Cerita Hanna dan Granuloma Umbilical

by: - Tuesday, September 27th, 2011 at 8:00 am

In: Health 22 responses

0 share

Kejadian ini saya alami 2 tahun lalu. Berawal dari kecurigaan kenapa pusar Hanna, anak ke-2 saya, tak kunjung kering padahal sudah puput 1 bulan lamanya. Jadi, di pusar Hanna ada daging kecil yang muncul, sepertinya tidak ikut puput dan keluar cairan warna kuning, lengket tapi tidak berbau.

Dokter yang periksa bilang itu open umbilical dan untuk menghilangkannya lewat operasi. Sempat terbersit, apa tidak ada cara lain selain operasi, tapi, ya, coba, deh, diperiksa lebih lanjut dulu.

Mulai browsing cari dokter bedah anak. Ketemu satu nama dokter yang praktik di RS di daerah Cempaka Putih. Lumayanlah tidak terlalu jauh dari rumah. Dokter dengan pembawaannya yang menunjukkan bahwa dia dokter senior, melihat pusar Hanna dan surat rujukan sekilas lalu mengatakan bahwa itu adalah Granuloma Umbilical lalu memvonis harus operasi. Enteng sekali dia bilang bahwa itu operasi kecil yang bisa saja berubah menjadi operasi besar bila ternyata saluran yang terbuka adalah saluran yang terhubung ke saluran tinja. Padahal sudah saya katakan kalau cairan yang keluar tidak berbau, logikanya kalau cairan berasal dari saluran tinja pasti bau kan, ya? Langsung  si dokter buat surat pengantar untuk Hanna tes darah buat persiapan operasi.

Terdorong ketakutan karena maraknya malapraktik dan ketidaktegaan apabila harus melihat Hanna yang baru berumur 1,5 bulan dioperasi, saya memutuskan untuk mencari pendapat kedua. Coba lempar ke milis sehat, dapat lagi satu nama dokter bedah anak yang praktik di RS Harapan Kita.

Besoknya tanpa menunggu waktu, saya meluncur ke RS Harapan Kita dengan menyiapkan hati dan telinga jika ternyata Hanna memang harus dioperasi. Dokter yang datang, dr. Ariono Arinto, Sp. BA, tak kalah senior dengan dokter yang pertama. Melihat pusar Hanna dengan seksama, tetap dia bilang kalau itu Granuloma Umbilical, tapi bedanya dia mau melakukan perawatan dulu dengan Albothyl selama 2 minggu. Kalau ternyata tidak membawa pengaruh berarti satu-satunya cara memang harus operasi.

Selama 2 minggu, setiap habis mandi, daging kecil di pusar Hanna saya oleskan Albothyl. Hari ke-4 mulai keliatan hasilnya. Daging menghitam dan mengkerut seperti pusar yang mau puput  dan kering, tidak ada lagi cairan yang keluar. Menjelang 2 minggu malah sudah mengeras.

Saat kembali menemui dr. Ariono, beliau berkata kalau ini tinggal diikat aja pakai benang sampai putus sendiri. Tapi yang terjadi waktu beliau kembali mengoleskan Albothyl adalah daging itu putus dengan mudah. Alhamdulillah… Senangnya bukan main. Waktu saya tanya apa yang harus lakukan setelah ini, dokter ramah itu menjawab sambil mencolek pipi Hanna yang gembil, “Tidak ada. Mandi seperti biasa. Dah pulang sana. Jangan balik-balik lagi, yaaaa.” Pesan moral dari cerita saya, moms … pastikan kita mendengar pendapat dokter lain sebelum memutuskan melakukan tindakan medis yang rumit.

Share this story:

Recommended for you:

22 thoughts on “Cerita Hanna dan Granuloma Umbilical

  1. Pingback: lita iqtianti
  2. Pingback: widya wardani
  3. Pingback: Amalia Nastiti
  4. Pingback: Nur Jamila
  5. Pingback: siwi e saritri
  6. Pingback: shinta wahyuni
  7. Pingback: Ana Ersam
  8. Pingback: ayu vidya
  9. Pingback: anindya adi
  10. Pingback: audy reza
  11. Pingback: Lina Hiefrina
  12. setuju bgt, mamanya Hana pintar. Mo sharing jg, sama kya Kimi,anakku waktu umurnya msh dbwh setahun dia suka batuk, ya biasa penyakit anak klo musim hujan dtg. tp pernah batuknya dua minggu ga sembuh2 awal2 jg pake sesak napas, kya org asma. Anakku tiap batuk pasti diawali sesak napas, ngeri ngelihatnya,. Dan tiap ke dokter, hampir slalu dibekali antibiotik, Kebetulan aku sbnrnya org yg anti kasi obat2an ke anak, aplg antibiotik. jadi kadang aku tuh ke dokter cm utk cari opinion aj, pas pulang krmh yg antibiotik seringnya ga kuminumin ke Kimi. Padahal dokternya bilang ni klo seminggu lg ga sembuh mo difoto ronsen utk tau apkah Kimi ga TBC. huh, sebal aj dngernya, masa anakku TBC, kan drmh ga ada yg ngerokok. jd kudiemin aja kimi batuk, sampe sebulan lamanya eeh tu batuk lenyap sendiri, alhamdulillah. sampai skrg diumurnya 3,5thn dia udh jarang batuk, n ga prnh sesak lg napasnya, senang deh.

  13. Pingback: Mommies Daily
  14. Pingback: Mommies Daily
  15. Pingback: Mommies Daily
  16. Pingback: Mommies Daily
  17. Pingback: Amalia Nastiti
  18. Pingback: Mommies Daily
  19. Pingback: Dewinta Maharani
  20. Pingback: lita iqtianti

Leave a Reply