MommiesPreneur: Dari Korporat ke Freelancer

Halo, Mommiespreneur & Mommiesployee :D

Terakhir Mommies Daily, kan, sudah membahas tentang Mommiespreneur: Dari Katering, Clodi sampai Party Planner, sekarang kami mau feature dua orang mommies yang baru saja memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran dan terjun ke dunia freelance demi mendapatkan waktu lebih untuk keluarga dan kehidupan yang lebih imbang. Apa saja, sih, yang mesti dipersiapkan sebelum membulatkan tekad? Yuk, simak penuturan anggota Mommies Daily, Andriaty Sumarno (freelancer produser TV)  dan Helen Siahaan (Make-up Artist).

Sejak kapan berhenti bekerja?

Aan: Resmi resign akhir Maret 2011, sebetulnya keputusan ini diambil setelah melalui proses pemikiran, pertimbangan, dan berdoa yang agak lama. Karena semuanya harus betul-betul dipikirkan, apakah siap secara mental, finansial, sosial, dll. Apalagi mengingat saya sudah bekerja sejak usia 18 tahun,walaupun dulu masih sebatas kerja paruh waktu ketika masih kuliah. Tapi kebebasan finansial, mengatur waktu sendiri, dan bekerja adalah sesuatu yang memang menjadi bagian dari kehidupan saya.

Helen: Resign per tanggal 31 Januari setelah kerja dari September 2004. Keputusan tersebut diambil mendadak walau sudah ingin dari lama, tapi keberanian belum menghampiri. Karena niat untuk fokus ke karir sebagai make up artist sangat menggebu-gebu jadi langsung, deh, bikin surat pengunduran diri.

Apa saja yang dipersiapkan menjelang pengunduran diri?

Aan:

  • Yang paling pertama disiapkan adalah mental saya sendiri karena saya termasuk orang yang tidak bisa diam. Jadi terus bertanya pada diri sendiri apakah nanti saya siap kalau sedang tidak ada perkerjaan.
  • Berdiskusi dengan suami tentang bermacam kemungkinan yang akan datang. Karena kami sedang mengikuti financial planning untuk mencapai goal, di mana setiap bulannya ada pengeluaran yang telah dihitung berdasarkan dual income, jadi kami harus memperhitungkan kemungkinan pemasukan yang tidak sama tiap bulannya. Pada dasarnya, suami menyerahkan kepada saya mau bekerja atau tidak asal semua risiko sudah dipikirkan dan anak-anak tetap menjadi prioritas utama.
  • Jadi sebelum mengundurkan diri, saya sudah meyiapkan tabungan untuk 1 bulan ke depan, paling tidak kalaupun belum ada perkerjaan, selama 1 bulan kebutuhan rutin tetap terpenuhi. Sebetulnya memang sudah ada tawaran pekeejaan juga jadi kalaupun resign bisa langsung coba mulai, karena sistimnya per proyek. Saya juga mulai sounding ke teman-teman kalau saya mau resign jadi kalau ada pekerjaan mereka bisa hubungi saya. Kebanyakan sudah pernah bekerja dengan saya jadi sudah tahu kapasitas yang bisa saya kerjakan.

Helen: Mengikuti berbagai pelatihan make-up di Martha Tilaar, Make Up For Ever, Sanggar Lisa, dan seminar-seminar lainnya yang sudah saya jalankan sejak tahun 2005. Networking juga, dong, pastinya. Berkutat di Fashionese Daily & Forum Female Daily juga sangat memberi manfaat. Klien saya buanyaakk dari sana :). Tambah teman baru, ilmu baru, dan juga klien baru. Banyak kenalan juga sesama make-up artist di forum dan suka ajak kerja sama.

 

Apa yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri?

