Berkemah Seru Bersama Tetangga

Saya beruntung karena tinggal di komplek perumahan kecil yang penghuninya sebaya, baik para orangtua maupun anak-anaknya. Kedua anak saya bisa merasakan apa yang dulu tidak saya alami: main dengan tetangga. Bukan hanya itu, ternyata saya juga menikmati ‘main’ bersama tetangga, apalagi saya menemukan beberapa di antaranya se-ide dengan saya, terutama dalam urusan kegiatan anak-anak. Bukan hanya main di kompleks, kami juga sering jalan-jalan bareng, terutama saat liburan.

Liburan tahun ini saya dan dua bunda lainnya (Santi dan Yuli) di kompleks ingin mengajak anak-anak ‘berkemah’. Ide ini sudah beberapa kali kami bicarakan sejak lama, tapi belum pernah kesampaian. Mengajak anak-anak berkemah, tidak perlu jauh-jauh ke gunung, cukup di dalam komplek saja, yang penting anak-anak merasakan tidur di dalam tenda bersama teman-temannya. Kami browsing dan menemukan tempat penyewaan tenda, yang ternyata tidak mahal harganya, bisa diantar, dan ada jasa pemasangan. Setelah dibicarakan, penghuni komplek setuju.Pesertanya adalah anak-anak dari 5 keluarga akan ikut berkemah dan 1 anak lain akan ikut beraktivitas tanpa menginap. Tenda akan dipasang di halaman belakang rumah Bunda Santi, alasannya sederhana … halamannya paling luas. Saat diberi tahu, anak-anak senang luar biasa.

Tugas pun dibagi-bagi, Bunda Santi mengurus tenda-tenda yang nantinya akan dipasang di halaman belakang rumah, Bunda Yuli mengurus konsumsi, dan saya mengurus kegiatan art & craft. Tentunya semua saling bantu membantu. Jadwal kegiatan untuk 2 hari 1 malam pun disusun (dengan no TV policy), demi menghindari kekacauan yang kemungkinan akan terjadi kalau anak-anak dibiarkan main sendiri. Pokoknya mereka harus dibuat sibuk terus, salah satu kegiatannya adalah mencari harta karun.

Hari Selasa siang tenda tiba di kompleks dan langsung dipasang. Termasuk tenda mainan punya Aidan, anak saya yang kecil. Dia ngotot tenda itu harus dipasang juga bersama tenda dome yang besar. Anak-anak senang sekali, sampai mereka harus ‘diusir’ pulang karena sesuai kesepakatan, kegiatan hari pertama baru akan dimulai setelah Maghrib. Tapi hari itu cuaca sedang tidak ramah. Setelah berhari-hari Jakarta cerah, hari itu berawan sejak pagi dan akhirnya hujan turun superderas di siang hari dan terus berlanjut sampai menjelang malam. Dua dari empat tenda diungsikan ke dalam garasi, rencana daruratnya adalah kalau hujan turun terus, anak-anak akan berkemah di garasi dan di dalam rumah saja.

Sehabis Maghrib anak-anak berkumpul untuk makan malam di salah satu rumah. Selama mereka makan, saya dan seorang bunda berkeliling menyembunyikan petunjuk pencarian harta karun. Setelah acara makan selesai, salah satu ayah mulai mendongeng tentang harta karun suku Maya dan Raja Sulaiman, sebagai pengantar kegiatan treasure hunt. Kemudian anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok usia: kelompok kelas 3 ke atas dan kelompok kelas 2 ke bawah. Bunda Santi kemudian menjelaskan ground rules-nya, bahwa ini bukan perlombaan antar kelompok, buakan soal siapa yang lebih dulu menemukan harta karun, tetapi soal memecahkan petunjuk dan bekerja sama dengan baik. Maka dimulailah pencarian harta karun keliling komplek. Anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah sesuai petunjuk di peta, sampai akhirnya kelompok junior menemukan harta karun berisi berbagai camilan dan permainan kartu, sementara kelompok senior mendapat harta karun sekardus susu kotak. Tidak peduli kalau harta karun ternyata berisi susu kotak dan camilan, anak-anak senangnya seperti beneran ketemu harta karun emas berlian!

Setelah anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain kartu, uno, pile up tower, dan beberapa board game, maka tiba waktunya tidur. Beruntung hujan sudah berhenti, maka tenda-tenda kembali dikeluarkan ke halaman belakang, diberi lapisan bedcover di dalamnya, dan anak-anak dibagi kelompok untuk tidur di tenda. Mereka berganti piama dan membawa bantal serta selimut ke dalam tenda. Masing-masing tenda juga mendapat sebuah lampu kecil. Lucu juga melihat beberapa anak bisa segera tidur dengan mudah, sementara lainnya lebih suka ngobrol sampai larut malam sebelum akhirnya tidur, lalu selebihnya seperti menunggu wangsit untuk dapat tidur.

Sementara anak-anak di dalam tenda, orangtua menggelar barbeque di jalanan komplek, sekalian menunggu para peserta yang mungkin mengundurkan diri di tengah jalan. Benar saja, sekitar pukul 00.00 ada 4 orang anak yang menyerah dan pulang untuk tidur di rumah, sambil berjanji besok pagi akan kembali untuk meneruskan acara.

Pukul 6 pagi saya sudah berkunjung kembali ke ‘bumi perkemahan’, beberapa anak sudah bangun, termasuk Aira, anak sulung saya, yang semalam termasuk tidur cukup awal. Sambil menunggu sarapan disiapkan, mereka main sepeda keliling komplek. Setelah selesai sarapan dan mandi, anak-anak akan menghias kaus putih dengan sablon bertuliskan singkatan nama kompleks kami: PJR KIDS.

Tidak seperti kemarin, hari ini cuacanya cerah. Jadi untung saja kemarin saya menyempatkan membuat popsicle mangga-jeruk. Jadi sementara mi bakso disiapkan untuk makan siang, mereka sibuk mengudap popsicle. Lalu acara berkemah ditutup dengan operasi semut membersihkan halaman belakang tempat berkemah dan foto bersama memakai kaus yang baru saja dibuat.

Begitulah, acara berkemah seru di halaman komplek kami. Mungkin bukan benar-benar the great outdoor, tapi saya rasa anak-anak cukup merasakan esensinya, tidur di dalam tenda bersama teman-teman.

 

*pic: neverlostneverland.blogspot.com