Komunikasi Efektif lewat Dongeng

Dalam rangka merayakan Hari Kartini, komunitas ibu muda yang tergabung dalam Young Moms Community (YMC) mengadakan offline event alias kopi darat akbar perdananya. Tak hanya sekedar ketemuan dan ngobrol-ngobrol, tapi para mommy ini mengadakan seminar dengan judul “Komunikasi Efektif dengan Anak Melalui Dongeng”.

Menurut salah satu narasumber, Firestha, seorang sarjana psikologi yang sedang mengambil magister profesi klinis anak, dongeng merupakan salah satu cara efektif mengomunikasikan sesuatu hal kepada anak. Jika memang ingin membangun komunikasi dengan anak, maka saat mendongeng orangtua sebaiknya tidak hanya “membacakan” cerita, tetapi juga memahami dan menikmati isi cerita. Komunikasi dapat terjalin jika orangtua melibatkan anak dalam proses mendongeng, misalnya saja dengan bertanya kepada anak. Sebagai contoh, saat sedang bercerita dengan tema “perayaan ulang tahun”, orangtua dapat mengingatkan anak kepada pengalaman ulang tahun terakhirnya, kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti “Coba masih ingat tidak waktu itu ulang tahun kamu dirayain di mana?” , “Siapa aja yang datang?” , atau “Waktu itu kamu senang atau tidak?” dll. Orangtua sebaiknya mendengarkan komentar yang diberikan anak, kemudian langsung menanggapi komentar tersebut dengan positif. Misalnya: “Wah hebat banget! Kamu masih ingat lho siapa saja yang datang waktu itu ….”. Lewat kegiatan bercerita atau mendongeng, orangtua dapat mengajak anak membicarakan mengenai berbagai jenis pengalaman, perasaan dan juga hal-hal baru yang belum pernah diketahui oleh anak.

Tapi ada sejumlah hal yang harus diperhatikan saat mendongeng, di antaranya:

  • Kondisi fisik dan emosi anak

Saat ingin mendongeng untuk anak, maka orangtua sebaiknya memperhatikan kondisi fisik dan emosi anak. Misalnya saja, apakah anak sedang lelah, apakah anak sedang sangat mengantuk, atau apakah anak sedang sangat kesal karena sesuatu hal. Keadaan-keadaan tersebut dapat membuat anak tidak menikmati dongeng yang disampaikan oleh orangtua.

  • Usia anak

Pemilihan isi cerita atau dongeng sangat tergantung dari usia anak. Misalnya, untuk anak prasekolah, dongeng yang dipilih biasanya berkaitan dengan cerita binatang yang sangat sederhana agar mudah dipahami anak atau juga tokoh-tokoh anak dengan usia yang hampir sama dengan mereka. Pada usia ini, anak juga akan tertarik dengan buku cerita dengan gambar-gambar besar dan berwarna-warni.

  • Minat anak

Pemilihan jenis cerita sangat tergantung pada minat anak. Ada anak-anak yang tertarik dengan cerita binatang, ada pula yang tertarik dengan tokoh robot atau tokoh kartun yang biasa ia lihat.

  • Kondisi fisik dan emosi orangtua

Sebelum mendongeng untuk anak, orangtua juga sebaiknya memperhatikan kondisi fisik dan emosi dari orangtua sendiri. Misalnya saja, dalam kondisi lelah atau kesal karena urusan kantor, orangtua mungkin akan sulit untuk menikmati proses mendongeng untuk anak. Anak akan sangat mungkin menangkap hal ini dan juga menjadi tidak nyaman dengan kegiatan mendongeng tersebut.

Selain seminar, anak-anak juga dihibur dengan dongeng bersama Kak Awan. Wah, saya saja menikmati lho sesi dongeng ini! Lalu ada juga aneka lomba untuk anak mulai dari mewarnai, lomba busana bersama ibu, dan lomba bakat. Pemenangnya mendapatkan tabungan buat si kecil! Bravo buat YMC, ditunggu acara berikutnya ya!