Dehidrasi; Tanda-tanda dan Tatalaksana Pemberian CRO

Kalau baca-baca home treatment tentang demam, muntah dan diare, ujung-ujungnya pasti “jaga jangan sampai dehidrasi”.
Pada demam, dehidrasi akan menyebabkan suhu tubuh susah turun dan pada anak dengan riwayat dan keturunan kejang demam, dehidrasi akan meningkatkan resiko kemungkinannya.
Sementara pada muntah dan diare, dehidrasi bisa berakibat fatal karena cairan tubuh terbuang dengan cepat untuk membuang racun/penyakit.
Nah sekarang, apa tanda-tanda dehidrasi?
Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah dehidrasi?
Tanda umum dehidrasi dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Dehidrasi ringan hingga sedang:
    • Mulut kering
    • Sedikit atau tidak ada air mata ketika menangis
    • bayi rewel
    • Kurang dari empat popok basah per hari pada bayi (lebih dari 4 sampai 6 jam tanpa popok basah pada bayi  di bawah usia 6 bulan)
    • Tidak buang air kecil selama 6 sampai 8 jam pada anak-anak
    • Ubun-ubun pada kepala bayi yang terlihat lebih datar dari biasanya atau agak cekung
  2. Dehidrasi berat:
    • Mulut sangat kering (terlihat “lengket” di dalam)
    • Kering, keriput, atau kulit pucat (terutama pada perut dan lengan atas dan kaki)
    • Tidak aktif atau penurunan kesadaran
    • Lemah
    • Mata cekung
    • Ubun-ubun cekung pada bayi
    • Tidur terus-menerus
    • Napas dalam dan cepat
    • Tidak buang air kecil lebih dari 6 sampai 8 jam pada bayi
    • Tidak buang air kecil selama lebih dari 8 sampai 10 jam pada anak-anak
    • Nadi cepat atau lemah
Untuk mencegah dehidrasi, sebetulnya cukup berikan terus cairan apa saja. Bisa minuman, makanan yang mengandung banyak air seperti jeli, agar-agar, atau buah-buahan, atau makanan dengan kuah yang banyak seperti sup. Makin disukai anak makin baik karena dengan begitu masuknya juga makin banyak dan mudah.
Beberapa orang menyarankan minuman isotonik yang katanya merupakan pengganti cairan tubuh. Ini tidak sepenuhnya bagus untuk kondisi sakit karena biasanya minuman seperti ini kandungan sodium/natriumnya sangat tinggi. Pada beberapa orang kandungan natrium yang tinggi akan menimbulkan iritasi pada pencernaan.
Saya sendiri memberikan salah satu merek minuman seperti ini untuk anak-anak karena mereka suka rasanya dan gampang terminum dalam jumlah banyak ketika sakit. Mungkin cocok sama rasanya :) Kebetulan yang saya pilih ternyata adalah merek dengan natrium paling sedikit dan alhamdulilah ngga ada keluhan apapun.
Oiya, saya hanya berikan minuman tersebut ketika sakit atau ketika bepergian jauh saja.
Bila nampaknya kecepatan asupan cairan yang masuk tidak setara dengan cairan yang terbuang, berikan Cairan Rehidrasi Oral (CRO). CRO mengandung elektrolit, garam dan gula  yang seimbang untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah atau diare. CRO bisa dibuat sendiri dari campuran air, garam, dan gula. Bisa juga beli oralit sachet di apotek untuk dilarutkan dalam air matang sesuai petunjuk, atau beli pedialyte yang sudah langsung dalam bentuk cairan.
Sebaiknya CRO diberikan dalam jumlah yang sedikit tapi sering supaya ngga dimuntahkan lagi.
Berikut ini langkah-langkah pemberian cairan berdasarkan umur anak:
  1. Bayi dibawah usia 1 tahun:
    • Jika bayi disusui secara eksklusif dan muntah (tidak gumoh, tetapi muntah sebanyak apa yang diminumnya) lebih dari sekali, maka berikan ASI selama 5-10 menit setiap 2 jam. Jika masih muntah juga, hubungi dokter.
