Gandrasta: An Extraordinary Single Dad

by: - Monday, September 26th, 2011 at 8:00 am

In: Daddy Chatter 47 responses

0 share

Membaca tweet Gandrasta Bangko (@gandrasta) yang witty dan kadang-kadang berani, membuat saya terkejut saat mengetahui bahwa ia adalah seorang single parent.

Beberapa yang tersirat dari blogpost-nya, ternyata Gandrasta sangat-sangat concern terhadap posisinya sebagai orangtua. Simak penggalan blogpost mengenai pendidikan, saat putri kecilnya, Sekar Hinayu Larasati (7 tahun), dalam proses pencarian sekolah dasar:

“Saya lebih setuju kalau pendidikan moral dan agama tidak perlu ada di sekolah. Bukan karena saya seorang sekuler yang keras. Tapi, biarkan itu menjadi tugas para orangtua di rumah. Biarkan mereka menikmati saat-saat intim mengaji bersama ayah-ibu di rumah. Membuat kue bersama pembantu-nya. Membantu mereka mengepel. Menolong anak kucing. Main hujan. Bikin drama rumah. Karaoke. Dongeng. Banyak sekali. Banyak sekali.

Kalau ternyata Anda tidak sempat melakukan itu semua, maaf, berhentilah jadi orangtua. Anda tidak layak!”

Kemudian saya bertanya-tanya, bagaimanakah dirinya sebagai seorang ayah?

Sejak kapan menyandang status single dad?

Sejak anak saya lahir, 2004 lalu. And boom! I am a single dad yet a single mom.

Bagaimana Gandrasta menjalani peran sebagai single dad?

Saya pikir ini lebih dari sekedar peran. Ini soal tanggung jawab dan kenikmatan. Sejauh ini, saya kecanduan.

Membaca salah satu blogpost-nya lagi mengenai sistem penerimaan murid di sekolah, Gandrasta yang berperan ganda sebagai ayah sekaligus ibu menyedari bahwa: “Pendidikan anak kita rupanya kekurangan campur tangan ayah. Lihat ilustrasi di atas, tidak satupun anak yang diwakili ayah mereka. Seperti itukah kodrat?”

Menjadi orangtua tunggal berarti harus menjalani 2 peran sebagai ibu dan ayah. Untuk keputusan soal pola asuh/pendidikan biasanya didiskusikan dengan siapa?

Saya tidak tahu kalau keputusan macam itu harus didiskusikan. Sekar justru banyak membantu dengan mendiskusikan apa yang dia mau. Saya ikuti kalau saya pikir itu baik; termasuk di mana ia sekolah.

Hal yang paling sulit menjalani peran ini mengingat anaknya perempuan, apa, sih?

Gender bukan isu penting. Waktu yang jadi masalah. Bukan hanya saya, pasti. Seringnya kita tidak tahu kapan si anak membutuhkan orangtuanya. Saat kita tahu, sudah tak ada waktu.

Sekar sekarang sudah SD, pasti semakin kritis. Apakah pertanyaan mengenai “Kok ayahnya sendiri” atau semacamnya sudah pernah ia lontarkan?

Sudah. Saya jawab jujur. Saya tahu itu belum masuk nalarnya. Dia akan tanyakan itu lagi dan lagi. Jawaban akan tetap sama. Dia akan belajar.

Dengan kesibukan Gandrasta, bagaimana membagi waktu untuk Sekar?

Bohong kalau bilang cukup waktu untuk Sekar. Saya juga munafik kalau bilang soal “quality time” di akhir pekan. Yang saya tahu, kalau saya rindu, saya pulang!


Ada hal2 khusus yang selalu kalian lakukan berdua?

Banyak! Dari nonton, masak, sampai latihan menembak.

Apa arti anak untuk seorang Gandrasta?

She means the world to me.

Kalau arti menjadi ayah?

Umm, sexy… *salah fokus*

Share this story:

Recommended for you:

47 thoughts on “Gandrasta: An Extraordinary Single Dad

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: Gemma
  3. Pingback: Ershy Rafanti
  4. Pingback: Becky Tumewu
  5. Pingback: Affi Assegaf
  6. Pingback: Indra Wihodo
  7. Pingback: C(h)itra Mulyana
  8. Pingback: Aulia Masna
  9. Pingback: Asep Irawan
  10. Pingback: Sinung
  11. Pingback: aLni magdaLena
  12. Pingback: Ira Rahmad
  13. Pingback: Intan MSP
  14. Pingback: Lalitia Apsari
  15. Pingback: ncek
  16. Pingback: Fitrilicious Bren
  17. Pingback: handri sidharta
  18. Pingback: vanya sunanto
  19. Pingback: Luki Indrawan
  20. Pingback: MelaoK
  21. Pingback: Adzania
  22. Pingback: Krizia Soegianto
  23. Pingback: fika andiani
  24. Pingback: Annisa Dinasari
  25. Pingback: Luki Indrawan
  26. Penggalan kalimat itu juga yang bikin aku ketampar bolak-balik dan tercerahkan banget banget pas dulu baca blogpostnya. Semenjak saat itu, jadi mikir dan punya ‘konsep’ baru tentang ‘how i should educate my daughter’. Huhu.. tapi kalo baca twit2nya emang suka bikin jiwa agresi terpancing sih, hihi..

  27. Quote: “tidak satupun anak yang diwakili Ayah mereka. Seperti itukah kodrat?”
    iya, dari dulu emang lebih banyak ibu2 drpd bapak2 yg ngurusin sekolah anaknya. kenapa ya?

    btw gw sekolah TK – SMA semua yg ngurusin alm bokap gw lho :)
    mulai dari milihin sekolah, beli formulir, ngurus dokumen2, nego uang pangkal sampe ambil raport semuanya bokap gw
    sampe kadang2 gw suka salting sendiri klo lg ambil raport di kelas itu isinya ibu2, cuma bokap gw dan mungkin 1 orang bapak2 :))
    nyokap gw mah cuek2 aja hahahahaha tugas nyokap antar jemput anak sekolah, klo urusan sekolah, pe-er, raport dll bokap gw yg rempong.

  28. Gw belum pernah siih baca blog-nya Gandrasta, tp sama seperti Ijoli, gw dr TK-SMP yg ngurusin masuk sekolah (sering pindah2 kota siih) sampai ambil raport dan tandatangan raport selalu bokap. Dan gw selalu bangga saat bokap jemput sekolah (waktu masih TK) atau ambil raport ke sekolah dengan seragam dinas-nya :) …. seolah2 gw bisa bilang ke anak2 cowo yg suka gangguin gw waktu itu, “jangan macem2 yeee, bokap gw polisi neh*,hahahahaa :D
    Gw bangga punya bokap yg sangat concern dengan pendidikan anak2nya, dan berharap suami gw bisa seperti beliau :))

  29. nulis tentang parfum aja dalem, gimana tentang parenting hehe. break down those doors gandrasta!
    kapan kita sniff gathering lageeee…

    btw, di foto yg bareng, sekar jadi keliatan mini banget ya hihihi.

  30. Pingback: Mommies Daily
  31. Pingback: Mommies Daily
  32. Pingback: Bona Ritchie
  33. Pingback: Mommies Daily
  34. Pingback: Yulita Markendan
  35. Pingback: Didiet Ariwibowo
  36. Pingback: auliya

Leave a Reply