The Tiger Mom; What I Learned From The Book

Pasti mommies sudah dengar dong cerita Amy Chua, alias The Tiger Mom? Bukunya yang berjudul Battle Hymn of The Tiger Mother adalah memoar dari kisahnya sebagai seorang ibu keturunan Cina (Chinese mother) yang tinggal di Amerika. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada stereotype tentang ibu keturunan Cina yang konon katanya sangat tegas sehingga menghasilkan anak-anak yang gemilang di bidang akademik dan musik. Sebenarnya sih pola asuh seperti itu bisa ditemukan di bangsa manapun ya, makanya di sini saya menggunakan istilah Chinese/Tiger mother dan Western mother dalam konteks luas. Karena bisa jadi it’s the immigrant thing. Yang jelas, pola asuh itu terbentuk dari banyak hal, bisa dari bagaimana orangtua mendidik kita dulu, pengalaman kita sejak kecil sampai dewasa, budaya kita (ada yang suami dan istri datang dari kebudayaan dan kebiasaan yang berbeda), mungkin ditambah juga dengan faktor pendidikan, lingkungan, dan faktor-faktor lainnya.

Untuk saya sendiri, banyak sekali yang saya bisa pelajari dari membaca buku ini. Kan jadi ibu itu tidak ada sekolahnya, maka salah satu cara saya belajar adalah dari pengalaman orangtua lain. Tentunya tidak semua yang diterapkan Amy Chua itu cocok untuk saya dan anak, terlepas dari saya setuju atau tidak dengan pola asuhnya.  Tapi ada beberapa hal yang membuat pikiran saya jadi terbuka lebar dan mengamini apa yang ditulisnya.

Di dalam bukunya, Chua sering membandingkan antara Chinese parenting yang diterapkannya dengan American/Western parenting. Kalau melihat dari pengalaman pribadi, saya merasa pola orangtua mendidik saya dulu condong ke arah Chinese parenting, tapi pola saya ke anak-anak sekarang, rasanya lebih mirip Western parenting. Begitu juga yang terjadi di antara teman-teman saya, kebanyakan juga merasakan hal yang sama. Buku ini yang menyadarkan saya, bahwa ternyata banyak yang salah kaprah, mengikuti aliran Western parenting atau Democratic parenting tapi malah kebablasan, yang akhirnya bukan demokratis lagi tapi permisif. Lagi-lagi kita tidak bisa langsung menghakimi mana yang lebih baik antara Chinese Vs Western karena pola asuh keluarga tidak bisa digeneralisasikan begitu saja, setiap keluarga pasti mempunyai formulanya sendiri.

Nah, di sini saya mau berbagi sedikit beberapa poin yang saya sangat setujui dari pola asuh Amy Chua. Tapi ingat … prinsip boleh sama, penerapannya pasti beda-beda kan ya? :)

Lulu – Amy Chua – Sophia

1. Assume strength, not fragility. Menurut Chua, American tends to praise their kids for the lowest of tasks, terlalu sering memuji anak, sebentar-sebentar good job‘. Sedangkan Chua punya ekspektasi yang lebih tinggi untuk anaknya, dia punya mimpi yang tinggi untuk anak-anaknya dan dia percaya bahwa anak-anaknya bisa melakukan sesuatu lebih dari yang dia kira. Chua tidak mau anak-anaknya cepat merasa puas dengan mediocrity.

2. Children need clear expectation and they need to be constantly challenged. Dulu waktu masih SD, saya diharuskan untuk mendapat peringkat pertama di sekolah, my mother would not be happy with second rank. Hasilnya? Dari kelas 1 sampai kelas 6 hanya empat kali saja saya tidak meraih peringkat pertama. Tapi setelah itu, entah kenapa ibu saya tidak mempermasalahkan tentang peringkat lagi dan saya pun tidak merasa perlu untuk mengejarnya di kelas. Hasilnya tentu nilai akademik saya biasa-biasa saja dan secara keseluruhan saya merasa sangat standar sebagai pelajar, tidak ada yang istimewa. Di sini saya jadi melihat bahwa achievement does build confidence. Selain kepercayaan diri, kita juga mendapat kepuasan dan kebanggaan yang tak terkira harganya. Saya selama ini tidak pernah menuntut anak saya untuk mendapat nilai sempurna di sekolah, yang penting dia mencoba sebaik mungkin dan menikmati proses belajarnya. Tapi setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk menuntut anak mendapat nilai bagus di sekolah, toh untuk kebaikan dia juga kan? Dan ternyata, Jibran responds well to the challenge dan terlihat bangga dan puas sekali kalo berhasil mendapatkan nilai bagus atau sticker bintang dari gurunya.

