Bonding Ayah dengan Anak, Harus Diusahakan!

Bonding antara Aluf dan suami saya sebenernya tidak terbentuk secara alami. Walaupun suami saya tipe laki-laki yang sangat suka anak kecil dan betah menemani mereka bermain, keluarganya didominasi oleh laki-laki. Sepupunya kebanyakan laki-laki, begitu juga dengan keponakannya. Sementara Aluf tumbuh jadi gadis kecil yang super girly. Hanya mau pakai rok, itupun dengan warna pink, tergila-gila dengan semua hal yang bertema princess atau fairy, dan sama sekali tidak tertarik dengan dunia cowok, seperti menonton acara olahraga. Padahal nonton bola adalah salah satu hal favorit papanya. Dulu sebelum punya anak, suami saya bercita-cita banget nonton bola bersama istri dan anaknya sambil pake jersey tim kesayangannya dan bersorak-sorai bersama. Kenyataannya, setelah anaknya cukup besar untuk “mengerti” permainan bola, Aluf malah berlomba bersama saya untuk kabur ke kamar untuk membaca buku cerita setiap ada tayangan bola di televisi. Kasihan sekali, ya, suami saya?

 

Jadi wajar banget kalau dia merasa agak tersisih karena tentu saja buat saya, segala hal yang diminati Aluf dengan mudah bisa saya mengerti dan kami berdua “nyambung” sekali. Belum lagi Aluf memang lebih memilih nempel sama saya di rumah. Tapi suami saya tidak pernah menyerah. Berbagai kegiatan dia rancang supaya dia dan gadis kecilnya bisa menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang. Dari mengajak Aluf ke playground dekat rumah seminggu sekali sampai mengajaknya ke mini market untuk membeli popcorn, atau ke toko buku berdua saja. Tapi dari semua kegiatan yang mereka lakukan, mereka berdua tampak paling enjoy ketika membuat berbagai prakarya.

 

Tidak seperti saya yang kurang crafty, suami saya senang sekali mengajak Aluf bereksperimen dengan lem, gunting, kertas warna-warni, dan glitter. Prakaryanya, sih, sederhana banget, seperti artwork yang dibuat dari guntingan majalah dan diberi bingkai dari karton hitam, sampai membuat unta (ya, unta!) dari kardus bekas. Aluf menikmati sekali kegiatan tersebut dan melihat betapa bangganya dia dengan hasil karya yang ia buat, membuat saya mengurungkan niat untuk ngomel melihat betapa berantakannya rumah setelah kegiatan itu.

Satu momen yang saya tidak akan lupa adalah ketika ulang tahun saya tahun lalu, Aluf dan suami saya membuat gambar pemandangan dari kertas warna-warni, kapas, glitter, dan manik-manik. Rupanya mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk membuatnya dan ketika saya sampai di rumah, Aluf melonjak-lonjak menyambut saya di pagar rumah, tampak sangat tidak bisa menahan rasa gembiranya saat menunjukkan hasil karya tersebut ke saya sebagai hadiah. It was definitely a sweet “awww” moment for me

 

Anyway, ini cuma sekedar sharing. Tapi saya merasa bersukur suami saya mau mengeluarkan usaha ekstra untuk bisa dekat dengan putri kecilnya. Apalagi saya sendiri tidak terlalu dekat dengan ayah saya karena (menurut saya) ayah tidak terlalu mengusahakan kedekatan kami dan kami nyaris tidak mempunyai kesamaan. Bisa jadi karena ayah saya adalah produk zaman dulu, yang menganggap bahwa tugas seorang ayah adalah mencari uang untuk keluarga, sementara urusan anak murni tugas istri, termasuk urusan bonding. Lagian zaman itu juga belum kenal istilah bonding kali, ya? Sangat bisa dimengerti, sih, tapi akibatnya, sejak kecil sampai sekarang saya mengalami kesulitan untuk menemukan topik yang bisa kami bicarakan dengan seru. So even though I love my dad and our relationship is fine, sometimes I do wish we were closer.

Hubungan ayah-anak, seperti juga kebanyakan hubungan lain, memang butuh kerja keras untuk dijaga agar tetap mesra dan akrab. It’s not easy but it’s worth it. Tidak mau, kan, ada di situasi, di mana 10 tahun dari sekarang kita duduk berdua dengan anak dan mati gaya nggak tahu apa yang harus diobrolin? ☺

How about you, moms? Ada nggak kegiatan suami dengan si kecil yang spesial buat mereka sendiri? Share, yuk, di sini!


50 Comments - Write a Comment

Post Comment