Aan: Keputusan akhirnya resign sebetulnya akumulasi dari beberapa hal:

  • Sempat terpikir, dengan usia yang menginjak 32 tahun, sudah mendalami dunia pertelevisian kurang lebih 12 tahun mulai dari magang di stasiun TV lokal Boston sampai menjadi produser, dan terakhir bekerja di posisi production manager. Sudah banyak pengalaman berharga dan “kenyamanan” yang didapat. Jadi mulai berpikir apakah dunia ini saja yang akan saya jalani terus? Ada keinginan untuk mencoba hal lain, mumpung usia sepertinya masih memungkinkan untuk memulai hal baru dan kesempatan terbuka. Kalaupun gagal, paling tidak saya sudah mencoba dan tidak akan menyesal berpikir “Coba dulu saya ….” ketika tua nanti.
  • Kira-kira setahun yang lalu mendapatkan promosi yang jam kerjanya jadi normal (09.0-17.00). Karena kondisi lalu lintas yang selalu padat, kami harus berangkat lebih pagi dan sampai di rumah, ya, tetap saja malam. Dulu ketika masih di divisi produksi, paling tidak bisa datang siang walaupun pulang pagi, jadi masih bisa ada waktu dengan anak. Mengingat anak-anak sedang lucu-lucunya dan saya pikir mereka akan cepat sekali besar kemudian akan punya teman-teman sehingga waktu intens dengan saya akan berkurang. Saya ingin sedekat mungkin dengan mereka. Kalau pekerjaan tidak akan ada habisnya. Saya percaya rezeki kan sudah ada yang atur sementara waktu bersama anak-anak tidak akan bisa terulang lagi. Bismillah saja, Insya Allah jalannya terbuka. Kalau terus melihat ke atas, di atas langit, kan, ada langit lagi. Dengan berpikiran seperti itu, saya harus siap menghadapi semua risiko yang ada. Niatnya baik, mau menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas dengan anak sambil mempelajari dunia baru dan melakukan hal-hal yang selama ini tidak sempat, mulai dari hal kecil seperti memasak dan beres-beres termasuk mengecat ulang kamar anak. Ketika baru berpikiran seperti itu, tiba-tiba ada tawaran untuk mencoba dunia yang berbeda. Saya pikir mungkin ini memang jawaban dari pikiran saya selama ini. Langkah pertama memang yang paling berat. Butuh waktu untuk meyakinkan sampai akhirnya bilang ke atasan dan memberikan surat pengunduran diri ke HRD, belum lagi ketika itu saya diminta berpikir ulang atas keputusan tersebut. Tapi niat sudah bulat, setelah itu semuanya akan mengalir seperti air, asal kita yakin.

Helen: Semakin lama semakin cinta dengan kerjaan MUA jadi pingin lebih fokus. Lagipula panggilan untuk di majalah, TV, dan prewed kebanyakan datang di hari kerja. Yang paling utama sih karena ingin sekali bisa urus anak di rumah, tanpa terikat sama jam kerja. Tanpa terasa anak sudah beranjak besar saja … waktu habis di kantor :(

So far, bagaimana dengan sistem kerja sebagai freelancer?

Aan: So far so good dan tidak harus ke kantor setiap hari. Waktu mengundurkan diri sengaja disesuaikan dengan rencana liburan bersama sahabat ke Jepang. Kami merencanakannya dari 8 bulan sebelumnya. Tapi manusia memang hanya bisa berencana. Awal April terjadi bencana tsunami di Jepang, akhirnya kami membawa anak-anak berlibur ke Disneyland Hong Kong. Pulang dari liburan, saya mendapat tawaran mengerjakan program travelling. Shooting lagi sekalian jalan-jalan ke Singapura, Kuala Lumpur, Thailand, Lombok, Bali, dan Bandung. Lima hari pergi, seminggu penuh di Jakarta sama anak-anak. Jadi semua senang. Selain itu mulai ikut belajar dunia iklan yang berbeda dengan televisi, mulai proyek memasak bersama anak, dan mulai menulis. Teman lama bilang saya sekarang lebih ceria. Mungkin karena tidak terlalu stres lagi. Setelah ini kita lihat ada perkerjaan apalagi. Kalau sedang kosong, puas-puasin waktu bersama anak-anak.

 

Helen: Sejauh ini sesuai dengan ekspektasi banget! Benar-benar seperti hidup baru. Semua dijalankan sesuai dengan kesenangan pribadi. Hidup terasa lebih berwarna dan berguna pastinya. Kalau kerja di kantor, saya hanya menjalankan rutinitas harian yang sangat membosankan dan tidak sesuai  dengan hati nurani. Jadinya, kerja seperti tidak tulus. Sebenarnya pekerjaan makeup artist jauh lebih sibuk dan melelahkan, tapi kita bisa menyiasatinya sehingga ada waktu-waktu tertentu yang kita bisa punya waktu lebih banyak untuk anak. I love my job so much! ;)

Setelah berhenti kerja kantoran, merasa lebih punya waktu untuk keluarga atau tidak?

