Talk to me! Breastfeeding-a 3D Experience

KomunikASI: mari bicara ASI!

3D. Bayangan kita ketika mendengar kata itu adalah menonton film dengan menggunakan kacamata khusus agar gambar terlihat menonjol keluar dan seperti muncul di hadapan muka kita. Sensasi seru, itu yang kita dapatkan setelah menonton 3D. Ya, seseru itu jugalah tema perayaan pekan ASI sedunia tahun ini, yaitu Talk to me! Breastfeeding – a 3D Experience.

Sebut kata menyusui, pastinya yang muncul di benak adalah ibu yang sedang menyusui bayinya. Atau, ibu yang sibuk mengontrol kehamilan lalu melahirkan kemudian menyusui dan akhirnya menyapih. Atau, ibu yang selalu membawa bayi ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi dan cek pertumbuhan bayi. Atau, ibu yang saling berbagi pengalaman dan permasalahan menyusui. Pelakon utama dari kegiatan menyusui adalah si pasangan duet maut, ibu dan bayi.

Namun, sadarkah kita, pasangan ibu dan bayi itu memerlukan dukungan orang-orang di sekitarnya untuk mencapai kesuksesan menyusui?

Ibu sudah tahu akan banyak manfaat dari ASI, untuk bayi maupun untuk dirinya. Ibu pun sudah memiliki kemauan untuk menyusui secara eksklusif dan melanjutkannya hingga dua tahun. Lalu apakah sudah cukup? Sudah tahu dan mau, terkadang belum tentu mampu.

“Belum tentu mampu” karena seketika bayi menangis, ibu pun dinilai tidak dapat menenangkan bayi karena jumlah ASI tidak mencukupi. “Belum tentu mampu”, karena si ibu tidak diperbolehkan memerah di kantor lebih dari sekedar waktu istirahat makan siang, dan karena ibu merasa canggung memerah di tempat umum. “Belum tentu mampu” karena sepulangnya dari rumah sakit, si ibu diberi paket susu oleh petugas kesehatan.

Ibu dan bayi memerlukan dukungan dari seluruh pihak, mulai dari ayah dan anggota keluarga lain, rekan sekantor, lingkungan sekitar dan sarana umum, petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemerintah dan kebijakan-kebijakannya, demi mencapai kesuksesan menyusui.

Diperlukan beragam cara yang menembus batas, yang lintas generasi, sektor, gender, budaya agar dapat berbagi tentang pengalaman serta pengetahuan dan menjangkau luas!

KomunikASI. Itulah kata yang akan melengkapi serunya pengalaman 3D menyusui. Melindungi, mempromosikan, dan mendukung gerakan menyusui adalah melalui komunikASI. Saat ini, banyak sekali cara untuk mengkomunikASIkan menyusui. Cara cepat menyebar informasi menyusui menembus waktu dan tempat. Serba mudah dengan hadirnya teknologi instan, sebut saja mailing-list, Facebook, Twitter, dan Blackberry Messenger. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Twitter mempermudah penyebaran informasi menyusui. Adanya BBM mempercepat pencarian solusi bagi permasalahan dan tantangan menyusui. Menjadikan komunikASI mudah. Mari bahas satu per satu.

Lintas generasi dan budaya

Saya ingat pengalaman sewaktu ke Faroe Islands, sebuah negara otonomi dari Denmark. Di sana, saya dan tim diajak ke sebuah sekolah dasar untuk melihat bagaimana menyusui dan pemberian makan pada bayi diajarkan. Periode menyusui menjadi bagian terintegrasi dari siklus kehidupan (sama halnya dengan hamil, melahirkan, tumbuh dan berkembang). Menyusui menjadi bagian dari rangkaian program kesehatan yang diterapkan di sekolah tersebut. Tidak asing bagi anak-anak usia SD tersebut berbicara tentang pentingnya disusui dan menyusui (kelak).

Buka situs resmi dari perayaan pekan ASI sedunia http://worldbreastfeedingweek.org/, di sana terlihat tidak sedikit foto yang mengabadikan kegiatan seorang fasilitator/instruktur berbagi tentang menyusui pada anak-anak usia muda. Oktober lalu pun ketika acara Global Breastfeeding Forum di Malaysia, Katherine Houng, seorang mahasiswi berbicara tentang bagaimana peran muda-mudi dalam mengkomunikASIkan menyusui. Last but not least, April kemarin, Ketua Umum AIMI, Mia Sutanto meluncurkan buku pertamanya bertajuk “Mama, Adek Bayi Makan Apa?” yang ditujukan bagi anak-anak usia sangat dini untuk memberikan pengertian awal tentang bayi yang diberi ASI.

Lintas sektor dan lintas gender

Saya ambil salah satu contoh saja. Masih ingat SKB 3 menteri? Surat Keputusan Bersama 3 Kementerian mengenai pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja. Bahwa Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan peduli tentang para ibu yang bekerja untuk tetap memberikan ASI. SKB ini difokuskan pada 2 hal, yaitu pemberian kesempatan pada ibu bekerja untuk menyusui dan/atau memerah selama jam kerja serta penyediaan sarana ruang atau pojok untuk memerah dan/atau menyusui. Masing-masing kementerian memiliki tugas dan tanggung jawab agar informasi menyusui terkomunikASIkan dengan baik dan tepat.

Harapannya, setiap orang, sektor, generasi, dan budaya mengkomunikASIkan menyusui. Apa pun yang terlintas di benak Anda mengenai memberikan dukungan, mempromosikan dan melindungi menyusui, lakukanlah, walaupun itu di luar batas.

Saatnya kita bicara ASI!

 

 

Ditulis oleh Farahdibha Tenrilemba (@dibamommy), ibu satu anak, konselor laktasi dan Sekretaris Jenderal AIMI.

 

*Foto dari sini

 


26 Comments - Write a Comment

  1. Jadi inget jaman memerah ASI dulu, karena ga ada ruangan yang tertutup (seluruh kantor rata2 pake kaca tembus pandang) akhirnya memerah di WC. Terus beberapa orang HRD malah mengusulkan supaya gue mengajukan ruangan untuk memerah ASI. Tapi karena waktu itu belum kenalan sama Aimi, dan yang memerah ASI cuma gue dan seorang teman, ga jadi deh. Kami telan aja memerah ASI di toilet sementara :)
    Sebagai ibu bekerja, hal utama yang gw harapkan sih, ketersediaan ruangan yang layak untuk ibu menyusui memerah ASI-nya. Amin!

  2. Setauku Kemenkes sdh punya programnya, mereka lg nyusun Buku Juknis Peningkatan Pemberian ASI di Tempat Kerja utk disebarin ke semua perusahaan di Indonesia. Semoga termasuk prioritas, cepet selesai dan cepet disosialisasikan… *berdoa dimulai*

  3. Kalau saat ini gw msh bisa ngumpet di Musola (untung diakomodir oleh Bagian Admin dg listrik khusus diminta u/ busui) untuk memerah ASI, kalau kepepet harus kerja di komputer ya di kubikel dgn minta pengertian teman2x laki2x yg untungnya sudah berkeluarga dan pro-ASI :)… dulunya sedih banget kok buat merah ASI gak ada perhatian dari kantor, tapi pas baca kisah mbak-mbak yang jadi buruh (dpt artikelnya dari twitter AIMI) yg susah payah tetap merah ASI dg fasilitas minim drpd pekerja kantor, jadi terpacu dimanapun tempatnya asal bersih dan tertutup ASI must go on! sekarang kena macet Jakarta, pake apron modal baterai di mobilpun jadi :)

Post Comment