3. Children need to be held accountable. Menurut Chua, banyak orangtua tidak bisa melihat kesalahan anaknya. Misalnya kalau anaknya mendapat nilainya jelek, bukan anaknya yang disalahkan tapi sistemnya atau cara mengajar gurunya, pelajaran, dan lain sebagainya. Padahal yang salah memang anaknya karena tidak berusaha lebih keras lagi. Contoh lain kalo anak jatuh terpeselet misalnya, jangan alihkan dengan ‘nakal yaa lantainya bikin ade jatuh‘ tapi memang harus diberi pengertian bahwa dia kurang hati-hati.

4. Children need our support all the way. Ok, mungkin tidak se-intense dan seekstrem Chua, tapi bener deh, we need to HELP our children to succeed. Ini tamparan buat saya waktu Jibran ikut latihan sepak bola setiap hari Minggu di sebuah klub bola. Dia ikut karena beberapa sepupunya juga ikut latihan di sana. Dan karena latihannya Minggu pagi, saya sangatlah malas untuk ikut nonton di pinggir lapangan sepak bola. Jadi pelatihnya siapa saya tidak tahu, perkembangan yang sudah dicapai apa saja saya juga tidak tahu, skill yang sudah dipelajari pun saya tidak mengerti. Berbeda sekali dengan Chua yang benar-benar membantu anaknya mempelajari notes piano dan biola baru, yang selalu update dengan kemajuan mereka sehari-harinya, selalu berkomunikasi dengan guru-guru musiknya.Akhirnya, karena Jibran juga terlihat tidak begitu enjoy lagi main bola di sana, saya  menggantikan sepak bola dengan les renang. Karena sudah belajar dari pengalaman, sekarang saya terus mengamati perkembangannya.

5. Children don’t know what is best for them. Bukan berarti lalu kita sebagai orangtua lantas bisa mengesampingkan minat dan bakat anak. Tapi kita memang harus selalu mengarahkan anak dan membantu mereka menemukan passionnya. Jangan hanya menuruti perkataan anak yang selalu bilang ‘nggak suka ini, nggak suka itu‘ lantas kita diam saja membiarkan anak menemukannya sendiri. Sulit rasanya untuk anak menemukan passionnya kalau kita tidak memperkenalkan dengan macam-macam hal dan tentunya mengobservasi sendiri. It took me 18 years to find what I was passionate about, dan walaupun dulu saya dikenalkan dengan les piano dan balet tapi kegiatan itu hanya untuk mengisi waktu dan tidak berlangsung lama sehingga tidak bisa dijadikan sesuatu yang dapat dibanggakan. Dan pada awalnya, memang orang tua yang harus memutuskan untuk anak, seperti dalam pemilihan sekolah misalnya atau dalam pemilihan kegiatan luar sekolah yang memang sudah prinsip untuk kita. Contohnya, saya menganggap bisa berenang itu salah satu life skills yang harus dimiliki setiap orang. Makanya saya ingin anak-anak bisa berenang dengan baik dengan benar. Bisa jadi anak-anak tidak suka, tapi untuk yang satu ini mereka tidak punya pilihan. Setelah anak-anak menemukan passion-nya, tetap harus diarahkan, karena seperti Chua bilang, just because you love something, doesn’t mean you’ll ever be great if you don’t work. Most people stink at the thigns they love.

Masih ada lagi yang ingin saya tulis tentang pola Tiger mom ini, begitu banyaknya hal menarik yang bisa dibahas sampai-sampai satu artikel juga tidak cukup. Nantikan artikel berikut ya Moms, Alissa Wahid akan bertutur tentang pendapatnya seputar Tiger mom ini.

Untuk artikel ini, saya mau menutupnya dengan quote Amy Chua, “My goal as a parent is to prepare you for the future –not to make you like me”. Pheww! Pastinya kita setuju bahwa tanggung jawab kita sebagai orangtua adalah untuk menyiapkan anak-anak untuk masa depannya, membangun karakter mereka tapi dalam prosesnya, kita juga tidak mau dibenci anak-anak kan?

 


47 Comments - Write a Comment

Post Comment