Menyusui Lebih dari Dua Tahun, Kenapa Tidak?

‘Yang bener??! Jehan masih nyusu?? Serius looo? Kan batesnya dua tahun aja Han’

Seriing sekali saya mendapat komentar seperti itu ketika teman ngobrol tau kalo saya masih menyusui Jehan walaupun umurnya sudah lewat dua tahun. Saya sih sudah biasa dapat komentar seperti itu dan meresponnya sesuai mood saya saat itu walaupun sering juga sih pengen bilang…

NEWS FLASH lady

“A recent review of evidence has shown that, on a population basis, exclusive breastfeeding for 6 months is the optimal way of feeding infants. Thereafter infants should receive complementary foods with continued breastfeeding up to 2 years of age or beyond.” – sumber WHO website

“Nursing toddlers between the ages of 16 and 30 months have been found to have fewer illnesses and illnesses of shorter duration than their non-nursing peers” – Gulick 1986

Dan masih ada beberapa lagi penelitian yang menyatakan beberapa keuntungan dari memberi ASI selama lebih dari dua tahun.

Gerah nggak diberi komentar negatif? Jelas enggak, I feel good about the choice I made, so it doesn’t matter what anyone else is thinking.

Tapi walaupun science is on my side, saya tidak selalu menjelaskan itu kepada yang bertanya-tanya karena memang bukan karena alasan-alasan tersebutlah saya masih tetap menyusui. Alasan saya masih tetap menyusui adalah karena saya tidak mempunyai alasan untuk menyapihnya :D. Atau lebih tepatnya saya tidak melihat adanya dampak negatif dari extended breastfeeding ini, anaknya masih mau dan sayanya juga masih menikmati.  So why the rush?, saya pikir.

(Atau mungkin dalam hati secara tidak sadar saya takut kalo membayangkan  kemungkinan nggak akan mendapat pengalaman ini lagi karena *mungkin* saya nggak akan punya anak lagi #curcol). Kakaknya dulu, Jibran, hanya menyusu sampai setahun saja dan menyapih dengan sendirinya, itupun dia tidak 100% ASI, hanya sekitar 90%. Kalo membayangkan kembali, nyesel rasanya tidak mencoba bertahan untuk memberi dia ASI. Apalagi setelah melihat sendiri keuntungan dari menyusui lebih dari dua tahun ini. Alhamdulillah Jehan jarang sekali sakit. In fact, saya tidak pernah sekalipun membawanya ke dokter untuk berobat karena dia hanya pernah demam dua kali dan batuk/pilek tiga kali. Mungkin ini karena antibodi yang ada di ASI semakin meningkat sesuai dengan lamanya durasi menyusui ya. Padahal asupan makanan Jehan bukan yang paling sehat lho, dan dari segi kebersihan saya juga tipe yang ‘belom lima menit ini :D‘.

Banyak yang berargumen kalo terlalu lama menyusui akan membuat anak manja. Kalo saya sih tidak melihat adanya kecenderungan seperti itu ya. Kalo kemandirian dilihat dari bisa melakukan apa-apa sendiri, tentu Jehan cukup mandiri sampai sering mandi aja maunya sendiri. Tidur pun dia lebih milih untuk di kamarnya *walaupun tengah malem pindah sendiri ke tempat tidur saya*.  Lagipula dalam setahun terakhir ini Jehan hanya menyusu pas sebelum tidur aja, dan itupun hanya di dalam kamar. Saya sering pulang malam dan mendapati dia sudah tertidur lelap, yang tandanya dia tidak tergantung pada mimik untuk bisa tidur. Jadi mungkin satu-satunya alasan dia ingin mimik ya hanya demi kenyamanan saja, dan sebagai ibu tentu salah satu keinginan kita adalah memberi rasa nyaman kepada anak.

Kadang saya juga takjub sih dengan kenyataan bahwa saya masih menyusui Jehan sampai dia berusia tiga tahun *achievement of the year nih :D*, karena memang nggak pernah ada rencana untuk menyusui selama ini. Bahkan saya tidak mengikuti proses IMD, lho. Tapi membaca kegigihan mommies lain di forum sangat berkontribusi untuk membentuk mindset saya tentang ASI. Banyak sekali yang ingin tetap memberikan ASI dan rela memerah ASInya beberapa kali dalam sehari , dan dilakukan setiap hari, di kantor. Beruntung saya tidak perlu memerah setiap hari dan hanya perlu mempunyai persediaan beberapa botol ASIP untuk ketika saya pergi beberapa jam. Walaupun saya juga sempat mengalami sih masa-masa kejar tayang. Pulang jam 12 malam dan harus memerah ASI dulu untuk persediaan besok. Masa-masa itu sangat mengajarkan saya akan persistensi dan determinasi.

Keuntungan lain dari nggak buru-buru menyapih adalah..saya jadi nggak pusing harus mencari tau ke sana ke sini tentang cara-cara menyapih (atau memang saya dasarnya ini pemalas ya :D). Every mom has her own breastfeeding story and it’s been a beautiful journey, why would you want to end it with unnecessary stress?

Hari ini Jehan ulang tahun yang ketiga dan seminggu terakhir udah nggak mimik lagi. Minggu lalu dia beberapa kali menginap di rumah neneknya tanpa mommynya (a milestone :0)..dan entah apa yang ada dipikiran saya besoknya saya  langsung bilang ‘mimiknya lagi sakit niih Je, malem ini nggak mimik dulu yaa‘..dan dia biasa aja. Paling besoknya nanya ‘mimiknya udah sembuh belum?‘. Tapi rasanya dia menanyakan itu lebih karena concern dengan kesehatan saya deh daripada keinginan dia untuk nyusu..hihi *pede*.

Happy birthday Jehan, thank you for giving me three years of opportunity to do what no one else can do for you. I love you little munchkin!!


105 Comments - Write a Comment

Post Comment