Mommies at Work; Perempuan Masa Kini

Kalau zaman dulu ada pameo urusan perempuan itu hanya seputar sumur-dapur-kasur, maka makin ke sini perempuan makin dikenal dengan kehebatannya yang piawai multitasking. Tak hanya urusan rumah tangga dan keluarga, tapi juga tidak sedikit kaum perempuan yang memegang tampuk kepemimpinan di lingkungan kerja.

Berikut ada Yustina Wijaya ibu dari Rayvell dan Keira, VP Operations & Technology sebuah bank swasta asing, Yustina Sari Budiarti ibu dari Alexa, Legal Manager di bank swasta asing, dan Dian Pertiwi ibu dari Rasyad dan Razan, Managing Editor majalah Parenting yang kami wawancara seputar bagaimana menyeimbangkan karir dan keluarga.

Dalam sehari, berapa lama sih waktu yang dihabiskan untuk bekerja?

Yustin: Wah,  dalam sehari sebagian besar waktu memang rasanya tersita untuk urusan pekerjaan, saya biasanya berangkat dari rumah paling lambat pukul 7.30, dan dalam kondisi normal (artinya tidak terlalu sibuk) sampai rumah lagi sekitar pukul 8 malam. Namun seringkali, pekerjaan saya menuntut long hours work sehingga terkadang baru sampai rumah di atas pukul 9 malam. To be honest, saya sendiri memang tergolong  workaholic, dan memang dari zaman saya sekolah, saya memang sangat bercita-cita untuk menjadi wanita karir, so, I have to admit that career is part of my life and my passion, walaupun tentunya setelah berkeluarga memang ada penyesuaian di sana-sini.

Biasanya kalau bisa sampai rumah pukul 8 ya anak2 belum tidur, lalu saya ngelonin mereka deh sampai akhirnya tidur. Tapi kalau di atas pukul 9, rata-rata sih mereka sudah tidur, jadi ya paling ciumin mereka aja. Lucu banget kalau mereka uget-uget merasa terganggu, hehe.

Sarie: Kalau dulu … waktu posisi saya sebagai senior lawyer di law firm, jam kerjanya tidak bisa ditentukan, sangat tergantung beban kerja. Makanya saya memutuskan untuk pindah kerja ke tempat yang baru ini, karenabenar-benar sesuai office hour, pukul 8 pagi- 5 sore. Senangnyaaaaa ….

Dian: Karena saya bekerja di media, jam kerja saya tergolong cukup panjang. Di minggu-minggu deadline, saya bisa baru sampai di rumah pukul 9-10 malam.

Lalu bagaimana cara membagi waktu dengan anak-anak?

Yustin: Cara membagi waktu, hmm, ya memang setiap pilihan hidup akan ada konsekuensinya. Karena memang pilihan saya adalah menjadi working mom, ya pasti ada trade off-nya. Artinya memang waktu bersama anak-anak jadi tidak banyak. Saya tidak punya patokan khusus, ya just go with the flow aja, working days, ya memang saya harus bekerja (err, terkadang weekend juga sih). Jadi ya most of the time waktu saya bersama anak-anak itu Sabtu dan Minggu. Komitmen saya dan suami adalah Sabtu dan Minggu sebisa mungkin kemanapun ya anak-anak dibawa. Dan komitmen saya juga untuk tidak pernah membawa nanny atau mbaknya anak-anak pada saat kami bepergian. Mungkin dari situ sih ya kedekatan dengan anak-anak terjalin walaupun sayatidak selalu ada di rumah. Oh ya, kalau tidur malam, dari bayi, anak-anak tidur sama saya, walaupun sekarang sudah mulai diajar untuk tidur sendiri, tapi karena dari dulu kalau malam selalu saya yang pegang, jadi mereka tidak lebih dekat dengan nanny atau mbak.

Sarie: Secara umum, baik dulu maupun sekarang, waktu untuk Alexa difokuskan di akhir pekan. Selain itu diusahakan dalam setahun minimal ada 2 kali liburan bersama dan tiap saya atau Alexa ulang tahun, selalu ambil cuti.

Dian: Saat pekerjaan di rumah tidak terlalu padat, saya selalu berusaha untuk sampai di rumah maksimal pukul 7 malam dan langsung menghabiskan waktu bersama anak-anak. Yang paling berharga bagi kami adalah saat-saat menjelang tidur. Bahagia rasanya melihat senyum puas Rasyad (8) dan Razan (6) yang bisa berangkat tidur ditemani mamanya. Saya juga berusaha memaksimalkan waktu kami yang sempit di pagi hari sebelum berangkat kantor untuk mendengar keinginan sederhana, cerita lucu dan keluh kesah anak-anak. Untungnya, saya bekerja di majalah pengasuhan juga, sehingga bila harus menghadiri acara di akhir pekan, beberapa kali saya bisa mengajak anak untuk ikut serta.