Aan: Karena bebas mau ambil kerjaan atau tidak, otomatis waktu dengan keluarga jadi lebih banyak. Luar biasa senang hati ini di saat anak pulang sekolah dan wajahnya berbinar karena melihat bundanya di rumah, mereka juga senang karena saya bisa luangkan waktu lebih banyak untuk membacakan cerita atau memasak bareng. Hal-hal kecil seperti memandikan, menyiapkan sekolah, memasak sarapan yang dulu jarang bisa saya lakukan, sekarang bisa terealisasi.  Jika saya harus pergi karena urusan pekerjaan, saya selalu memberikan penjelasan pada mereka. Di mana pun saya berada, telepon anak adalah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan.

Helen: Banget! Anak, suami, rumah, dan semua kebutuhan keluarga lebih terpenuhi karena saya lebih mempunyai waktu untuk menangani semuanya.

Apa saja, nih, yang bisa dilakukan untuk menyiasati perubahan dari segi pendapatan?

Aan: Namanya freelance, kan, pendapatannya tidak tetap tiap bulannya. Saya tidak terlalu ngoyo, kalau kebutuhan sebulan sudah terpenuhi, saya akan berhenti mengambil pekerjaan. Atau kalau tawaran pekerjaan lagi banyak, penghasilan tersebut saya tabung hingga menutup kebutuhan dua bulan, jadi selama dua bulan itu saya bisa santai. Yang penting tujuan utama sudah terpenuhi dan menghitung pengeluaran pun harus dilakukan dengan seksama. Kalau memang ada dana lebih, saya akan tabung untuk “masa surut”. It’s all about balance.

Ada saran untuk para mommies yang sedang berpikir untuk mengundurkan diri dan terjun ke dunia freelancer?

Aan: Pertama, harus YAKIN, meluruskan niat, dan membulatkan tekat. Setelah itu, konsisten dengan keputusan yang diambil jadi tidak akan timbul penyesalan atau muncul keraguan. Cobaan pasti ada di manapun, tinggal bagaimana kita menghadapinya. Langkah pertama, meninggalkan zona nyaman adalah salah satu hal yang terberat, tetapi kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Tapi tiap orang berbeda. Ada yang bisa bekerja pada satu perusahaan selama bertahun-tahun, semua kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Helen: Untuk mommies yang lagi dilema, saya juga pernah mengalami hal yang sama sampai akhirnya buka thread di Female Daily Forum dan menemukan pengalaman mommies lain di sana. Yang penting, kalau memang sudah mau terjun, harus usaha, doa, dan fokus! Gali terus minatnya dan manfaatkan setiap celah yang ada, sekecil apa pun itu. Selama kita bisa melewati perkara kecil, perkara besar sudah pasti kita bisa dihadapi. Kerja sesuai dengan hobi kita itu sangat menyenangkan, lho. Dan satu lagi, jangan pernah lupa untuk selalu mengasah kemampuan kita. Jangan pernah bosan dan malas untuk belajar sesuatu yang baru. Juga jangan pernah pelit berbagi ilmu, karena kemampuan orang yang senang berbagi ilmu dipercaya oleh banyak orang.

————

Wow, memang bukan hal yang mudah, ya, memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor dan masuk ke dunia freelance. Tapi dua mommies hebat ini berani melakukannya dan lebih bahagia setelah mengikuti kata hatinya. Ada yang mau menyusul? :)

Ikutan Business Connect yuk moms, jadi Female Daily Network bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, nih. Kementerian Perdagangan akan menyelenggarakan Konvensi PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) di bulan Juli, tujuannya menjembatani antara para pengusaha dengan investor, retailers & mentors.

Sebenarnya ada beberapa macam jenis usaha yang boleh ikut. Tapi yang pendaftarannya lewat kita hanya yang bergerak di bidang Fashion & Kerajinan. Kalau berminat ikut, silakan daftar yuk, lihat detailnya di forum Business Connect ya!


