal-hal penting yang harus ada dalam sebuah tulisan fiksi, seperti: setting, karakter, sudut pandang dan konflik. Anak-anak berpartisipasi dengan antusias terutama ketika Clara memberikan kesempatan pada mereka untuk bersama-sama untuk menciptakan sebuah karakter.

Setelah Clara selesai memberikan materi, anak-anak diberi kesempatan untuk menulis cerpen selama 20 menit. Suasana hening dan satu dua anak celingukan mencari inspirasi. Menarik memperhatikan ekspresi dan tingkah laku mereka. Tentunya saya penasaran dengan ide yang melintas di kepala mereka dan apa yang mereka tuliskan sebagai wujud dari inspirasi yang didapat.

Dua puluh menit usai dan satu per satu anak-anak mengumpulkan karya mereka. Saya menemani Clara membacanya satu per satu. Senyum-senyum tentunya. Selalu menyenangkan membaca atau melihat karya anak-anak. Bukan keluguannya yang menarik, tapi kebebasan berpikir mereka yang kemudian tertuang dalam tulisan yang menarik disimak.

Clara kemudian memilih beberapa karya terbaik dari segi penceritaan, setting, tokoh, sudut pandang dan karakter. Tiga anak mendapatkan buku Dongeng Sekolah Tebing tentunya. Najelaa Shihab, Direktur Buah Hati yang sore itu juga hadir kemudian menyerahkan Dongeng Sekolah Tebing kepada Clara sebagai tanda resmi buku ini diterbitkan. Memang keesokan harinya yaitu 6 Oktober 2011, Dongeng Sekolah Tebing resmi beredar di toko buku untuk pertama kalinya. Kini sudah bisa didapatkan di TB. Gramedia dan Toko Gunung Agung seluruh Indonesia dan Times Bookstore Jabodetabek. Bisa juga didapatkan dengan menghubungi Buah Hati di 021-7421913.

Acara diakhiri dengan foto bersama dan booksigning dengan para peserta yang bukan cuma anak-anak, karena di kursi belakang juga banyak orang dewasa yang ikut menyimak kelas ini. Intinya, sore itu semua belajar dan semua senang.

Keesokan harinya saya sempat berkeliling lagi di Youth & Children Program UWRF. Bukan hanya main program (untuk umum/dewasa) yang dipenuhi oleh kebanyakan turis asing, Youth & Children Program juga diminati oleh turis asing. Ada beberapa program yang memang bilingual.

Sisa hari kedua saya habiskan dengan jalan kaki di sekitar jalan Monkey Forest, banyak toko-toko baju, restoran, furniture dan barang-barang lucunya. Favorit saya adalah toko selai (jam) homemade. Saya pilih apel dan cinnamon untuk oleh-oleh.

Besoknya, hari terakhir saya di UWRF, saya sempat mengikuti salah satu sesi di main program berjudul Happiness: Inhereted or Learned? Wow! Judul yang provokatif dan sangat menggugah untuk melangkahkan kaki ke sesi itu. Sesi yang diisi oleh 4 orang panelis itu cukup mencerahkan hati dan membuat saya yakin bahwa saya sebaiknya hadir di Ubud Writers & Readers Festival tahun depan. Terlalu banyak hal menarik  dan kurang asik kalau dilewatkan.

Secara keseluruhan festival ini recommended untuk Anda yang ingin berlibur bersama keluarga dan bisa mengikuti berbagai aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat. Atau cocok juga untuk mommies yang ingin me-time dan sejenak mengambil jarak dengan rutinitas sehari-hari.

Malam itu saya kembali  mendarat di Jakarta  dan sudah tengah malam. Sampai di rumah kembali tidur sekamar dengan suami dan anak. My happiness. :)

 


15 Comments - Write a Comment

Post Comment