Sirkumsisi Bayi Perempuan

Di forum, diskusi mengenai sunat atau sirkumsisi pada bayi perempuan ramai dibicarakan. Walaupun sudah banyak yang tahu bahwa ini dilarang, tapi masih banyak juga yang mengalami dilema. Sebelumnya, kita kupas dulu yuk, apa sih sirkumsisi ini?

Sirkumsisi pada bayi laki-laki dilakukan untuk alasan kesehatan, sosial, agama, dan budaya. Dari sisi kesehatan, manfaat sunat atau sirkumsisi adalah menghilangkan kotoran beserta tempat kotoran berada yaitu di bagian dalam dari kulit terluar penis.

Bagaimana dengan sirkumsisi bayi perempuan?

Di Indonesia dan beberapa negara Asia atau Afrika, hal ini lazim dilakukan sejak dulu kala untuk alasan sosial, agama, dan budaya. Sementara dari sisi kesehatan, sirkumsisi pada bayi perempuan sama sekali tidak berpengaruh.  Oleh karena itu, di 2006, Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran yang melarang profesi kesehatan untuk melakukan praktik penyunatan bayi perempuan.

Menurut WHO, ada empat metode sirkumsisi pada perempuan. Metode pertama adalah klitoridektomi, yaitu pemotongan kulit di sekitar klitoris atau bagian yang bila ada pada penis disebut sebagai preputium, dengan atau tanpa mengiris/menggores bagian atau seluruh klitoris. Metode kedua disebut sebagai eksisi, berupa pemotongan klitoris disertai pemotongan sebagian atau seluruh labia minora. Yang ketiga adalah infibulation, berupa pemotongan bagian atau seluruh alat kelamin luar disertai penjahitan/penyempitan lubang vagina. Sementara metode terakhir berupa segala macam prosedur yang dilakukan pada genital untuk tujuan nonmedis, penusukkan, atau pengirisan/penggoresan terhadap  klitoris.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prosedur khitan pada bayi perempuan meningkatkan risiko terpapar HIV. Hal ini antara lain karena prosedur yang tidak steril atau luka akibat sunat bayi yang terbuka akibat berhubungan seks di saat anak dewasa.

Di Indonesia sendiri, sirkumsisi bayi perempuan biasanya bersifat simbolik yaitu hanya sedikit penggoresan tanpa adanya pengirisan pada klitoris.

Memang masih banyak perbincangan bahkan perdebatan mengenai sirkumsisi perempuan apalagi jika bicara dari sisi agama. Perlu diketahui bahwa sirkumsisi perempuan bukanlah berasal dari agama tertentu, melainkan budaya turun temurun.

Saya pribadi, saat menjelang persalinan, sudah mencari beberapa referensi mengenai hal ini hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan sirkumsisi terhadap Langit. Walaupun sempat beradu pendapat dengan ibu saya, tapi Alhamdulillah, setelah saya menjelaskan latar belakang keputusan tersebut, beliau mengerti. Kalau dilihat-lihat lagi, nih, yang dipraktikkan di Indonesia hanya menggores, ya, berarti secara logika tidak ada manfaatnya, kan?

*Dari berbagai sumber


29 Comments - Write a Comment

  1. Pingback: Ica

Post Comment