Bertemu Komodo dan Piton di Taman Reptilia

Nama Taman Reptilia memang tidak setenar Ragunan atau Gelanggang Samudera. Bahkan, saya yang tinggal cuma ‘sekoprol’ dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) saja baru ngeh tentang tempat ini sekitar akhir tahun lalu  :p

Yup, Taman Reptilia terletak di dalam TMII, satu lokasi dengan Museum Fauna Indonesia Komodo (itu, tuh, yang bangunan museumnya berbentuk komodo raksasa). Nah, Taman Reptilia merupakan area outdoor yang mengelilingi bangunan museum tersebut.

Awal Maret lalu, Rakata diajak oleh kakeknya ke sini. Harga tiket masuknya Rp 10.000 per orang (di luar tiket masuk TMII), sementara anak seusia Rakata (baca: di bawah dua tahun) seperti biasa masih gratis, he he he.

Sesuai namanya, di Taman Reptilia kita bisa menjumpai berbagai jenis reptil. Beberapa meter dari pintu masuk saja, kandang buaya sudah di depan mata. Saya lupa apa jenis dan daerah asalnya, tapi yang jelas ukurannya cukup besar, mungkin panjangnya sekitar 3-4 meter. Wah, Rakata excited banget melihatnya. Maklum, pas beberapa minggu sebelumnya kami ke Ragunan, Rakata tidak terlalu jelas melihat buaya karena jaraknya cukup jauh dari pagar pembatas dan buayanya pun hanya diam seperti batang pohon.

Sementara di sini, bukan hanya buayanya lebih aktif (yah, setidaknya pas kami datang mulutnya lagi mengatup-membuka) tapi juga bisa dilihat dari jarak superdekat—hanya dibatasi kaca—karena kandangnya menyerupai akuarium. Saya pun merasa tenang melepas balita lincah ini ke sana kemari karena kemungkinan nyemplung ke kandang atau digigit karena berdiri terlalu dekat hampir mustahil  :)

Selain buaya, di taman ini juga ada kura-kura, katak, biawak, iguana, aneka jenis ular, dan tentu saja komodo yang merupakan ikon. Berhubung belum cukup tabungan untuk mengajak Rakata menjelajahi Pulau Komodo, cukup menghibur lah, bisa melihat hewan langka tersebut di sini, he he he. Seperti buaya, hampir semua reptil (kecuali komodo) juga ‘dikurung’ dalam akuarium kaca. Bahkan untuk ular berbisa, pengamanannya lebih ketat lagi, dengan diletakkan dalam satu bangunan khusus yang posisinya agak menjorok ke bawah.

Kalau punya cukup nyali, jangan lupa masuk ke bagian bernama Taman Sentuh. Siap-siap kaget melihat beberapa reptil dibiarkan bebas-lepas di sini, termasuk ular piton! Tapi tidak usah khawatir, karena ularnya sangat jinak. Lagipula, ada pawangnya. Tanpa dipungut biaya tambahan, kita boleh sepuasnya foto bareng dan membelai si piton. Rakata tak bosan-bosan mengelus ular besar itu, tinggal kakeknya yang dag-dig-dug luar biasa  :D

Setelah memutari Taman Reptilia, jangan lupa masuk ke dalam Museum Fauna Indonesia Komodo. Di bangunan dua lantai yang ber-AC ini, terdapat berbagai jenis fauna dari Sabang hingga Merauke yang sudah diawetkan dan (lagi-lagi) dipajang dalam akuarium kaca. Mulai dari burung yang ukurannya hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa, sampai badak bercula satu.

Satu hal lain yang saya sukai saat berkunjung ke sini adalah para petugasnya. Semuanya ramah-ramah! Di Taman Sentuh misalnya, dua petugas yang lagi asyik ngobrol menghentikan obrolannya saat kami celingak-celinguk di depan pintu, dan langsung mengajak kami untuk mendekat dan ‘bermain’ dengan si piton. Dengan bersemangat, mereka menceritakan asal-usul si piton, bagaimana cara menjinakkannya, apa makanannya, dll. Padahal, kami sama sekali tidak bertanya lho.

Begitu pun pas kami lagi di depan kandang salah satu jenis kura-kura. Karena tempurungnya mirip dengan bentuk batu-batu di kandang, kami agak kesulitan mengenali si kura-kura. Eh, tanpa disangka, salah satu petugas langsung lompat ke dalam kandang, mengambil si kura-kura dan menunjukkannya pada kami. Bahkan, si kura-kura sempat ‘dimandikan’ dulu di kolamnya hingga bersih sebelum kami menyentuhnya. Wah, baik sekali!

Melihat Rakata yang kegirangan ‘mengintip’ berbagai jenis hewan, baik yang masih hidup maupun sudah diawetkan, plus para petugas yang terlihat mencintai pekerjaannya sehingga membuat pengunjung betah, rasanya sih tempat ini akan menjadi tujuan jalan-jalan favorit kami—irit pula karena dekat rumah, hehehe.

*Diceritakan oleh Amelia Yustiana (http://ameeel.multiply.com), ibu dari Rakata Darrell (20 bulan).


9 Comments - Write a Comment

Post Comment