Pengalamanku Terkena Mastitis

Moms and newmoms, saya mau sharing, nih, soal pengalaman menyusui. Pengalaman yang tidak akan terlupakan sakitnya. Semua berawal pascamelahirkan anak pertama. Gejala yang sayaceritakan mungkin berbeda dengan gejala mastitis yang dialami ibu lainnya. Tapi secara garis besar kurang lebih sama.

  • Begitu selesai melahirkan PD bengkak dan air susu keluar 6 hari setelahnya. Saya pikir ini adalah efek melahirkan.
  • Puting pecah–pecah karena proses belajar menyusui pada beberapa minggu awal. Mungkin saat itulah bakteri jahat, melalui luka puting, masuk ke dalam PD.
  • Sakit tapi PD belum keras, hanya bengkak saja.

GEJALA:
(ini sudah masuk kategori yang disebutkan di buku “Baby Book” karya dr. Sears)

  • Dua minggu setelah melahirkan badan mulai panas dingin meriang. Sudah ke dokter tapi divonis “ngerangsemi” (istilah Jawa) dan diharuskan untuk lebih sering menyusui.
  • Bagian tengah ke bawah PD mengeras. Akhirnya saya konsultasi ke dokter kandungan. Di sana suster sudah panik, katanya mastitis dan segera mengompres PD dengan air panas, memijat, dan mengeluarkan ASI dengan menggunakan alat suntik besar yang dipotong ujungnya. Tapi sayang … dokter masih berpendapat itu “ngerangsemi” biasa. Saya hanya diberi obat penghilang nyeri.
  • Sakitnya sudah tak terkira, bahkan hanya terkena air biasa waktu mandi, atau terkena sentuhan kain bra.
  • ASI sulit keluar dan lama kelamaan berhenti total
  • PD membengkak sampai ukurannya hampir 2 kali lipat keadaan normal dan bentuknya sudah aneh.
  • PD mengeras dan berwarna kemerahan.
  • Aerola juga ikut mengeras. Jangan dibayangkan sakitnya kalo bayi menyusui pake aerola keras.
  • ASI yang keluar bukan ASI bersih tetapi bercampur dengan nanah :(