37 Comments - Write a Comment

  1. gak semudah membalikkan telapak tangan, resign, jd freelance, untuk keluar dari zona nyaman tidak smua orang mau mengambil tindakan itu,, bersyukur banget klo punya talenta di bidang laen, setelah resign, banyak tawaran ato buka bisnis pribadi,, bagaimana kalau yg pengen resign, tapi tidak punya keahlian laen,, tapi di satu sisi pengen kerja tidak full time, biar bisa mengurus anak,,
    ini permasalahan yang banyak sekali terjadi,, :(

    1. saya termasuk yang kaya gini nih…
      udah terlanjur resign dan memulai karir sebagai freelancer di bidang psikologi ato pendidikan anak. tapi karena masih harus pindah-pindah surabaya, jakarta akhirnya banyak peluang yang lepas. sekarang jadi ibu rumah tangga aja hiks….
      tapi tetap disyukuri lah sambil eksplorasi keahlian baru.

    1. tenang,,, dirimu bukan satu-satunya yang dilema,,, :)*bighug*
      di satu sisi disyukuri saja, kita masih punya pekerjaan untuk membantu suami menghidupi keluarga, kerja juga gak kepanasan.
      Di luar sana masih banyak ibu2 yang butuh pekerjaan untuk membiayai keluarganya, kerjaan apapun diterima, walopun harus bersusah payah, kepanasan di bawah terik sinar matahari,,,

    2. Hanzky

      Perlu waktu yang lama memang untuk ngumpulin keberanian ya…tapi kalo memang niat, bisa ngasih deadline ke diri sendiri kapan harus resign dan apa aja yang perlu dipersiapkan. Supaya bener2 mempersiapkan diri ke arah situ.

      1. @ fifi : iyah mak, jangan sampai kufur nikmat..
        @ hanzky : iyah, deadline itu penting, kalo engga lama2 ketunda ketunda ya udah kemakan ma “zona nyaman” kantoran :D thx mbak han..

  2. kereeenn….
    aku kemaren juga sempet rsign demi ASIX tapi ya dirumah agak bingung karena ga punya talenta yg lain & blm tau apa yg bisa diexplore dr diriku. And finally saya kembali bekerja di tempat yg tdk tll jauh dr rumah & (sepertinya) sangat mengerti dunia keibuan :). Itupun pake “perdebatan” dgn suami yg akhirnya menyetujui dgn syarat2 diatas..

    Well, apapun qt (working mom or freelancer) yg pasti qt kan tetep be the best for our family :)

  3. Kebanyakan karyawan gw liat berada di comfort zone. Mereka mau dan punya keinginan utk usaha sendiri. Setuju sama komen fifi, keahlian di bidang lain memang perlu, atau explore minat yg lain. Kalo kita kerja di bidang yg kita minati, kerja tidak berasa kerja…. enjoy aja…

  4. Kereen…bangga dg ibu yg memprioritaskan mendampingi langsung tumbuhkembang anak. Rasanya pasti puaass bgt! Priceless dan worthed. Krn saya jg memutuskan resign dr pekerjaan sbg creative production di tv nasional saat akan melahirkan anak. Keputusan yg berat awalnya, tp setelah dijalani rasanya asik2 aja. Malah jd lebih fleksibel mau ‘berlibur’ kapan saja…hehe…
    Proud of all mom in the world! *Big hug

  5. Memang kalo prioritas anak, harus berani ambil sikap spt aan n helen. Jangan sampe yang terjadi adalah priroritas anak, kerjaan kantor jd terabaikan dan malah menyusahkan kolega2nya yg juga punya anak. Yg kayak gini malah jadi bs bikin burn out temen2 di sekitarnya. Aaarrgghhh, seandainya temen saya itu mengikuti jejak aan n helen, pasti lingkungan kantor agak sedikit menyenangkan :)

