The Journey of Breastfeeding: To Be Myself Best

Saya mengklaim diri saya pemalas dan tidak disiplin. Dua hal yang tentunya tidak akan membawa saya ke tahap mana pun dalam hidup ini.

Hal-hal yang membutuhkan kerja keras, kalau bisa saya hindari. Saya juga tidak bisa konsisten dalam melakukan sesuatu, selalu saja ada alasan untuk tidak melanjutkan apa yang sudah saya lakukan, dengan alasan bosan misalnya. Alasan yang paling enak dijadikan pembenaran. Saya juga punya kecenderungan kurang gigih di saat sedang punya keinginan. Kalau ada hambatan dari hal yang sedang saya kerjakan, dengan mudahnya saya menyerah. Saya juga permisif, hal-hal yang sebenarnya tidak menguntungkan dilakukan, tetap saja saya lakukan. Saya juga punya kecenderungan mudah berpikir negatif dan galau berkepanjangan saat masalah menghampiri. Hal yang terakhir ini tentunya membuat hidup saya tidak nyaman.

Tapi itu saya yang dulu.

Saat itu ingin sekali berubah, tapi tentu tidak mudah untuk mengubah kebiasaan. Sejak lulus kuliah dan bekerja, ada tenggat waktu yang harus ditepati, lumayanlah ada perubahan. Ada dorongan juga untuk meninggalkan kebiasaan buruk, daripada kena SP atau di-PHK-kan.

Setelah menikah dan sudah ada tanggungjawab atas hidup orang lain yaitu suami, perubahan yang terjadi semakin signifikan. Paling tidak saya bangun pagi untuk menemani sarapan. Meskipun sebenarnya suami saya adalah tipe yang canggung kalau dilayani, dia bisa melakukan semua hal sendiri.

Tapi perubahan jauh lebih mencengangkan terjadi saat Hanami Atalia Sudarto hadir. Sekarang usianya 3 tahun. Saya menyusui Nami sampai dia usia 2,5 tahun. Sampai hari ini saya masih merasakan perubahan dalam diri saya karena menyusui Nami.

 

Perjalanan memberi Nami ASI sambil bekerja menyadarkan saya, bahwa sebenarnya apa pun yang saya inginkan bisa tercapai kalau ada usaha dan dukungan yang konkret. Ya, tentu saja. Tapi bagaimana prosesnya?

Saat hamil 6 bulan, saya ikut kelas “Breastfeeding Basic” yang diadakan oleh AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), organisasi yang dengan konsisten membantu para ibu Indonesia untuk memberikan ASI pada bayinya. Salut untuk para relawan di sana.

Suami saya ikut juga di kelas ini (yang kemudian saya sadari bahwa hal tersebut adalah tiket awal keberhasilan menyusui). Tapi ini baru awal, ya, kan saya masih tetap si pemalas, dll itu. :)

Sebulan setelah Nami lahir, saya mulai menabung ASIP, persiapan kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Sampai cuti berakhir, terkumpul lumayan banyak untuk jadi modal. Manajemen ASIP pun saya terapkan.

Hari pertama kembali bekerja, berjalan sesuai rencana. Load pekerjaan belum sepenuhnya pulih. Seharian cipika-cipiki dengan kolega yang memberikan selamat atas kelahiran Nami dan selamat atas kembali bekerja. Jadwal memompa pun masih sesuai rencana. Kantor saya mendukung pemberian ASI. Saya sangat bersyukur atas ini.

Setelah seminggu bekerja, rapat di dua tempat dalam sehari, berangsur pekerjaan mulai kembali normal, dan tentunya stres mulai datang. Jadwal mompa masih stabil tapi mulai kalang kabut menyesuaikan dengan jadwal rapat.

Saya ingat, paling tidak 3 kali saya pernah memompa sambil mengendarai mobil (tidak untuk ditiru, ya :D). Kebetulan saya pakai pompa elektrik, jadi hal tersebut memungkinkan. Cuci peralatan pompa di toilet mal tempat rapat, lalu dibasuh dengan air matang yang saya beli dari supermarket di mal. Ya, memang sejak awal saya memastikan semua peralatan tercuci bersih tapi tidak sampai steril. Alhamdulillah, Nami tidak pernah diare.

Stok ASIP sempat menipis karena saya pernah beberapa kali tidak disiplin dengan jadwal pompa dan kemudian saya ganti dengan memompa di tengah malam, pukul 2 dini hari. Suami sesekali menemani. Capek banget, ya … siang kerja, tengah malam harus bangun.

Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi jika saya disiplin dengan jadwal pompa dan tahu strategi manajemen ASIP yang baik. Saya akhirnya memutuskan untuk konsultasi soal manajemen ASIP pada seorang teman baik. Lalu dapat solusi untuk menyusui dengan satu PD saja semalaman. Lantas waktu bangun saat Subuh, PD yang tidak dipakai menyusui sebelumnya dipompa.  Alhamdulillah dapat banyak. Menyusui langsung setiap akhir pekan dan tetap memompa saat Subuh.

