banner-detik
SELF

MommiesPreneur: Dari Korporat ke Freelancer

author

Hanzky15 Jun 2011

MommiesPreneur: Dari Korporat ke Freelancer

Halo, Mommiespreneur & Mommiesployee :D

Terakhir Mommies Daily, kan, sudah membahas tentang Mommiespreneur: Dari Katering, Clodi sampai Party Planner, sekarang kami mau feature dua orang mommies yang baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran dan terjun ke dunia freelance demi mendapatkan waktu lebih untuk keluarga dan kehidupan yang lebih imbang. Apa saja, sih, yang mesti dipersiapkan sebelum membulatkan tekad? Yuk, simak penuturan anggota Mommies Daily, Andriaty Sumarno (freelancer produser TV)  dan Helen Siahaan (Make-up Artist).

Sejak kapan berhenti bekerja?

Aan: Resmi resign akhir Maret 2011, sebetulnya keputusan ini diambil setelah melalui proses pemikiran, pertimbangan, dan berdoa yang agak lama. Karena semuanya harus betul-betul dipikirkan, apakah siap secara mental, finansial, sosial, dll. Apalagi mengingat saya sudah bekerja sejak usia 18 tahun,walaupun dulu masih sebatas kerja paruh waktu ketika masih kuliah. Tapi kebebasan finansial, mengatur waktu sendiri, dan bekerja adalah sesuatu yang memang menjadi bagian dari kehidupan saya.

Helen: Resign per tanggal 31 Januari setelah kerja dari September 2004. Keputusan tersebut diambil mendadak walau sudah ingin dari lama, tapi keberanian belum menghampiri. Karena niat untuk fokus ke karir sebagai make up artist sangat menggebu-gebu jadi langsung, deh, bikin surat pengunduran diri.

Apa saja yang dipersiapkan menjelang pengunduran diri?

Aan:

  • Yang paling pertama disiapkan adalah mental saya sendiri karena saya termasuk orang yang tidak bisa diam. Jadi terus bertanya pada diri sendiri apakah nanti saya siap kalau sedang tidak ada perkerjaan.
  • Berdiskusi dengan suami tentang bermacam kemungkinan yang akan datang. Karena kami sedang mengikuti financial planning untuk mencapai goal, di mana setiap bulannya ada pengeluaran yang telah dihitung berdasarkan dual income, jadi kami harus memperhitungkan kemungkinan pemasukan yang tidak sama tiap bulannya. Pada dasarnya, suami menyerahkan kepada saya mau bekerja atau tidak asal semua risiko sudah dipikirkan dan anak-anak tetap menjadi prioritas utama.
  • Jadi sebelum mengundurkan diri, saya sudah meyiapkan tabungan untuk 1 bulan ke depan, paling tidak kalaupun belum ada perkerjaan, selama 1 bulan kebutuhan rutin tetap terpenuhi. Sebetulnya memang sudah ada tawaran pekeejaan juga jadi kalaupun resign bisa langsung coba mulai, karena sistimnya per proyek. Saya juga mulai sounding ke teman-teman kalau saya mau resign jadi kalau ada pekerjaan mereka bisa hubungi saya. Kebanyakan sudah pernah bekerja dengan saya jadi sudah tahu kapasitas yang bisa saya kerjakan.
  • Helen: Mengikuti berbagai pelatihan make-up di Martha Tilaar, Make Up For Ever, Sanggar Lisa, dan seminar-seminar lainnya yang sudah saya jalankan sejak tahun 2005. Networking juga, dong, pastinya. Berkutat di Fashionese Daily & Forum Female Daily juga sangat memberi manfaat. Klien saya buanyaakk dari sana :). Tambah teman baru, ilmu baru, dan juga klien baru. Banyak kenalan juga sesama make-up artist di forum dan suka ajak kerja sama.

     

    Apa yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri?