Ada ritual khusus yang dilakukan setiap hari dengan anak-anak?

Yustin: Ritual khusus tidak ada,  setiap hari mandiin juga nggak sih, karena pagi-pagi saya juga sibuk sendiri siap-siap mau ke kantor.

Yang pasti tiap pagi masih ketemu anak-anak, lalu ada ritual pagi peluk dan cium sebelum berangkat. Kalau dulu waktu anak-anak masih belum sekolah, ritual paginya adalah waktu mau berangkat, mereka akan ikut naik mobil dan saya akan memutar satu blok di kompleks rumah, lalu drop mereka lagi di rumah, baru saya berangkat kerja.

Alhamdulillah memang anak-anak sudah terbiasa bahwa mamanya kerja, sehingga mereka juga mudah diajak kerja sama dalam hal ini, nggak perlu ritual khusus apa pun, tapi tidak lantas mengurangi kedekatan kami.

Sarie: Kalau di kantor lama, saya selalu antar Alexa sekolah seminggu 2 kali tiap Selasa dan Kamis, karena jam kerja memungkinkan. Sekarang setelah pindah kantor, setiap pagi Alexa bangun lebih pagi lalu menemani saya menunggu taksi untuk berangkat ke kantor kemudian selalu ada acara “cium lengkap” (pipi, dahi, bibir), dan peluk erat sebelum berangkat.

Dian: Anak-anak sudah relatif besar, jadi mereka biasa sarapan sementara saya bersiap-siap. Saya juga membiasakan mereka mandi sendiri agar lebih mandiri. Tentu saya sering muncul di pintu kamar mandi untuk memastikan seluruh bagian tubuh mereka sudah tersentuh sabun dan terbilas baik. Biasanya, mereka justru saya dampingi saat berpakaian. Saya memastikan seluruh tubuh sudah benar-benar kering dan seragam terpakai rapi (kulit Rasyad sensitif, jadi ini penting untuknya).
Yang pasti, saya selalu harus mengantar mereka ke sekolah, mencium mesra, dan menunggui sampai mereka hilang dari pandangan. (Biasanya mereka beberapa kali menengok ke belakang untuk melambaikan tangan … hehe). Saya percaya, kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini akan terekam di memori anak hingga dewasa.

Anak-anak kan sudah pada besar ya, gimana kalau ditinggal ibunya? Pernah mengalami kejadian yang bikin sedih, misalnya anak sakit tapi ada hal penting yang harus dikerjakan?

Yustin: I consider myself as a very lucky mom to have easy kids like Rayvell and Keira. Mereka tidak pernah rewel ditinggal mamanya, dan juga nggak pernah ngambek ataupun kemudian jadi lebih dekat sama pengasuhnya. Pada saat mereka sakit misalnya dan di rumah ada saya, tentunya mereka masih lebih memilih sama saya ketimbang pengasuhnya.

Kalau kejadian yang bikin sedih, ya tentunya pernah, adakalanya salah satu anak lagi sakit, tapi kemudian saya kebetulan lagi sibuk dan tidak mungkin meninggalkan pekerjaan. Untuk hal ini, kerja sama dengan suami jadi kuncinya. Saya dan suami ya bergantian saja siapa yang memang bisa ijin untuk menjaga anak-anak kalau lagi sakit. Alhamdulillah selalu bisa kompromi, sehingga saya pun tidak pernah sampai harus minta tolong ke mertua atau saudara untuk bawa anak ke dokter, dan tentunya karena suami sendiri  yang pegang kalau saya lagi nggak bisa, sayapun lebih tenang dan tidak terlalu merasa bersalah.

Sarie: Alexa sekarang sudah mengerti kalo mayi-nya pergi kerja, tidak ada acara nangis lagi. Dulu waktu usia 1,5 sampai 2 tahun masih ada masa-masa tidak mau ditinggal. Kejadian sedih pastilah ada. Kalau dulu di antaranya saat Alexa sakit tapi saya harus menghadiri rapat penting sehingga harus ditinggal sebentar. Sekarang, sedihnya kalo dia ada acara atau momen penting di sekolah, saya jadi tidak bisa menyaksikan langsung, padahal ingin sekali mengikuti semua milestone dia ….

