Terapi Fertilitas dengan Hypnoterapi

Pernahkah Anda mendengar atau mungkin Anda sendiri saat ini sedang mengalami kesulitan untuk memiliki anak? Padahal bedasarkan hasil pemeriksaan dokter baik Anda maupun pasangan tidak memiliki kelainan atau masalah pada organ reproduksi. Satu hal yang ditemukan pada pemeriksaan laboratorium Anda hanya ketidakseimbangan kadar hormon kesuburan? Tahukah Anda kejadian seperti ini disebut “unexplained infertility” atau “secondary infertility”?

Diduga, kasus secondary infertility ini lebih banyak kasusnya daripada kasus primary infertility yaitu ketidaksuburan pada pasangan yang disebabkan oleh masalah atau kelainan pada organ reproduksi pria maupun wanita. Lalu bagaimana membedakan primary infertility dengan secondary infertility? Dapatkah dideteksi dini?

Primary infertility adalah ketidaksuburan yang disebabkan oleh kerusakan atau gangguan struktur jaringan dari organ reproduksi yang didapat secara genetis, kelainan bawaan, maupun efek samping dari sebuah penyakit, hal ini dapat diketahui dengan serangkaian pemeriksaan medis dan memiliki tatalaksana yang jelas.

1.     Penyebab Primary Infertility pada Pria :

∙      Bentuk sperma cacat dan geraknya terganggu. Sperma yang memiliki bentuk tidak sempuna berjumlah banyak akan mengalami kesulitan gerak untuk bertemu dengan sel telur. Sehingga kemungkinan untuk terjadinya proses pembuahan sangat rendah.

∙      Jumlah sperma yg rendah.Walau bentuk dan gerak sperma baik, namun bila jumlahnya kurang dari 10 juta/mililiter semen semakin memperkecil kemungkinan bertemunya sperma yang bertahan untuk bertemu dengan sel telur untuk melakukan pembuahan.

∙      Varicocele yaitu terjadinya pelebaran pembuluh darah vena (varises) pada skrotum (kantung zakar) yang menyebabkan terganggunya pengaturan suhu pada testis, menjadi terlalu panas sehingga menghasilkan sperma yang tidak sempurna baik bentuk maupun gerakannya.

∙      Undescended testicle. Gagal turunnya testis (buah zakar) dari perut ke kantung zakar pada saat pematangan janin dalam kandungan, sehingga buah zakar terpapar suhu yang lebih panas dibandingkan suhu pada kantung zakar, dan hal ini mempengaruhi kualitas dan produksi dari sperma.

∙      Testosterone deficiency atau disebut hipogonadisme, yaitu rendahnya produksi hormon testosteron pada testis yang mempengaruhi kerja kelenjar hipotalamus dan kelenjar pituitari yang mengatur produksi hormon kesuburan, sehingga produksinya pun menurun.

∙      Genetic defects atau yang dikenal sebagai sindrom Klinefelter, di mana seorang pria memiliki dua kromosom X, (normalnya hanya satu) sehingga membuat pembentukan testis menjadi tidak normal yang bisa menyebabkan Azoospermia (sperma tidak bisa di produksi) atau jumlah produksi sperma yang sangat rendah, karena gangguan pada produksi hormon testoteron.

∙      Infeksi. Umumnya terjadi bila pernah terpapar oleh penyakit menular seksual, seperti gonore (raja singa), terjangkit virus mumps/parotitis (gondongan) atau penyakit infeksi saluran kemih, yang mengakibatkan terjadinya sumbatan pada saluran sperma atau saluran semen, sehingga sperma dan atau semen tidak dapat lewat dan terdorong keluar.

2.     Penyebab Primary Infertility pada Wanita :

∙      Rusak atau tersumbatnya saluran indung telur. Ditimbulkan oleh infeksi, terutama infeksi dari pemyakit menular seksual yang menimbulkan kerusakan pada saluran indung telur dan tersumbatnya saluran indung telur, sehingga sel telur yang sudah siap dibuahi tidak bisa lewat untuk menuju rahim.

∙      Endometriosis. Hal ini terjadi bila lapisan dalam rahim berada di luar rahim, biasanya hal ini sangat mempengaruhi fungsi indung telur, rahim dan saluran indung telur, sehingga sering menyebabkan ketidaksuburan pada wanita.

∙      Kelainan Ovulasi. Segala macam pengakit yang menimbulkan kerusakan pada bagian kelenjar hipotalamus dan pituitari (tumor, pendarahan otak) akan berakibat menurunnya produksi LH dan FSH pada wanita, hal ini menyebabkan terjadinya pelepasan sel telur dari indung telur.