Inilah jadwal menyusui dan memompa saya: semalaman menyusui Nami dengan 1 PD — > Subuh pompa PD yang penuh dan kosongkan PD yang disusukan ke Nami —> menyusui Nami langsung sebelum berangkat ke kantor (sekalian sayang-sayangan sebelum ditinggal kerja) —> sampai kantor langsung pompa —> pompa sebelum makan siang —> pompa sekitar pukul 3 sore —> pompa sebelum pulang kantor.

Jadwal ini saya terapkan juga kalau saya sedang di luar kantor. Nah, tentunya dengan demikian ada jadwal pompa sambil mengendarai mobil, di mal, di kantor orang, permisi karena sudah harus pompa ke peserta rapat kalau pertemuan tak kunjung selesai. Dan masih banyak momen kepepet lainnya.

Apakah waktu menjalankannya, saya selalu dalam keadaan bahagia dan senang? Tentu tidak. Ada masa-masa di mana saya lelah dan rasanya ingin Nami cepat besar supaya semua itu segera berakhir. Suami selalu membesarkan hati saya. Di sini saya berlatih untuk berpikir selalu positif.

Cara lain adalah saya baca milis ibu menyusui. Entah kenapa baca milis ini bikin hati senang. Membuat saya tidak merasa sendirian. Di sana banyak sharing yang selalu berhasil menyemangati saya si pemalas ini. Masih banyak ibu yang situasi pekerjaannya tidak sefleksibel saya tapi tetap berhasil memberikan ASI pada bayinya. Contohnya seorang pramugari yang harus mengatur ASIP-nya lintas negara dan memberikannya untuk bayinya. Luar biasa. Saya ingat saya sampai tepuk tangan di depan laptop waktu membaca cerita ini di milis.

Saya si pemalas, permisif, tidak konsisten, kurang keukeuh dan sering negatif ini seperti disekolahkan oleh menyusui.  Saya belajar disiplin, kegigihan, konsisten dan berpikir positif (kalau negatif dan tidak happy, ASI tidak lancar, kan?).

Sengaja tidak saya bahas tentang kelebihan ASI pada tulisan ini, karena menurut saya tidak ada lagi yang perlu dibahas tentang kehebatan ASI. ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Tidak ada keraguan. Dan sejak awal saya dan suami memang tidak melirik pilihan lain selain ASI. Mungkin ini juga kunci keberhasilan menyusui.

Saat Nami ulang tahun ke -2, saya dan suami merayakannya habis-habisan. Tidak sampai pesta dangdutan, sih. Tapi hari itu kami cuti dari pekerjaan masing-masin lalu pergi ke tempat wisata. Kami merayakan dua hal penting: Nami yang beranjak besar dan keberhasilan kami memberikan ASI eksklusif pada Nami sampai 2 tahun.  Kami cekikikan mengenang malam-malam dan hari-hari di mana saya mewek karena stok ASIP menipis dan hambatan lainnya (kebanyakan datangnya dari diri saya sendiri, sih).

O, ya, salah satu pemegang peran penting keberhasilan saya menyusui adalah Tari, pengasuh Nami selama saya bekerja. Tari juga pengingat kalau saya mulai ngaco dalam manajemen ASIP. Buat saya, Tari adalah partner kerjasama, teman curhat, dan juga penyemangat.

Karena saya bekerja di luar rumah, Nami lebih sering bersama Tari. Kalau saya sudah di rumah, Nami selalu memilih bersama saya. Meski bekerja  saya tidak pernah merasa tersaingi dengan kedekatan Nami dan Tari. Pada poin ini saya merasa benar adanya bahwa breast feeding is not always about the milk. Menyusui adalah alat attachment parenting, pelekat saya dengan Nami meski saya bekerja di luar rumah. Bonding yang terjadi saat menyusui tentunya tidak tergantikan. Salah satu keistimewaan menyusui bagi ibu yang bekerja di luar rumah.

Apakah setelah berhasil menyusui lantas saya menjelma menjadi seorang manusia yang sempurna atau wanita super? Pastinya tidak. Tapi saya telah menantang diri untuk menjadi lebih baik.  Menyusui buat saya bukan kompetisi untuk menjadi lebih hebat dari ibu yang tidak menyusui. Seperti pepatah yang sering saya dengar dan benar adanya: life is about being yourself best.


Akhirnya, buat saya, menyusui Nami adalah sebuah perjalanan. Perjalanan saya mengenal diri lebih baik. Pembelajaran besar untuk menjadi seorang ibu. Perjalanan saya bersama suami untuk bersama menghadapi berbagai hal. Dan tentunya, perjalanan saya untuk meninggalkan banyak kebiasaan lama saya yang tidak baik untuk diteruskan.

Dan yang utama, menyusui mengajarkan saya bahwa berpikir positif dan bahagia adalah hal yang terpenting, dalam kondisi apa pun.

Untuk ibu yang bekerja di luar rumah: breastfeeding is possible.

Salam ASI. :)

 

Disclaimer:

Cara menyusui dan manajeman ASIP yang saya ungkapkan di sini adalah pengalaman pribadi yang cocok pada situasi saya saat itu.  Untuk panduan menyusui dan manajemen ASIP yang cocok dengan situasi lain, silakan cek ke konsultan laktasi. Anda bisa hubungi AIMI di www.aimi-asi.org.


61 Comments - Write a Comment

Post Comment