Dian: Beberapa kali, Rasyad atau Razan demam tinggi, dan kebetulan saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Di saat-saat seperti itu, saya meninggalkan sederet pesan, lisan dan tertulis, untuk pengasuh anak. Biarpun ia sudah ikut kami sejak Razan masih bayi, tetap saja saat sakit, saya mau perawatan anak-anak maksimal, tak ada yang terlewat. Mulai dari memberi banyak air putih, sup ayam hangat, madu, dll. Saya juga wanti-wanti agar anak dijaga untuk tetap beristirahat, segera diganti bajunya ketika basah, dan agar pengasuh tak lupa memberikan vitamin dan obat yang perlu.  Sebelum berangkat kerja, saya menyiapkan bacaan atau mainan yang bisa menghibur anak agar tidak bosan karena harus beristirahat di kamar.
Begitu pula saat Rasyad beberapa kali harus masuk RS. Hari pertama, kedua biasanya saya masih bisa mendampingi di siang hari. Tapi selebihnya, saya harus minta bantuan Eyang untuk menemaninya. Biasanya ia protes, tapi saya berusaha memberinya pengertian, dan selalu ‘terbang’ ke RS begitu waktu makan siang. Toh, malamnya tetap saya yang ‘begadang’ bersamanya. Itu sebabnya, saya cenderung memilih RS yang dekat dengan kantor, bukan rumah.


Untuk acara pentas seni, ambil raport, ulang tahun dan semacamnya yang bisa diatur sejak jauh-jauh hari, saya mengusahakan untuk ambil cuti atau izin sebentar. Saya bersyukur kantor saya sangat mom-friendly. Tapi untuk yang sifatnya mendadak, seperti saat beberapa kali Rasyad atau Razan demam tinggi, tentu tak setiap kali saya bisa meninggalkan pekerjaan…

Biasanya ibu bekerja suka merasa bersalah saat meninggalkan anak. Kompensasi umumnya membelikan anak sesuatu, kalau kalian gimana?

Yustin: Buat saya, hidup adalah pilihan dan bagaimana kita konsekuen dengan pilihan tersebut. Setiap pilihan tentu ada keuntungan dan kerugiannya. Karena memang bekerja adalah passion saya, selain tentunya setelah saya berkeluarga bekerja juga menjadi salah satu hal penting untuk bisa memberikan yang terbaik untuk masa depan keluarga, jadi saya memang tidak terlalu merasakan rasa bersalah karena harus meninggalkan anak-anak. Mereka selalu diberikan pengertian, kenapa mamanya bekerja dan so far mereka senang-senang saja sih.

Membelikan sesuatu sebagai kompensasi karena saya bekerja tidak pernah saya lakukan, intinya sih kembali kepada pilihan keluarga dan bagaimana mengkomunikasikannya kepada anak-anak. Lagi-lagi Alhamdulillah, karena Rayvell dan Keira memang sangat mandiri, mereka tidak pernah juga sampai nangis meraung-raung saat saya harus berangkat kerja.

Tapi sesekali kalau saya cuti atau misalnya terpaksa tidak masuk kantor karena sakit, memang terlihat  sih kalo anak-anak senang sekali mamanya di rumah.

Sarie: Membelikan sesuatu sebagai kompensasi jarang saya lakukan, tapi ada juga. Lebih sering berupa makanan atau cemilan karena Alexa doyan ngemil. Kompensasi lainnya saya kadang bikin kue buat dia. Tapi yang pasti tiap malam kita kruntelan di tempat tidur, cerita-cerita, dan baca buku sebelum tidur, dia senang dibacain cerita. :D

Dian: Kalau ditanya rasa bersalah, sampai detik ini pun saya masih sering merasakannya. Sama seperti mama lainnya, ada saat-saat di mana saya ingin berada di sisi mereka, dan hanya ada untuk mereka. Tapi ini adalah konsekuensi dari pilihan saya untuk bekerja.
Soal kompensasi? Hmm … tidak dengan membelikan berbagai hal, ya. Saya tetap berpendapat, anak-anak perlu dibiasakan hemat dan rasional dalam membeli sesuatu. Mereka juga perlu belajar, tidak semua keinginan mereka bisa dipenuhi. Kompensasinya lebih ke totalitas saya untuk mereka di luar pekerjaan. Artinya, saya relatif jarang ke salon dan shopping, dan memilih menghabiskan waktu luang untuk melakukan hal-hal sederhana bersama anak-anak, seperti joging, mengurus taman, main sepeda bersama, atau membeli ikan-ikan kecil untuk kolam ikan kami. (Tentu sesekali, saya juga curi waktu untuk bertemu sahabat-sahabat tercinta, atau reuni dengan teman-teman lama).
Saya juga memastikan, ‘radar’ sebagai mama terus terpasang. Artinya, di pertemuan kami yang singkat di hari kerja, saya tetap harus bisa meraba jika anak sedang menghadapi masalah. Misalnya, saat ini Rasyad memasuki fase “takut”. Ia takut gelap, takut ke kamar mandi sendiri, takut Bundanya diculik alien, dsb. Saya perlu mendampinginya melalui fase ini, agar tidak berlarut-larut. Jadi, hampir setiap hari kami ngobrol soal ini. Juga ketika suatu saat, Razan sempat tampak agak terasing dari teman-temannya di sekolah. Saya sempatkan untuk ngobrol dengan gurunya, dan kami pun bekerjasama membantunya agar bisa lebih pede dan rileks dalam berteman.