∙      Polycystic Ovary Syndrome (PcOS). Pada tubuh wanita yang memproduksi hormon androgen berlebihan, kerap ditemukan kista multiple pada indung telur, hal ini mengganggu pelepasan sel telur. PcOS juga terkait dengan diabetes dan obesitas.

∙      Menopause Dini. Menopause adalah berhentinya siklus menstruasi yang diikuti dengan mengecilnya folikel pada indung telur, dikatakan dini bila hal tersebut terjadi pada wanita dengan usia di bawah 40 tahun. Walau penyebabnya belum pasti, menopause dini dapat juga terjadi pada wanita dengan penyakit autoimmune, wanita yang sedang dalam perawatan radioterapi atau kemoterapi untuk kanker, juga pada wanita perokok.

∙      Tumor Fibroid Dinding Rahim. Tumor fibroid adalah tumor jinak yang menempel pada dinding rahim, kadang ditemukan pada wanita usia 30-an dan 40-an, jarang sekali tumor fibroid menyebabkan sumbatan/tekanan pada saluran indung telur, tapi lebih sering menyebabkan gangguan penempelan sel telur yang sudah dibuahi pada dinding rahim, sehingga sel telur ysng sudah dibuahi tersebut tidak dapat berkembang dan tumbuh.

∙      Perlengketan Organ Panggul adalah terjadinya perlengketan organ-organ yang ada pada rongga panggul akibat dari tumbuhnya jaringan parut pada wanita dengan riwayat inffeksi rongga panggul, riwayat operasi pada bagian perut bawah dan/atau bagian panggul. Jaringan ikat ini mengganggu kesuburan Anda.

∙      Gangguan Kelenjar Tiroid. Kelebihan hormon tiroid (Hiperthyroidism) ataupun kekurangan hormon tiroid (Hipothyroidism) akan merusak siklus menstruasi, yang berakibat terganggunya proses pelepasan sel telur (ovulasi).

Dari beberapa hal di atas, bila ternyata Anda mengidap salah satu masalah tersebut, teknologi kedokteran yang dapat membantu Anda disebut ART (Assisted Reproductive Technology), antara lain :

∙      IVF (In Vitro Fertilization), yaitu sebuah prosedur yang membantu mempertemukan sperma dengan sel telur pada sebuah media khusus, lalu hasil konsepsi setelah berumur 3-5 hari tersebut dilekatkan pada dinding rahim. Dari tiga kasus, satu berhasil menjadi kehamilan.

∙      ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), dengan memilih sperma terbaik, sperma tersebut dibantu untuk masuk ke dalam sel telur menggunakan jarum mikroskopik, setelah terjadi pembuahan sel telur diletakan pada dinding rahim.

∙      GIFT (Gamete Intrafallopian Transfer), setelah sperma dan sel telur dipertemukan pada media khusus, lalu dimasukkan (disuntikkan) ke dalam saluran indung telur, sehingga terjadi pembuahan yang alami, namun cara ini jarang dilakukan karena tingkat kesuksesannya lebih kecil dibandingkan teknik IVF.

∙      IUI (IntraUterine Insemination), dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahimyang melewati leher rahim dengan menggunakan sejenis kateter yang tipis dan fleksibel, proses pelaksanaannya tidak lama hanya memakan waktu 60–90 detik, hanya saja memerlukan alat tambahan yaitu spekulum (seperti cocor bebek) untuk membuka mulut vagina, kadang mulut rahim sulit untuk dicapai, maka digunakanlah tenakulum (sejenis penjepit) untuk menahan leher rahim, dan ini kerap membuat prosesnya menjadi kurang nyaman.

Biaya yang dikeluarkan untuk menempuh cara ini cukup mahal, karena biasanya disertai dengan pemeriksaan pemeriksaan laboratoriun, USG, dan obat-obatan penyubur. Ditambah lagi, dalam serangkaian pelaksanaan tersebut masih ada faktor kegagalan, yang berakibat harus diulangnya pelaksanaan prosedur tersebut yang berarti Anda harus kembali menabung uang puluhan juta. Salah satu hal yang membuat prosedur ART mengalami kegagalan adalah kondisi mental dan emosi sang calon ibu yang belum siap, karena masih terdapat trauma atau mental block yang tersimpan di alam bawah sadarnya, akan sangat bermanfaat bila tekhnologi ART ini dipadu padankan dengan hypnoterapi untuk memperkecil terjadinya kegagalan konsepsi.