Dengan gejala di atas, dr. Sears menyarankan pemberian antibiotik. Tapi jika tidak membaik juga maka perlu dilakukan tindakan insisi. Sepertinya kasus saya sudah masuk kategori terlambat ditangani :(. Ketika kembali ke dokter kandungan dan diberikan antibiotik untuk 10 hari, keadaan tidak bertambah baik. PD tetap mengeras dan memerah, namun ASI lebih lancar keluar walaupun masih bercampur nanah.
Karena sudah tidak tahan, saya pun memutuskan berkonsultasi dengan dokter kandungan yang lebih senior (dr. Sunaryadi di RS Delta Surya Sidoarjo) dan ternyata memang sudah terlambat … beliau langsung menyarankan insisi saat itu juga seusai beliau praktik!
Ketika ASI sudah bercampur nanah, dokter menyarankan buang dulu bagian awal susu yang biasanya banyak nanah kemudian susui bayi dengan ASI tengah yang kalau dilihat sudah bersih.
Tapi seringkali terjadi di ASI tengah pun nanah tetap ada walau tidak sebanyak seperti di ASI awal. Saran berikutnya, lihat kondisi bayi, apakah setelah menyusui ada perubahan tekstur pup menjadi lebih cair atau rewel? Jika tidak, teruskan menyusui dan usahakan SESERING mungkin.
Apakah tidak berbahaya? Kata dokter, ASI sebenarnya sudah ada antibakterinya yang otomatis menetralisir efek buruk dari bakteri nanah yang tertelan bayi (cmiiw ini kata dokter, saya belum cari referensinya). Tapi tolong lihat reaksinya dulu, kalo ada gejala seperti tadi, tetap usahakan keluarkan ASI tapi jangan berikan pada bayi.
Setelah insisi (sayatan) pun dokter tidak menyuruh saya berhenti menyusui karena ada luka insisi. Katanya, “Susui terus bayinya. Luka insisi akan menutup dengan sendirinya selama kurang lebih 2 minggu. Kalau ibu tidak menyusui, bagian keras di PD tidak akan kembali normal! Susui terus dan sesering mungkin.”
Pertanyaan terakhir terlontar karena setelah saya mendapatkan informasi mengenai seorang ibu yang terkena mastitis juga di Google. Ketika saya hubungi, dokter menyarankan untuk stop menyusui dengan obat stop ASI yang diberikan setelah tindakan insisi. Dan benar saja,  sekarang putranya sudah 1 tahun lebih tapi benjolan keras masih ada di PD-nya. Bayi saya baru 1,5 bulan saat itu. Masak kudu stop ASI? Rasanya ingin menangis .…
APA ITU INSISI?
Insisi adalah tindakan mengeluarkan nanah karena ada indikasi ABSES MAMMAE. PD bagian yang bernanah disayat kecil kemudian diberi drain (saluran/sedotan) agar dalam beberapa hari nanah bisa tuntas keluar. Kemudian setelah drain tersebut diangkat (pada kasusku 4 hari setelah operasi), luka bedah tersebut dibiarkan terbuka sampai tertutup sendiri.
Insisi tergolong operasi kecil yang kurang lebih memakan waktu sekitar 15 menit. Tapi waktu itu saya dibius total dan baru sadar kira-kira 2 jam setelahnya. Setelah operasi diberikan antibiotik (standar operasi). Ketika obat habis, diganti dengan habbbatussauda (kapsul jinten hitam) oleh dokter agar luka cepat sembuh. Dua minggu pascaoperasi luka sudah menutup sempurna.
Seharusnya bayi bisa langsung belajar menyusu di PD yang sakit. Tapi karena salah instruksi dari suster, jadinya saya baru belajar menyusui dengan PD yang sakit di hari ke-4 setelah drain diambil. Areola PD yang sudah mengeras membuat rasa sakit itu tetap ada, dan ada bagian-bagian lain yang mengeras, hal ini membuat bayi susah menyusu. Tapi berkat ketelatenan, dalam 3 hari areola sudah melemas. Tiga  minggu setelah operasi, bagian yang mengeras berangsur membaik dengan fisioterapi laser, pemijatan, dan pengeluaran ASI dibantu oleh suster kurang lebih dalam 6 kali kedatangan (di RS Delta Surya Sidoarjo juga, hub. Ruang Dahlia).
Sebenarnya setelah operasi saya sempat bingung, kok tidak segera membaik, sementara pembanding yang kasus persis juga tidak ada. Maka saya sharing ke teman yang kebetulan berprofesi dokter dan dia menyarankan USG payudara di laboratorium. Tapi karena sekarang sudah membaik, saya belum sempat USG. Untunglah semua akhirnya telah berlalu ….

SARAN:
(melihat kesalahan-kesalahan pascamelahirkan)

  • Setelah melahirkan dan PD penuh/tegang minta pihak RS untuk membantu mengeluarkan, minta bidan/suster mengajari cara menyusui dengan benar (latch-on), memerah, dan memijat PD.
  • Pastikan cara menyusui sudah benar agar tidak menimbulkan lecet. Susui bayi sesering mungkin.
  • Jika sudah selesai menyusui tapi PD masih penuh, keluarkan!! Jangan disayang-sayang.
  • Jika sakit, kompres dengan air dingin untuk mengurangi rasa sakit dan kompres panas untuk membuka penyumbatan/melancarkan keluarnya ASI.
  • Jika PD mengeras dan kompres tidak menolong justru malah sakit menjadi-jadi, segera lakukan tindakan fisioterapi laser. Kata dokter dan susternya tidak ada efek sampingnya kok, ini salah satu teknik pembukaan sumbatan saluran ASI.
  • Jika sudah terlambat, kemerahan dan PD mengeras, lebih baik langsung ke dokter bedah.

Semoga bermanfaat, ya, moms.
Cmiiw jika ternyata ada info yang tidak sesuai dengan ilmu kedokteran.
*dikirim oleh Ratih Kusumawati ibu dari Janitra Aqila Putri (Lila, 14 bulan dan masih menyusu :) ). Terimakasih sharing-nya, ya, mom :)