Toilet Training for Boys: Kapan dan Bagaimana?

Mendekati ulang bulan Igo yang ke-22, kami sepakat untuk lebih gencar melatihnya untuk buang air kecil dan besar di kamar mandi. Deg-degan? Jangan tanya … terbiasa menjalani keseharian dengan menggunakan jasa “asisten” disposable diaper (atau pospak, popok sekali pakai) membuat kami ketar-ketir dalam menghadapi proses “tambah gede” yang satu ini.  Saya pun mulai mencari informasi dari A-Z mengenai toilet training. Kemudian informasi tersebut saya modifikasi sendiri untuk menyesuaikan kebiasaan Igo di rumah. Sejak dari bayi, kami selalu membahasakan semua aktivitas yang sedang saya atau Igo kerjakan … maksudnya agar dia tahu nama, tempat, dan kegiatan apa yang dilakukan saat itu. Misalnya: “Igo mau mandi, di kamar mandi” atau “Mandinya sudah selesai, sekarang matikan lampu kamar mandi”. Terdengar aneh karena saya akan terlihat seperti berbicara sendiri, hehehe. Tapi kami percaya lama kelamaan anak akan mengerti yang kami maksud. Begitu pula dengan toilet training, setiap kali Igo ganti pospak … kami selalu menjelaskan kalau sebentar lagi Igo sudah tidak memakainya lagi dan buang air harus dilakukan di kamar mandi.

Agar terlihat lebih realistis dan mudah ditiru, saya meminta suami untuk memperagakan bagaimana laki-laki buang air kecil di depan Igo. “Begini lho, Go cara pipis-nya anak laki,” jelas suami pada Igo. Ini dilakukan berulang kali sampai Igo paham betul konsepnya. Soal buang air besar, dari usia 8-9 bulan, Igo memang sudah dibiasakan untuk melakukannya di kamar mandi. Tiap kali mukanya menunjukkan tanda-tanda mau “nabung”, kami langsung membawanya ke kamar mandi. Jadi, perkenalan WC untuk urusan BAB lebih mudah ketimbang buang air kecil. Begitu Igo sudah bisa bicara dengan cukup jelas, proses belajar pun dimulai. Saya tidak membeli training pants karena memang ingin menguji kepekaan Igo terhadap ngompol di lantai. Awalnya, setiap 2-3 jam sekali Igo akan dibawa ke kamar mandi untuk buang air kecil … kadang dia pipis, kadang tidak. Dan selama proses berlangsung, siapapun yang mendampinginya terus menjelaskan kalau buang air kecil harus di kamar mandi, harus bilang dulu, Igo sudah besar … jadi tidak boleh ngompol lagi, dsb. Alhamdulillah proses ini tidak berlangsung lama. “Kecelakaan” pasti ada … sekali, dua kali, wajar … namanya juga belajar. Sekarang, untuk siang hari Igo sudah bebas dari pospak (kecuali dia minta dipakaikan saat mau tidur siang atau saat berpergian). Proses belajar kemudian berlanjut ke tahap “tidak lagi ngompol saat tidur malam”. Harus diakui, pada waktu ini peran orangtua dobel pentingnya karena harus rajin bangun tiap dua jam untuk membawa anak ke kamar mandi. Benar kata Lita di artikel lepas pospak di malam hari, butuh kerelaan orangtuanya dan sampai saat ini masih sulit saya lakukan, hahaha. Eh, tapi bukan lantas tidak dilakukan lho ya. Tidak jarang Igo membangunkan saya di tengah malam untuk ke kamar mandi, dan ketika bangun pagi, pospaknya kering. Berarti kesadarannya untuk tidak ngompol sudah besar. Alhamdulillah.

Banyak orangtua menunda proses toilet training hingga anaknya berusia 2-3 tahun, ketika otot saluran kemih sudah lebih kuat. Nah, tahu dari mana sih kapan seorang anak siap diperkenalkan pada toilet training?

Tanda-tanda fisik

  • Bisa berjalan atau berlari dengan tegak
  • Saat buang air kecil, volume urin cukup banyak
  • Waktu buang air kecil mulai terjadwal
  • Memiliki jeda waktu buang air kecil 3-4 jam, memperlihatkan bahwa otot pada saluran kemih sudah berkembang dengan baik sehingga bisa menahan urin

Tanda-tanda perilaku

  • Bisa duduk diam dalam satu posisi selama dua hingga lima menit
  • Bisa menaikkan dan menurunkan celana sendiri
  • Mulai merasa tidak nyaman ketika celananya basah karena ompol
  • Memperlihatkan rasa ingin tahu terhadap kegiatan kamar mandi terutama yang berkaitan dengan buang air
  • Memberikan tanda pada kita ketika merasa akan atau sudah buang air seperti jongkok atau memberitahukan secara verbal
  • Bangga akan pencapaiannya
  • Mau belajar menggunakan WC

Tanda-tanda kognitif

  • Bisa mengikuti instruksi sederhana seperti, “Ambil mobil-mobilan itu.”
  • Mengerti arti menaruh kembali barang yang sudah tidak digunakan
  • Punya istilah untuk menyebut urin dan poop
  • Tahu rasa ingin buang air dan bisa memberitahu pendamping sebelum hal itu terjadi atau bahkan bisa menahannya sampai dia ada di kamar mandi.

*sumber: babycenter.com

Mommies tidak perlu menunggu anak-anak memenuhi semua poin di atas lho. Jika anak sudah menunjukkan kesiapan (atau kemandirian), silakan saja dimulai program belajarnya. Training pants juga bukan hal yang wajib dalam toilet training … buktinya Igo bisa tanpa menggunakannya. Sisi plus lain dari poin ini adalah penghematan. Hahaha. Oh ya, tiap kali Igo berhasil memberitahukan kami kapan dia mau ke kamar mandi, kami selalu memberikan kalimat-kalimat pendukung atau pujian agar dia lebih percaya diri lagi. Sejauh ini, cara tersebut cukup ampuh. Selamat berjuang ya!


26 Comments - Write a Comment

  1. Hallo All,
    Saya juga tadinya ingin memulai toilet training untuk anakku yang sudah hampir memasuki usia 18 bulan.
    Namun, masih tertunda karena khawatir dengan reaksi anakku nantinya jika dibangunkan untuk pipis. Kondisi saat ini adalah, setiap pup dimalam hari, selalu saja terjadi drama yang cukup heboh dimana anakku menangis kencang tidak ingin dicebok, jangan kan cebok, dibuka celananya saja nolak :(. Mungkin karena doi merasa terganggu tidurnya :p
    Apakah ada moms yang punya pengalaman seperti ini? Jika ada, bantu share dong :)

Post Comment