  6. Kalo sebelumnya kerja di bidang kreatif spt tv, media atau lainnya, biasanya akan lebih mudah dpt freelance kerjaan ya, umumnya. Tapi coba lihat helen deh, bidang kerja sebelumnya ga berhubungan sama MUA, tp setelah gabung di FD jd nemu passionnya dan berhasil. Jadi kalo emang kepikiran mau resign dan freelance, kayanya ga harus nyerah duluan ‘gw ga bisa ngapa2in’ tp yg ada ngeluh sana sini pengen resign. Kalo emang udh bulet tekad mau resign dan freelance, usaha kali ya, temukan passion kemana arahnya, ambil kursus2 misalnya atau gabung dgn komunitas2 yg bs mendukung passion spy lebih ‘terang’ jalannya :)

    Tapi kalo emang ngerasa ga bs juga, ya jalanilah yang ada, tapi jangan lupa bersyukur :)

  7. Aku resign 31 des 2010. Udah 6 bulan jalanin usaha sendiri di bidang konveksi. Tp sebelum nekat berhenti, usaha konveksi itu sendiri udah dirintis jauh hari sebelum resign (+- 2 thn). Bener bgt, butuh pemikiran matang bgt. Sebelum resign, persiapkan dulu yg matang. Jadi Ga ada penyesalan di kemudian hari. Realistis aja, kalau udah biasa punya uang sendiri tiba2 ga itu akan bikin stres bgt.

    Yg dirasakan setelah 6 bulan berhenti, “bahagia”… Waktu sama anak banyak, fokus usaha ga kaya dulu pikiran bercabang.

    Buat yg msh mikir, kalau persiapan udah matang, tinggal mantabkan hati “Do your best, God will do the rest”.

  8. Wah judulnyaa…pas bgt

    Sebenernya dilema itu gak hanya menjangkiti mommy saja, tp berlaku jg utk wanita pekerja yang sedang menanti kehadiran buah hati seperti aku :)

    Kerjaanku sbg event coord di convention center kadang jam kerjanya gak nentu, gak jarang pulang malam, wiken tetap masuk. Belum lagi lokasi kantor ke rumah yg jalannya aduhai offroad. Memang gak ada yg nunggu dirumah, tp kondisi fisik sudah letih..

    Jd freelancer salah satu resolusi gw taun ini, salah satu bentuk ikhtiar gw utk hamil. Gw skrg msh memperluas jaringan, rajin menabung jiahh… utk bekal nanti ketika keputusan resign n jd freelancer diambil..

    Wish me luck yahh

  9. pingiiiin….pingin bgt jd ibu rumah tangga, drumah urus anak, nemenin blajar, masakin stlh plg skolah… *mulai bkaca’ ney mata* tnyata “ibu RT’ adalah sbuah cita-cita yg blm tentu bs tcapai dbanding pingin jd dokter/ pilot yaa hehe..
    cia you momies…

  10. ternyata ga aku aja yang punya pikiran bekerja dirumah atau freelancer,jadi ga merasa bersalah mengambil keputusan untuk resign di tahun ini.dan setelah menjalani (meskipun ga sepenuhnya dirumah,krn aku mengambil keputusan untuk jadi honorer aja didinas)meskipun gaji sedikit,dibantu sambil dagang macem2 barang,ternyata ketutup juga penghasilan di tempat lama.

    Baca pengalaman diatas jadi pengen mengexplore diri untuk mencapai 1langkah lagi menjadi full time moms yang tetap menghasilkan karya dan materi tentunya.

    Jadi,tanpa disadari…memang cita2 sebenarnya seorang wanita pastilah mengurus anak-anak dan suami full time….

    Semangat!!

  11. masih terus memantapkan diri untuk resign sebelum D-day! :(

    setuju ma Mom Yofi, itu udah kodrat wanita sepertinya ya Moms.. :D

    Mom DewiR, hayooo.. kapan arisan lagi ? sambil merintis bisnis *ceile* utk persiapan resign-ku.. hihihihi

    hidup freelancer! :D

  12. Niat awal mu memantapkan hati bwt resign n jualan online.. Tau2 dikantor dapet tawaran untuk posisi dilevel yg 1 tingkat diatas posisi skarang.. Jd bimbang.. kata orang kesempatan ga dateng 2x, tapi suka ‘sirik’ kalo liat anakq dikit2 manggil pengasuhnya..hik hik..
    What suppose I do then?

Post Comment