    Aan: Keputusan akhirnya resign sebetulnya akumulasi dari beberapa hal:

  • Sempat terpikir, dengan usia yang menginjak 32 tahun, sudah mendalami dunia pertelevisian kurang lebih 12 tahun mulai dari magang di stasiun TV lokal Boston sampai menjadi produser, dan terakhir bekerja di posisi production manager. Sudah banyak pengalaman berharga dan "kenyamanan" yang didapat. Jadi mulai berpikir apakah dunia ini saja yang akan saya jalani terus? Ada keinginan untuk mencoba hal lain, mumpung usia sepertinya masih memungkinkan untuk memulai hal baru dan kesempatan terbuka. Kalaupun gagal, paling tidak saya sudah mencoba dan tidak akan menyesal berpikir "Coba dulu saya ...." ketika tua nanti.
  • Kira-kira setahun yang lalu mendapatkan promosi yang jam kerjanya jadi normal (09.0-17.00). Karena kondisi lalu lintas yang selalu padat, kami harus berangkat lebih pagi dan sampai di rumah, ya, tetap saja malam. Dulu ketika masih di divisi produksi, paling tidak bisa datang siang walaupun pulang pagi, jadi masih bisa ada waktu dengan anak. Mengingat anak-anak sedang lucu-lucunya dan saya pikir mereka akan cepat sekali besar kemudian akan punya teman-teman sehingga waktu intens dengan saya akan berkurang. Saya ingin sedekat mungkin dengan mereka. Kalau pekerjaan tidak akan ada habisnya. Saya percaya rezeki kan sudah ada yang atur sementara waktu bersama anak-anak tidak akan bisa terulang lagi. Bismillah saja, Insya Allah jalannya terbuka. Kalau terus melihat ke atas, di atas langit, kan, ada langit lagi. Dengan berpikiran seperti itu, saya harus siap menghadapi semua risiko yang ada. Niatnya baik, mau menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas dengan anak sambil mempelajari dunia baru dan melakukan hal-hal yang selama ini tidak sempat, mulai dari hal kecil seperti memasak dan beres-beres termasuk mengecat ulang kamar anak. Ketika baru berpikiran seperti itu, tiba-tiba ada tawaran untuk mencoba dunia yang berbeda. Saya pikir mungkin ini memang jawaban dari pikiran saya selama ini. Langkah pertama memang yang paling berat. Butuh waktu untuk meyakinkan sampai akhirnya bilang ke atasan dan memberikan surat pengunduran diri ke HRD, belum lagi ketika itu saya diminta berpikir ulang atas keputusan tersebut. Tapi niat sudah bulat, setelah itu semuanya akan mengalir seperti air, asal kita yakin.
  • Helen: Semakin lama semakin cinta dengan kerjaan MUA jadi pingin lebih fokus. Lagipula panggilan untuk di majalah, TV, dan prewed kebanyakan datang di hari kerja. Yang paling utama sih karena ingin sekali bisa urus anak di rumah, tanpa terikat sama jam kerja. Tanpa terasa anak sudah beranjak besar saja ... waktu habis di kantor :(

    So far, bagaimana dengan sistem kerja sebagai freelancer?

    Aan: So far so good dan tidak harus ke kantor setiap hari. Waktu mengundurkan diri sengaja disesuaikan dengan rencana liburan bersama sahabat ke Jepang. Kami merencanakannya dari 8 bulan sebelumnya. Tapi manusia memang hanya bisa berencana. Awal April terjadi bencana tsunami di Jepang, akhirnya kami membawa anak-anak berlibur ke Disneyland Hong Kong. Pulang dari liburan, saya mendapat tawaran mengerjakan program travelling. Shooting lagi sekalian jalan-jalan ke Singapura, Kuala Lumpur, Thailand, Lombok, Bali, dan Bandung. Lima hari pergi, seminggu penuh di Jakarta sama anak-anak. Jadi semua senang. Selain itu mulai ikut belajar dunia iklan yang berbeda dengan televisi, mulai proyek memasak bersama anak, dan mulai menulis. Teman lama bilang saya sekarang lebih ceria. Mungkin karena tidak terlalu stres lagi. Setelah ini kita lihat ada perkerjaan apalagi. Kalau sedang kosong, puas-puasin waktu bersama anak-anak.

     

    Helen: Sejauh ini sesuai dengan ekspektasi banget! Benar-benar seperti hidup baru. Semua dijalankan sesuai dengan kesenangan pribadi. Hidup terasa lebih berwarna dan berguna pastinya. Kalau kerja di kantor, saya hanya menjalankan rutinitas harian yang sangat membosankan dan tidak sesuai  dengan hati nurani. Jadinya, kerja seperti tidak tulus. Sebenarnya pekerjaan makeup artist jauh lebih sibuk dan melelahkan, tapi kita bisa menyiasatinya sehingga ada waktu-waktu tertentu yang kita bisa punya waktu lebih banyak untuk anak. I love my job so much! ;)

    Setelah berhenti kerja kantoran, merasa lebih punya waktu untuk keluarga atau tidak?