Bila Anda baru saja menikah, silakan memeriksakan diri Anda dan pasangan, apakah terdapat masalah dengan kesuburan atau tidak. Bila hasil pemeriksaan dalam batas normal, namun sudah beberapa waktu mencoba untuk mendapatkan keturunan dan belum juga mendatangkan hasil, bisa jadi Anda atau pasangan mengalami “secondary infertility”.  Secondary infertility erat sekali kaitannya dengan status emosional, kondisi fisik, dan program alam bawah sadar yang tanpa sengaja Anda atau pasangan Anda ciptakan. Seperti apa, sih, misalnya?

Status Emosional

Paling banyak pengaruhnya pada wanita dibandingkan pria, trauma masa lalu kerap ditemukan pada wanita dengan secondary infertility. Latar belakang pendidikan dan lingkungan pada keluarga yang orangtuanya bercerai sangat memengaruhi alam bawah sadar anak perempuan pada keluarga tersebut, sehinga muncul kebencian terhadap laki laki yang berdampak pada tubuh-pikiran anak perempuan tersebut berupa terbentuknya anti-sperm antibodies (antibodi yang dibuat oleh tubuh-pikiran khusus untuk mematikan sperma yang masuk ke dalam tubuh.) sehingga setiap sel sperma yang masuk kedalam tubuh perempuan tersebut sudah pasti akan segera dibunuh oleh sistem pertahanan tubuhnya. Hal ini juga kerap terjadi pada perempuan dengan riwayat pelecehan seksual, yang tidak segera mendapatkan terapi mental.

Bahkan pada wanita yang memiliki ketakutan untuk melahirkan, dan pada wanita yang memiliki ketakutan akan rusaknya penampilan setelah melahirkan juga dapat menyebabkan secondary infertility, kecemasaan saat proses kehamilan juga bisa menyebabkan hal ini, bagaimana mungkin? Wanita, (juga pria) yang dilanda kecemasan, ketakutan, kekhawatiran akan memproduksi hormon stres yaitu katekolamin, hormon katekolamin ini sangat berpengaruh pada pusat pengaturan hormon di otak yaitu kelenjar hipotalamus dan kelenjar pituitari, pada wanita cara kerja katekolamin terhadap hipotalamus dan pituitari adalah ketika katekolamin diterima oleh
kelenjar hipotalamus, maka hipotalamus akan melepaskan depleted Gonadothropin Releasing Hormone (depleted GnRH), dan apabila hormon ini beredar di pembuluh darah lalu masuk ke kelenjar pituitari, maka kelenjar pituitari akan merespons hal tersebut dengan menghambat pelepasan Luteinizing Hormone (LH) dan Folicle Stimulating Hormone (FSH) d imana kedua hormon ini adalah hormon yang esensial bagi proses reproduksi, dari sini jelas dengan terhambatnya pelepasan LH dan FSH maka kemampuan reproduksi akan terganggu, dan setiap ada perubahan hormon sekecil apa pun akan menyebabkan reaksi berantai pada bagian tubuh yang lain.

Belum cukup sampai di situ, ternyata stres sosial juga memiliki peran dalam secondary infertility, tunggu dulu … apa itu stres sosial? Stres sosial adalah tekanan mental yang disebabkan oleh lingkungan sosial, dalam hal ini adalah pertanyaan “rutin” yang kerap dilontarkan masyarakat kepada perempuan yang baru saja menikah, yaitu “Kapan hamilnya?”, “Sudah ‘isi’ apa belum?” “Kok belum hamil juga?”  Apa Anda ingat dengan pertanyaan tersebut? Atau pernah menanyakannya juga kepada teman atau kerabat?  Kalau saya boleh menyarankan, stop bertanya demikian kepada orang lain atau tak perlu Anda hiraukan apabila ada teman, kerabat, atau tetangga yang bertanya seperti itu. Kenapa? Karena mereka tidak memiliki hak untuk mengatur fungsi alami tubuh Anda.

Bagi Anda yang saat ini sering mendengar pertanyaan “rutin” tersebut, saya bisa merasakan betapa tertekannya Anda … kondisi mental yang tertekan seperti ini merupakan sebuah stres bagi tubuh-pikiran Anda, dan ingat, hal ini akan direspons oleh tubuh kita dengan memproduksi hormon kortisol, setelah penjelasan pada paragraf di atas, saya yakin pasti Anda sudah memahami bagaimana efek hormon tersebut terhadap organ reproduksi dan cita-cita untuk segera memiliki keturunan!

Masih penasaran dan ingin ikut workshop-nya? Silakan klik ke sini.

*Gambar dari sini


16 Comments - Write a Comment

Post Comment