    • Jika bayi berusia di bawah 1 bulan dan memuntahkan semua yang diminumnya (bukan hanya gumoh) setiap kali habis disusui, hubungi dokter.
    • Hindari pemberian air putih pada bayi di bawah usia 1 tahun, kecuali jika dokter Anda secara langsung menentukan jumlahnya.
    • Berikan CRO dalam jumlah sedikit tetapi sering – sekitar 3 sendok teh, atau ½ ons (sekitar 20 ml) setiap 15-20 menit dengan sendok atau suntikan tanpa jarum (seperti pipet dengan dosis terukur) melalui mulut. CRO  mengandung elektrolit, garam dan gula  yang seimbang untuk menggantikan cairan yang hilang dari muntah atau diare.
    • Untuk bayi dibawah 6 bulan (yang bukan bayi ASI eksklusif) sebaiknya dipilih CRO tanpa rasa, sementara bayi di atas usia 6 bulan mungkin lebih suka yang ada rasanya. Untuk memberikan rasa, dapat ditambahkan ½ sendok teh (sekitar 3 mililiter) jus untuk pada CRO. CRO yang dibekukan (dibuat pop ice) juga mungkin menarik untuk bayi usia setahunan.
    • Secara bertahap tingkatkan jumlah CRO yang diberikan bila bayi dapat menerimanya dalam beberapa jam tanpa muntah. Misalnya, jika bayi biasa mendapat 4 ons (sekitar 120 ml) setiap minum, maka secara perlahan-lahan berikan CRO sampai sejumlah ini.
    • Jangan memberikan CRO lebih banyak dari porsi minum normal bayi pada satu waktu. Hal ini justru dapat memicu muntah karena kekenyangan.
    • Setelah melalui 8 jam tanpa muntah, ASI atau susu formula (bila menggunakan susu formula) dapat diberikan kembali perlahan-lahan. Mulailah dengan jumlah sedikit ( 30-60 ml), lebih sering  dan perlahan-lahan bekerja sampai mendekati jumlah asupan normalnya. MPASI juga dapat mulai diberikan dalam jumlah kecil dan tekstur yang lembut terlebih dahulu seperti pisang, sereal, biskuit, atau makanan bayi ringan lainnya.
    • Jika bayi tidak muntah selama 24 jam, pola makan dapat kembali seperti biasa.
  2. Anak usia diatas 1 tahun:
    • Berikan cairan dalam jumlah kecil (mulai dari 2 sendok teh sampai 2 sendok makan, atau sampai dengan 1 ons atau 30 ml) setiap 15 menit. Cairan bening yang sesuai meliputi:
      • CRO, atau tambahkan ½ sendok teh (sekitar 3 ml) dari jus buah yang tidak asam ke CRO
      • CRO yang dibekukan (jadi semacam es loli atau pop ice)
    • Bila susu dan produk turunan susu (es krim, yogurt, keju, dll) memicu mual dan muntah, maka sebaiknya dihindari dulu. Demikian pula dengan minuman yang sifatnya asam. Tapi bila disukai dan tidak ada efek merugikan, bisa diteruskan. Pada dasarnya semua cairan akan membantu menghambat dehidrasi.
    • Jika anak muntah, maka mulai kembali dengan jumlah yang lebih kecil  (2 sendok teh, atau sekitar 5 ml) dan lanjutkan seperti di atas.
    • Jika tidak ada muntah selama sekitar 8 jam, maka dapat diperkenalkan  makanan ringan secara bertahap. Tapi jangan memaksa setiap makanan. Anak akan memberi tanda ketika dia  lapar. Biskuit asin, roti bakar, kaldu, atau sup ringan, pure kentang, beras, dan roti dapat diberikan.
    • Jika tidak ada muntah-muntah selama 24 jam, maka pola makan seperti biasa dapat perlahan-lahan dilanjutkan . Tunggu 2 sampai 3 hari sebelum kembali memperkenalkan produk-produk susu.

Diperlukan kecepatan dan ketepatan dalam menangani dehidrasi.

Bila ragu-ragu melihat ciri-ciri kondisi anak, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.

sumber:
http://milissehat.web.id/?p=208
http://milissehat.web.id/?p=511


12 Comments - Write a Comment

Post Comment