Persiapan Mudik dengan Si Kecil

Ayo, siapa yang tahun ini mudik? Persiapannya apa saja, nih, Moms?

Terbayang sekali, ya, kalau mudik bawa anak biasanya barang bawaan bisa membengkak 2 atau bahkan 3 kali lipat. Beberapa editor kita juga ada yang rutin mudik ke kampung halaman masing-masing. Kami akan share berdasarkan pengalaman, apa saja yang harus dipersiapkan jika mudik dengan anak-anak mulai dari naik pesawat, kereta api hingga mobil pribadi.

Kirana, mudik dari Semarang tujuan Surabaya, menggunakan mobil pribadi, lama perjalanan 7-8 jam dengan 3 anak

Yang pasti dari jauh hari saya sounding hari apa, tanggal berapa,  jam berapa. Ini untuk persiapan anak-anak bahwa hari itu mereka bakalan di mobil melulu. Darris dan Dellynn (kakak pertama dan kedua) sudah bisa mengira lamanya perjalanan. Saya selalu melibatkan anak-anak untuk pemilihan hal-hal yang berkaitan dengan diri mereka masing-masing:

  • Memilih camilan buat dibawa. Kalau tidak cocok dengan preferensi kita (misal: milih Breadtalk Floss yg bakalan rontok-rontok), jelaskan alasannya dan konsekuensinya (nanti kalau selesai makan berantakan, mereka harus membersihkannya sendiri).
  • Pemilihan baju.  Untuk D1 (Darris, 6.5th) bajunya sudah terpisah dari yang lain, masuk ke ransel dia sendiri. Jadi itu adalah tanggungjawabnya sendiri.
  • Untuk D2 dan D3 bisa bawa 1 mainan favorit untuk dijadikan soother (tapi kebetulan anak-anak saya tidak ada yang tipe bonding sama mainan/barang jadi tidak terlalu efek).
  • Sounding dan tanyakan juga siapa tahu ada tempat atau orang yang mereka ingin kunjungi, masukkan ke agenda.

Untuk di mobil, siapkan 2 set pakaian masing-masing anak dan 1 set pakaian orangtua di tempat yang gampang diakses untuk cadangan misalnya kotor di perjalanan atau kena muntah. Jangan lupa bawa minuman yang cukup. Lebih baik pilih minum dalam kemasan botol yang dikasih sedotan daripada minuman kotak. O, ya, kebetulan D1 lebih mudah muntah dibanding kedua adiknya, jadi saya malah persering kasih camilan yang lumayan bisa menghindari muntah. Lebih baik ada yang masuk, kan, ketimbang yang di dalam “keluar”.

Beruntungnya saya,  anak-anak tipe yang tidur-bangun-makan-tidur selama di perjalanan. Jadi saya tidak bisa rekomen kegiatan apa yang bikin anak tidak bosan selama perjalanan :p

Lita, mudik ke Bengkulu dari Jakarta dengan mobil pribadi, lama perjalanan +/- 30 jam, 1 balita

Persiapan sebelum mudik yang paling penting adalah menentukan tanggal! Kebetulan saya dan suami termasuk orang yang kurang terencana, jadi kami seringnya “Kita berangkat besok, yuk” dan ya, itulah yang dilakukan! Mungkin juga karena tipe pekerjaan suami dan saya (dulu) yang kadang-kadang mengharuskan kami bekerja bahkan di malam takbiran (eh, suami saya malah beberapa kali ada shooting pas lebaran *sigh* ).

Berhubung perjalanan darat ini sangat lama, maka yang benar-benar kami persiapkan adalah kenyamanan di mobil, seperti yang pernah saya tulis di artikel kenyamanan si kecil selama perjalanan. Tahun ini mungkin perabotan kenyamanan ditambah dengan buku-buku atau peralatan menggambar supaya bisa anteng :D

Berhubung perjalanannya lebih dari sehari semalam, saya selalu menyiapkan hingga 3 set (bahkan bisa lebih) pakaian ganti untuk Langit serta 2 set pakaian saya dan suami di tas kecil untuk antisipasi keringat, ketumpahan makanan, susu, muntah, dsb. Saya juga tidak pernah lupa membawa 2 buah handuk dan peralatan mandi. Karena kalau beruntung dapet tempat berhenti yang bersih, kami suka menumpang mandi.

Masalah makanan, semenjak mudik tahun lalu, saya sudah tidak terlalu khawatir karena Langit sudah makan apa yang saya makan. Catatan saja, sih, kalau jalan lintas Sumatera, agak susah mencari restoran yang proper untuk keluarga makanya begitu menemukan yang ‘bersih’, kami langsung mampir. Sebelum-sebelumnya, saya pernah menulis pengalaman menyiapkan makanan untuk si kecil selama road trip.

