Mengajak Anak Bersahabat dengan Alam

Suatu pagi di hari libur.

”Yuk kakak, adik, ayo cepat mandi pagi! Kita siap-siap pergi ke Anyer!”

Saya menyodorkan dua buah handuk pada si sulung, Assyifa (7,5 tahun) dan si bungsu, Maghfira (4,5 tahun).

”Ya, tapi sebentar ya Ma. Sebelum aku yang mandi, mandiin dulu pohon-pohonnya! Biar mereka segar dan ngga kehausan!”. Fira dengan sigap mengangkat embrat alias cerek besar berlubang kecil-kecil untuk menyiram tanaman.

”Kamu baik-baik di sini ya, cabe! Banyak-banyak berbuah biar Mama ngga usah beli cabe di tukang sayur,” celoteh Syifa di hadapan barisan pohon.

Saya tersenyum senang memperhatikan kepedulian mereka pada sahabat hijaunya. :)

…..

Mengenalkan anak-anak untuk mencintai alam dan lingkungan sejak dini, tentu bukan perkara mudah. Tapi juga bukan hal yang sulit bila kita mau memulainya sedikit demi sedikit. Sesuai dengan karakter anak-anak sebagai peniru ulung, tentu saja yang terpenting adalah faktor keteladanan dari orang tua, yang diiringi dengan pembiasaan.

Anak-anak akan lebih mudah meniru, bila orang tua memberikan contoh secara terus-menerus. Dimulai dari beragam hal kecil dan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, mematikan lampu bila tidak digunakan, mematikan televisi bila tidak ditonton, mengambil makanan atau minuman secukupnya agar tidak timbulkan sampah berlebih, mandi tidak menggunakan air panas, dan sebagainya.

Saya senang menambah informasi dan pengetahuan untuk diri sendiri dulu, sebelum memberikan contoh tertentu pada anak-anak. Dengan begitu, saya akan lebih mudah menghadapi berondongan pertanyaan yang keluar dari mulut kritis mereka.

Walaupun lulus kuliah di bidang teknik lingkungan, tapi dalam menumbuhkan kecintaan anak-anak pada lingkungan, ternyata saya perlu ’perjuangan’ lebih. Terutama dalam menggali informasi terkini. Hal ini mengingat ilmu teknik lingkungan saya terlibas selama belasan tahun, karena sejak lulus sampai sekarang, saya lebih senang menekuni profesi di bidang broadcasting. ;)

Bersyukur sekali saya tergabung dalam komunitas pecinta lingkungan yang bernama Keluarga Bumi. Saya memiliki teman-teman yang murah hati berbagi ilmu dan informasi tentang pelestarian lingkungan.

Mengapa proses mencari informasi ini menjadi faktor yang sangat penting? Karena sebagai orangtua, kita harus memiliki informasi yang cukup dan logis, terutama saat mengenalkan suatu kebiasaan baru pada putra-putri kita. Kenapa kita harus membuang sampah pada tempatnya, kenapa tidak boleh memetik bunga dan daun sembarangan, kenapa tidak boleh mencampur sampah obat-obatan atau sampah batere dengan sampah lain, kenapa harus mematikan saklar lampu bila tidak digunakan, kenapa harus rajin menanam dan menyiram tanaman, kenapa lebih baik memilih kemasan kertas daripada kemasan plastik, dan rentetan pertanyaan lain.

Tujuannya, bukan hanya agar mereka tahu bahwa kita memiliki alasan yang tepat dalam melakukan sesuatu. Tapi juga agar mereka belajar peduli dan mencintai makhluk Tuhan yang lainnya, yang dapat bermanfaat bagi dirinya, lingkungan sekitar, dan bagi orang banyak.

Misalnya, pada saat mereka bertanya ’Kenapa Mama malah memberi kumpulan kertas bekas kalau kita minta kertas bagus untuk menggambar?’ Saya akan jelaskan bahwa kertas yang terisi tinta baru satu sisi kertas saja, dan sisi lainnya masih bersih. Selain hemat uang dengan tidak membeli kertas baru, juga bisa mengurangi jumlah sampah bila kertas itu digunakan kembali.