    Aan: Karena bebas mau ambil kerjaan atau tidak, otomatis waktu dengan keluarga jadi lebih banyak. Luar biasa senang hati ini di saat anak pulang sekolah dan wajahnya berbinar karena melihat bundanya di rumah, mereka juga senang karena saya bisa luangkan waktu lebih banyak untuk membacakan cerita atau memasak bareng. Hal-hal kecil seperti memandikan, menyiapkan sekolah, memasak sarapan yang dulu jarang bisa saya lakukan, sekarang bisa terealisasi.  Jika saya harus pergi karena urusan pekerjaan, saya selalu memberikan penjelasan pada mereka. Di mana pun saya berada, telepon anak adalah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan.

    Helen: Banget! Anak, suami, rumah, dan semua kebutuhan keluarga lebih terpenuhi karena saya lebih mempunyai waktu untuk menangani semuanya.

    Apa saja, nih, yang bisa dilakukan untuk menyiasati perubahan dari segi pendapatan?

    Aan: Namanya freelance, kan, pendapatannya tidak tetap tiap bulannya. Saya tidak terlalu ngoyo, kalau kebutuhan sebulan sudah terpenuhi, saya akan berhenti mengambil pekerjaan. Atau kalau tawaran pekerjaan lagi banyak, penghasilan tersebut saya tabung hingga menutup kebutuhan dua bulan, jadi selama dua bulan itu saya bisa santai. Yang penting tujuan utama sudah terpenuhi dan menghitung pengeluaran pun harus dilakukan dengan seksama. Kalau memang ada dana lebih, saya akan tabung untuk “masa surut”. It's all about balance.

    Ada saran untuk para mommies yang sedang berpikir untuk mengundurkan diri dan terjun ke dunia freelancer?

    Aan: Pertama, harus YAKIN, meluruskan niat, dan membulatkan tekat. Setelah itu, konsisten dengan keputusan yang diambil jadi tidak akan timbul penyesalan atau muncul keraguan. Cobaan pasti ada di manapun, tinggal bagaimana kita menghadapinya. Langkah pertama, meninggalkan zona nyaman adalah salah satu hal yang terberat, tetapi kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Tapi tiap orang berbeda. Ada yang bisa bekerja pada satu perusahaan selama bertahun-tahun, semua kembali lagi ke pribadi masing-masing.

    Helen: Untuk mommies yang lagi dilema, saya juga pernah mengalami hal yang sama sampai akhirnya buka thread di Female Daily Forum dan menemukan pengalaman mommies lain di sana. Yang penting, kalau memang sudah mau terjun, harus usaha, doa, dan fokus! Gali terus minatnya dan manfaatkan setiap celah yang ada, sekecil apa pun itu. Selama kita bisa melewati perkara kecil, perkara besar sudah pasti kita bisa dihadapi. Kerja sesuai dengan hobi kita itu sangat menyenangkan, lho. Dan satu lagi, jangan pernah lupa untuk selalu mengasah kemampuan kita. Jangan pernah bosan dan malas untuk belajar sesuatu yang baru. Juga jangan pernah pelit berbagi ilmu, karena kemampuan orang yang senang berbagi ilmu dipercaya oleh banyak orang.

    ------------

    Wow, memang bukan hal yang mudah, ya, memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor dan masuk ke dunia freelance. Tapi dua mommies hebat ini berani melakukannya dan lebih bahagia setelah mengikuti kata hatinya. Ada yang mau menyusul? :)

    Ikutan Business Connect yuk moms, jadi Female Daily Network bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, nih. Kementerian Perdagangan akan menyelenggarakan Konvensi PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) di bulan Juli, tujuannya menjembatani antara para pengusaha dengan investor, retailers & mentors.

    Sebenarnya ada beberapa macam jenis usaha yang boleh ikut. Tapi yang pendaftarannya lewat kita hanya yang bergerak di bidang Fashion & Kerajinan. Kalau berminat ikut, silakan daftar yuk, lihat detailnya di forum Business Connect ya!

    Share Article

    author

    Hanzky

    -


    COMMENTS


    SISTER SITES SPOTLIGHT

    synergy-error

    Terjadi Kesalahan

    Halaman tidak dapat ditampilkan

    synergy-error

    Terjadi Kesalahan

    Halaman tidak dapat ditampilkan