O, ya, kami biasanya berhenti tiap 4-5 jam sekali. Entah untuk ke toilet atau cuma ‘”meluruskan” kaki saja. Kiat lain, kami biasanya berangkat malam hari, supaya ketika sampai daerah hutan-hutan nan sepi matahari masih bersinar :D

Amalia, mudik ke Malang naik pesawat lama perjalanan 1 jam, 1 anak

Sejak Raysa berumur 4 tahun, sebenarnya saya sudah beberapa kali pergi hanya berdua saja naik pesawat. Mungkin karena komunikasi sudah dua arah, jadi dia tidak rewel lagi selama perjalanan. Kalau mau apa-apa tinggal minta. Jadi tinggal persiapkan hal-hal yang penting dan bisa menghibur Raysa saja,

Biasanya, karena kebanyakkan besar toilet di bandara atau di perjalanan tidak mendukung dalam segi kebersihan saya akan selalu menyiapkan tisu basah, tisu kering dan toilet cover di dalam tas tenteng saya. Saya juga membawa baju ganti atas bawah dan pakaian dalam masing-masing satu potong untuk cadangan kalau baju yang dipakai kotor.

Raysa biasanya akan membawa tas tarikkan sendiri. Isinya adalah makanan kecil (biasanya donat yang dibeli di bandara), tempat minum sedang yang berisi air putih dan susu kotak. Buku dan krayon untuk dia coret-coret selama perjalanan. Bantal kecil yang selalu dia bawa kemana-mana dan ini penting banget karena Raysa tidak bisa tidur kalau tidak sambil pegang bantal ini. Tasnya sendiri dibeli di tempat boneka Aimee yang  bagian depannya bisa untuk membawa bonekanya.

Di tas saya sendiri saya juga membawa Infinity Scarf dari Cotton Ink, karena selain bisa saya pakai sebagai cardigan, kalau dingin bisa juga dipakai Raysa sebagai selimut saat dia tidur. Dan cadangan terakhir yang saya bawa adalah iPod yang sudah diisi penuh, jadi kalau pesawat delay Raysa punya ‘kegiatan’ selama menunggu.

Affi, mudik ke Cirebon naik kereta api lama perjalanan 3 jam, 1 anak

Pastinya kalau mau mudik dengan kereta, saya sudah pesan tiket jauh-jauh hari karena biasanya masuk bulan Ramadan saja, tiket kereta sudah habis! Yang saya perhatikan juga adalah jumlah tiket. Waktu Aluf masih di bawah 2 tahun, kami biasanya tidak beli tiket khusus untuk dia karena sepanjang perjalanan Aluf masih bisa dipangku. Tapi sekarang setelah ia besar, sebaiknya, sih, punya tiket dan tempat duduk sendiri, karena pegal juga memangku dia selama 3 jam :) Lagipula kasihan, sih, kalau tidak di tempat duduk sendiri, tidurnya juga kurang nyaman.

Karena stasiun kereta sangat penuh saat musim mudik, penting untuk hadir paling tidak satu jam sebelum waktu keberangkatan, karena biasanya masuk ke stasiun, menuju peron, mencari gerbong, dll akan lebih lama. Seperti juga perjalanan dengan transportasi lain, saya selalu menyediakan makanan kecil untuk Aluf seperti biskuit dan susu, serta mainan yang bisa membantunya mengusir rasa bosan. Walaupun pada praktiknya, mainan tersebut jarang dikeluarkan dari tas, sih, karena banyak sekali pemandangan yang bisa ia nikmati melalui jendela kereta. O, ya, saya juga tidak lupa bawa pakaian hangat untuk Aluf atau syal yang bisa dipakai sebagai selimut, karena AC kereta biasanya lumayan dingin.

Di kereta biasanya rawan pencopet lho, Moms. Jadi kiat dari saya, sebaiknya barang-barang dan surat berharga dimasukkan ke dalam satu tas kecil yang gampang dibawa-bawa. Kenapa? Karena kalau kita bepergian hanya dengan anak-anak dan harus mengantarkan si kecil ke toilet sementara tidak ada yang bisa menjaga barang bawaan kita, tas kecil tersebut paling tidak bisa dibawa.

Anak-anak biasanya sangat excited di dalam kereta dan ingin berjalan-jalan sekitar gerbong. Biasanya kalau saya, sih, membiarkan saja asalkan tetap saya awasi untuk memastikan ia tetap aman dan tidak mengganggu penumpang yang lain. Yang terpenting buat kami, perjalanan tersebut harus bisa dinikmati dan menyenangkan serta berkesan bagi si kecil :)


37 Comments - Write a Comment

Post Comment