 

Kalau untuk sekolah, apa masih terlibat penuh dalam aktivitas mereka?

Yustin: Untuk sekolah, saya monitor secara penuh kegiatan-kegiatan mereka sesibuk apa pun saya. Kegiatan-kegiatan seperti terima rapor, parents-teacher meeting atau pertemuan lainnya, saya selalu mengusahakan hadir atau bergantian dengan suami. Untuk Rayvell yang sudah duduk di SD kelas 2, setiap hari ada buku komunikasi, jadi saya monitor lewat situ; PR, ulangan, semua informasinya ada. Again, saya bilang saya sangat beruntung, karena anak-anak juga sangat bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya, sehingga saya nggak perlu bawel menyuruh mereka belajar dan bikin PR, anak-anak sudah sangat auto pilot mengerjakan PR ataupun belajar.

Kalau Keira, karena masih TK, belum terlalu terlihat, PR hanya ada seminggu sekali setiap Jumat, dan biasanya Jumat sore udah dikerjakan sampai selesai. Saya tinggal periksa di akhir minggu dan kasih tahu kalau ada yang salah. Beruntung banget kan saya …. hehe.

Dian: Rasyad saat ini duduk di kelas 2 SD. Sejak kelas 1, secara bertahap saya membiasakan Rasyad  membuat pekerjaan rumahnya sendiri–pengasuh hanya boleh turun tangan memberi penjelasan jika ada hal-hal yang kurang ia pahami. Ketika saya pulang, saya periksa PR-nya dan pagi sebelum berangkat sekolah, kami me-review beberapa jawaban yang salah bersama. Rasyad tahu, saya tidak pernah menuntut nilai 100. Saya ingin ia memandang sekolah bukan hanya sebagai sebuah wadah untuk mendapatkan nilai, tapi juga mengenal berbagai hal baru dan menikmati waktu menyenangkan bersama teman-teman. Tentu saya berpesan, ia harus tetap berusaha dengan maksimal–tapi lebih untuk kepuasan diri sendiri. Soal les pun, saya tidak pernah memaksakan. Ketika ia merasa belum perlu les matematika, misalnya, saya setuju, dengan syarat ia mendengarkan dengan baik penjelasan guru di sekolah dan banyak berlatih di rumah. Saya percaya, anak justru akan belajar lebih banyak hal bila dipercaya dan didengar pendapatnya.
Untuk Razan yang masih TK, saya juga tidak mau terlalu ngoyo. Yang penting, ia mencapai hal-hal yang dicapai teman-teman sebayanya. Untuk mempersiapkan ke jenjang SD, misalnya, ia saya ikutkan les baca tulis. Ia juga rutin membaca Iqro, satu halaman per hari didamping pengasuhnya, agar bisa tamat Iqro 6 saat lulus TK nanti (anak-anak bersekolah di sekolah Islam). Saya membiarkan Razan memilih ekskulnya sendiri, dan ia memilih ikut melukis, hal yang ternyata memang ia cintai.
Tapi inti dari semua ini, saya harus realistis bahwa dengan begitu panjangnya waktu yang saya habiskan di luar rumah untuk pekerjaan, saya perlu mendelegasikan soal pendidikan anak (dalam hal ini pelajaran sekolah) kepada orang yang saya percaya. Jadi, saya pastikan pengasuh anak cukup cerdas dan bisa dipercaya untuk menjadi perpanjangan tangan saya di hari-hari kerja.

Kalau me time sama anak biasanya ngapain?

