Child Abuse Awareness

Minggu, 26 Juni 2011 yang lalu, acara Stop Child Abuse: Charity for Baby NF yang digagas oleh 3 perempuan hebat: Fla, Silly dan Titut Ismail sukses menggalang massa di Score, CITOS dan mengumpulkan dana ratusan juta rupiah. Sumbangan tersebut rencananya akan digunakan untuk perawatan fisik dan psikis bayi NF, korban kekerasan seksual di Bantaeng, Sulawesi Tengah dan korban lainnya.

Kasus bayi NF sendiri sebenarnya seperti fenomena gunung es, sedikit yang muncul di permukaan sementara  yang tidak terekspos banyak sekali. Nggak percaya? Coba deh baca koran, hampir tiap minggu ada berita tentang anak di bawah umur yang mengalami kekerasan seksual. Ironisnya, kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang dekat dengan korban, bisa ayah (kandung atau tiri), paman atau tetangga.

Kok bisa ya mereka setega itu sama anak kecil? Justru anak kecil adalah korban yang empuk karena mereka tidak berdaya, tidak punya kekuatan untuk melawan dan tidak punya keberanian untuk mengadukan hal keji itu kepada orang lain. Ironisnya lagi ketika akhirnya hal itu diketahui orang lain, kebanyakan korban dan keluarganya tidak mau lapor ke pihak berwajib karena dianggap sebagai aib keluarga.

Tapi yang  namanya child abuse bukan hanya berbentuk kekerasan seksual (sexual abuse), masih ada kekerasan fisik (physical abuse) seperti pukulan, cubitan, jeweran; kekerasan emosional (emotional abuse) seperti memberi label “bodoh”, “nakal”, “nyusahin orangtua”, “nggak ada yang sayang kamu”; dan penelantaran anak seperti membiarkan anak kelaparan atau mengabaikan saat anak butuh diperhatikan. Lagi-lagi pelaku kekerasan pada anak tersebut sebagian besar adalah orangtua dan keluarga besar atau guru di sekolah dengan alasan untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Sedih, ya, saat keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi seorang anak, malah menjadi sumber malapetaka dan tidak mampu memberikan perlindungan yang dibutuhkan.

Tahukah Mommies, bahwa kekerasan yang dialami anak bisa mengakibatkan efek jangka panjang? Menurut Freud yang suhu dari ilmu Psikoanalisa, masa 0-5 tahun adalah masa krusial terbentuknya kepribadian anak. Sehingga segala bentuk kekerasan atau tindakan yang mengakibatkan trauma pada masa itu bisa menyebabkan dampak pada masa perkembangan anak. Beberapa studi mengatakan bahwa anak-anak korban kekerasan biasanya akan menunjukkan self esteem yang rendah, depresi, memendam perasaan bersalah, sulit memercayai orang lain, gangguan pola makan, kesepian bahkan bisa menjadi sangat agresif.

Yuk, ah, mari lihat ke dalam keluarga kita dulu, jangan-jangan pola asuh kita selama ini ada yang termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. Atau kalau mau menengok ke kanan kiri, mungkinkah di lingkungan kita ada anak mengalami kekerasan dari orangtuanya. Jika ya, please stand up, speak out, laporkan kepada pihak yang berwajib. Jika kita sendiri yang bermasalah, datangi orang-orang yang bisa menolong kita dan menyelamatkan anak kita. Semakin dini masalah kekerasan ini bisa diatasi dan anak diberi pertolongan yang tepat, semakin baik pula pemulihan trauma psikisnya. Demi masa depan anak yang lebih baik, STOP CHILD ABUSE!

For more information about child abuse, visit these pages:
http://www.helpguide.org/mental/child_abuse_physical_emotional_sexual_neglect.htm
http://www.childwelfare.gov/pubs/factsheets/whatiscan.cfm
http://en.wikipedia.org/wiki/Child_abuse
http://www.childabuse.com/

 


19 Comments - Write a Comment

  1. Sedih kalau ada kasus child abuse, kemarin baru ikutan acara tentang luka batin, salah satu penyebab luka batin adalah child abuse, bikin traumanya dalem & buat si anak jadi percaya sama hal yang ga bener. Misalnya:
    waktu kecil, karena si anak ngalamin pelecehan seksual dari usia 8 – 12 tahun dari lawan jenis, akhirnya sampai kuliah, si anak masih percaya bahwa lawan jenisnya itu ga ada yang baik, semua jahat! Untung sekarang orang tersebut sudah pulih & justru malah bantu orang-orang di sekitarnya dan jadi pembicara mengenai luka batin.

Post Comment