Pertanyaan anak-anak biasanya akan terus berkembang, hingga sampai pada pertanyaan ’Kalau sampah kertas tidak berkurang memang kenapa? Kertas terbuat dari apa? Bagaimana cara membuatnya? Sampah-sampah dari rumah-rumah itu dibuang kemana? Apa hubungannya dengan banjir? dan pertanyaan-pertanyaan ceriwis lainnya dari si kecil. Terutama biasanya dari si kecil yang sudah duduk di bangku kelas SD.

Di saat seperti itu saya bisa menjelaskan pada mereka, bahwa kertas itu terbuat dari serat kayu, dan serat kayu diambil dari pohon. Makin banyak kertas dipakai, makin banyak serat kayu yang diambil, dan makin banyak pohon yang ditebang. Memangnya kalau pohon ditebang kenapa? Bila pohon ditebang, maka guna pohon sebagai tempat menyerap air hujan dan sebagai penghasil oksigen (saya menyebut oksigen dengan sebutan ”udara segar” agar mereka mengerti), tentunya akan semakin sedikit. Akibatnya? Tentu saja akan semakin sering terjadi banjir, dan suhu udara semakin panas.

Saya juga merasa lebih mudah mengajak dan membiasakan anak-anak untuk melakukan sesuatu, dengan mengerjakannya bersama-sama. Misalnya saat menggosok gigi, saya selalu membiasakan menutup kran air. Mereka menirunya. Begitu juga bila saya atau bibi di rumah selesai mengepel lantai, saya menunjukkan pada mereka bahwa air bekas pel lantai masih bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman di dalam pot yang ada di teras, atau untuk menyiram rumput di halaman. Dan mereka melakukan hal serupa, bila ada gelas-gelas atau botol kotor berisi sisa air minum.

Tentu saja kita sebagai orangtua juga harus menjelaskan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh si anak. Bila sudah sampai di tahap ini, biasanya si kakak yang sudah duduk di Sekolah Dasar, akan menjadi ’penerjemah’ dan ’mentor’ yang baik bagi si adik usia Taman Kanak-kanak dalam menjelaskan maksud kita. Bila sesekali mereka lupa atau menolak ajakan kita, maklumi saja. Namanya juga anak-anak. ;)

Sejak anak-anak kami masuk usia sekolah di taman bermain, saya dan suami selalu mengingatkan mereka, bahwa langit dan bumi ini adalah titipan dari Sang Maha Pencipta bagi manusia. Karena itu kita harus menjaganya, dengan tidak merusak apapun ciptaan-Nya yang pasti bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Alasan itu juga yang membuat saya dan suami memutuskan untuk menyekolahkan kedua putri kami di sebuah sekolah berbasis agama, alam, dan sains. Kami ingin pendidikan kedua puteri kami sejalan di rumah dan sekolah. Agar mereka memiliki landasan agama yang kokoh, mencintai alam dan lingkungan, dan belajar memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk kebaikan. Karena kunci keberhasilan pendidikan putra-putri kita terletak pada keteladan dan pembiasaan. Begitu juga dalam menumbuhkan kepedulian dan kecintaan mereka terhadap alam dan lingkungannya.

Selamat Hari Bumi!

*Dikirim oleh Irma Rahmat (@irmarahmat), ibu dari Assyifa (7,5 tahun) dan Maghfira (4,5 tahun)


7 Comments - Write a Comment

  1. Mbak, nyontek kiat-kiatnya yaa… Aku juga selalu cinta sama yang berbau go green karena aku cinta lingkungan. Tapi yang jadi masalah ya suamiku. Cuek banget deh. Jadi, sebelum mengajarkan soal cinta lingkungan ke anak, aku terpaksa memaksa dia untuk cinta lingkungan terlebih dulu, hehehe..

Post Comment