Yustin: Me time sama anak biasanya hmm, mostly jalan-jalan ke mal sih. Ini nih hal yang saya kadang tuh tidak suka karena tinggal di Jakarta (lho, out of topic ya?). Ingginnya ajak anak-anak ke taman. Duduk-duduk, berlarian, tapi sayangnya tidak didukung fasilitas, jadi ya mostly ke mal, atau kalau di rumah ya main game bareng di komputer, nonton TV, atau sekedar main-main di kamar guling-gulingan di kasur. Bisa dibilang saya itu simple banget sih dan kebetulan tidak punya hobi di rumahseperti  making craft atau baking misalnya. Hehe, judulnya nggak kreatif nih. Lebih banyak ya go with the flow aja, paling sering sih ajak jalan-jalan  saja deh, karena kalau di rumah kadang malah jadi terasa lelahnya, ingin istirahat dan anak-anak juga kalau di rumah sudah punya aktivitas main sendiri, kadang mamanya dicuekin. Kalau jalan-jalan kan mautidak mau jadi full mengurus mereka :D.

Dian: Soal kegiatan bersama anak, kami lebih suka melakukan kegiatan outdoor, seperti yang saya sempat saya ceritakan. Saya berusaha mengurangi frekuensi dan ‘ketergantungan’ mereka dengan mal. Banyak kok, hal-hal sederhana yang tidak kalah menyenangkan ketimbang jalan-jalan di mal.

Bisa kasih tip buat working moms yang lain nggak?

Yustin: Hmm … tip … apa ya, kadang saya merasa beruntung banget deh dikaruniai anak-anak yang baik dan mandiri seperti mereka. Tapi mungkin kalo bisa share kira-kira sebagai berikut:

1. Hidup adalah pilihan

Hal yang utama adalah sadari bahwa hidup itu pilihan, jadi pilihan apapun tidak ada  yang salah, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan juga konsisten.

Saya pribadi memang tidak mungkin bisa kalau tidak bekerja, jadi ya itu sudah menjadi bagian hidup dan karakter saya,  sehingga pengaturan keluarga pun ya mau tidak mau didasarkan dengan keadaan ini.

2. Beri pengertian pada anak

Anak-anak itu amazing lho, mereka bisa mengerti kok kalau diberi tahu secara konsisten. Saya tidak menganut memberi hadiah karena saya merasa bersalah, karena hal ini menurut saya akan membuat anak-anak itu melihat bahwa orangtuanya ragu-ragu. Jadi jalani saja sebagaimana mestinya dengan berbagai kompromi yang harus dilakukan dan juga konsisten. Hmm, kadang saya mikir sih, apa saya memang tegaan banget ya, mungkin karena saya juga terbiasa dulu papa dan almarhumah mama saya juga bekerja dan saya juga tidak pernah rewel karenanya. Menurut saya pribadi, kalau memang kitanya sebagai ibu juga terlihat konsisten, anak-anak juga akan belajar untuk mandiri dan mereka akan menerima dengan senang fakta bahwa mamanya kerja.

Sarie: Tip? Waduuuh … saya sendiri juga masih banyak kekurangannya kok. Mungkin sharing saja berdasarkan pengalaman, saat setelah kerja dan sudah bersama anak, pusatkan perhatian pada anak. Lepaskan gadget, lepaskan hal lain, manfaatkan waktu sama anak, dan dengarkan mereka. Bagi mereka, mengetahui bahwa kita mendengarkan mereka sungguh besar artinya. Dan percayalah, mereka juga akan dengan senang hati mendengarkan perkataan kita. Berbagi cerita dengan anak tak terkira nilainya ….

Dian: Jadi mama, working atau stay at home, pasti ada ups and downs-nya. Bedanya, mama bekerja punya waktu lebih sedikit untuk dihabiskan bersama anak-anak. Nah, waktu yang sempit itu adalah kesempatan berharga untuk menciptakan momen-momen kecil yang membahagiakan untuk anak, juga Mama. Yang lebih penting lagi, whether you are a working or a stay at home mom, what’s more important is making sure that you are a happy mom. And only YOU know what it takes to make yourself happy. Happiness is contagious. Kalau kita pulang kantor dengan wajah berseri-seri (betapapun lelahnya), waktu yang sangat sedikit pun akan terasa berharga untuk anak maupun kita!

Ah, setuju banget dengan 3 mommies hebat ini! Hidup memang pilihan, ketika sudah memilih maka kita harus jalani sebaik-baiknya. Jadi ingat sama twit tempo hari tentang #momAtwork, “jangan sampai sudah meninggalkan anak untuk bekerja, eh prestasi kerjanya biasa-biasa saja”. Banyak loh, perempuan yang berhasil menyeimbangkan antara Keluarga dan karir, contohnya ya 3 mommies diatas.

Selamat hari Kartini moms!


42 Comments - Write a Comment

Post Comment