Gandrasta: An Extraordinary Single Dad

Membaca tweet Gandrasta Bangko (@gandrasta) yang witty dan kadang-kadang berani, membuat saya terkejut saat mengetahui bahwa ia adalah seorang single parent.

Beberapa yang tersirat dari blogpost-nya, ternyata Gandrasta sangat-sangat concern terhadap posisinya sebagai orangtua. Simak penggalan blogpost mengenai pendidikan, saat putri kecilnya, Sekar Hinayu Larasati (7 tahun), dalam proses pencarian sekolah dasar:

“Saya lebih setuju kalau pendidikan moral dan agama tidak perlu ada di sekolah. Bukan karena saya seorang sekuler yang keras. Tapi, biarkan itu menjadi tugas para orangtua di rumah. Biarkan mereka menikmati saat-saat intim mengaji bersama ayah-ibu di rumah. Membuat kue bersama pembantu-nya. Membantu mereka mengepel. Menolong anak kucing. Main hujan. Bikin drama rumah. Karaoke. Dongeng. Banyak sekali. Banyak sekali.

Kalau ternyata Anda tidak sempat melakukan itu semua, maaf, berhentilah jadi orangtua. Anda tidak layak!”

Kemudian saya bertanya-tanya, bagaimanakah dirinya sebagai seorang ayah?

Sejak kapan menyandang status single dad?

Sejak anak saya lahir, 2004 lalu. And boom! I am a single dad yet a single mom.

Bagaimana Gandrasta menjalani peran sebagai single dad?

Saya pikir ini lebih dari sekedar peran. Ini soal tanggung jawab dan kenikmatan. Sejauh ini, saya kecanduan.

Membaca salah satu blogpost-nya lagi mengenai sistem penerimaan murid di sekolah, Gandrasta yang berperan ganda sebagai ayah sekaligus ibu menyedari bahwa: “Pendidikan anak kita rupanya kekurangan campur tangan ayah. Lihat ilustrasi di atas, tidak satupun anak yang diwakili ayah mereka. Seperti itukah kodrat?”

Menjadi orangtua tunggal berarti harus menjalani 2 peran sebagai ibu dan ayah. Untuk keputusan soal pola asuh/pendidikan biasanya didiskusikan dengan siapa?

Saya tidak tahu kalau keputusan macam itu harus didiskusikan. Sekar justru banyak membantu dengan mendiskusikan apa yang dia mau. Saya ikuti kalau saya pikir itu baik; termasuk di mana ia sekolah.

Hal yang paling sulit menjalani peran ini mengingat anaknya perempuan, apa, sih?

Gender bukan isu penting. Waktu yang jadi masalah. Bukan hanya saya, pasti. Seringnya kita tidak tahu kapan si anak membutuhkan orangtuanya. Saat kita tahu, sudah tak ada waktu.

Sekar sekarang sudah SD, pasti semakin kritis. Apakah pertanyaan mengenai “Kok ayahnya sendiri” atau semacamnya sudah pernah ia lontarkan?

Sudah. Saya jawab jujur. Saya tahu itu belum masuk nalarnya. Dia akan tanyakan itu lagi dan lagi. Jawaban akan tetap sama. Dia akan belajar.

Dengan kesibukan Gandrasta, bagaimana membagi waktu untuk Sekar?

Bohong kalau bilang cukup waktu untuk Sekar. Saya juga munafik kalau bilang soal “quality time” di akhir pekan. Yang saya tahu, kalau saya rindu, saya pulang!


Ada hal2 khusus yang selalu kalian lakukan berdua?

Banyak! Dari nonton, masak, sampai latihan menembak.

Apa arti anak untuk seorang Gandrasta?

She means the world to me.

Kalau arti menjadi ayah?

Umm, sexy… *salah fokus*


47 Comments - Write a Comment

Post Comment