Dekat dengan Alam di Sekolah Kembang

Sabtu pagi ketika cuaca bersahabat, kegiatan favorit saya saat menunggui anak sekolah adalah: duduk di kursi taman di bawah pohon rindang, mengamati aktivitas anak-anak kelompok bermain. Setelah belajar di dalam kelas beberapa jam, sisa waktu sekolah mereka biasanya dihabiskan dengan bermain di halaman sekolah.

Posisi duduk saya persis di sisi  lapangan berwarna hijau yang dilapisi karet padat sehingga tak membuat anak terluka bila terjatuh. Lapangan hijau itu multifungsi; tempat anak-anak duduk santai sambil mendengarkan gurunya bercerita, tempat mereka  berolahraga ringan atau bernyanyi bersama sambil diiringi dentingan gitar seorang guru, di lain waktu menjadi tempat merayakan ultah. Karena ada sebatang pohon yang tumbuh di tengahnya dan ada ayunan berbentuk tangga yang menuju ke atas pohon, di sana anak-anak juga menyalurkan hobinya memanjat sambil berayun-ayun..

Kadang, saya tertawa geli sendiri melihat sekelompok anak yang asyik berlomba adu cepat naik sepeda roda tiga atau dorong-dorongan mobil-mobilan plastik di sekitar saya. Dan,  di sisi lain arena bermain, ada juga beberapa balita yang tenang karena sedang asyik melukis di kertas yang terpasang di stager lengkap dengan cat air warna-warni. Yang main pasir juga dengan gembira membuat sand castle atau sekadar main perosotan lalu mendarat mulus di atas pasir yang lembut dan bersih.

Semua ceria, semua gembira dan bebas merdeka melakukan aktivitas kesukaan mereka, dengan tetap di bawah pengawasan guru-guru yang segera sigap membantu bila diperlukan. Kehidupan ideal khas anak-anak balita betul-betul tergambar di sini. Semua kegiatan luar ruang bisa dilakukan di halaman sekolah, di udara terbuka yang bebas polusi udara, di Kelompok Bermain Sekolah Kembang, Kemang, Jakarta Selatan. Lokasi sekolahnya juga unik, di sebuah jalan utama Kemang yang super-ramai, namun sedikit masuk ke sebuah jalan buntu yang tenang dan teduh oleh pepohonan. Sebuah pohon mangga yang saat ini tengah berbuat lebat, menyambut  di  halaman parkir Sekolah Kembang.

Anak saya sudah satu tahun ini bersekolah di sini, di Kelompok Bermain Sekolah Kembang. Tampaknya, saya  dan suami sudah memilihkan tempat yang tepat untuk buah hati semata wayang kami itu. Terbukti, ia selalu gembira setiap kali akan berangkat sekolah di hari Senin, Rabu dan Sabtu. Kebetulan cantik kami yang berusia 4 tahun itu terbilang anak yang aktif. Selalu ingin bergerak dan maunya banyak. Dan Sekolah Kembang memenuhi kebutuhannya …. Selain aktivitas fisik yang bebas ia lakoni, di sekolahnya ini ia juga bisa belajar banyak ketrampilan. Melukis di kanvas dan hasil lukisannya bisa digantung di selasar sekolahnya. Dengan bangga suatu hari dia laporan, “Mama, ada tiga lukisanku dipajang di sekolah hari ini ….” Baiklah, Nak. Lukisan tanpa bentuk yang hanya berupa paduan warna kesukaannya, rupanya membuat ia merasa bangga ketika dipajang sampai jam sekolah usai.

Di lain waktu dia membawa pulang sebuah roti isi cokelat. “Ini roti buatanku, enak deh, Ma. Aku bawa pulang untuk Mama coba. Cuma aku gigit sedikit, kok, tadi ….” Betul, ternyata enak rotinya. Tidak kalah dengan roti buatan bakery, karena memang adonannya serius dibuat oleh sekolah. Jadi, putri kecilku hanya diminta membentuk dan mengisi cokelat di  dalamnya. Urusan memasukkan ke oven sudah bukan tugasnya. Begitu matang, rame-rame mereka bisa mencicipi roti buatan sendiri. Pernah pula ia telepon ke kantor hanya untuk menceritakan bahwa ia membawa pulang lalat yang besar sekali. Ternyata, ‘lalat’ raksasa badannya terbuat dari botol air mineral bekas dan sayapnya dari kertas koran. Masih banyak ‘binatang’ maupun mainan buatannya yang semua memanfaatkan bahan-bahan daur ulang.

Saya makin memahami mengapa Kelompok Bermain Sekolah Kembang bisa mencapai usia 37 tahun pada 12 Maret 2011 lalu, dan sudah berkembang hingga memiliki TK dan SD yang berprestasi di kawasan DKI. Ibu Yaya Suwarso, pendiri sekaligus kepala sekolah Sekolah Kembang, adalah seorang pendidik sejati. Sebagai psikolog senior beliau sangat paham bagaimana menghadapi anak-anak, dari usia pra sekolah hingga SD. Tegas namun penuh kasih sayang. Beliau selalu menyapa manis anak-anak didiknya. Selalu membujuk dengan penuh kasih anak-anak balita maupun batita yang tiba-tiba ngambek  atau tantrum. Orang tua yang tidak sabaran akan merasa malu sekaligus belajar bagaimana cara mengatasi anak yang sedang berontak.

Rupanya, ada satu pesan yang selalu ditanamkan oleh Ibu Yaya kepada para pendidik di Sekolah Kembang. “Intelegensia saja tidak cukup untuk mendidik anak, tapi harus juga dengan kasih sayang dan cinta!”  Selain itu, Ibu Yaya juga sangat peduli pada penggunaan bahasa Indonesia, sehingga anak-anak usia dini sudah diarahkan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Hal itu dicontohkan oleh Ibu Yaya sendiri beserta semua guru. Keuntungannya, ketika anak mulai belajar bahasa asing, ia sudah tidak bingung lagi, karena sudah memiliki dasar yang kuat bahasa ibu.

Jadi, saya merasa beruntung anak saya bisa sekolah di Sekolah Kembang. Apalagi, sejak saya dan suami memutuskan untuk mendaftarkan si kecil di Kelompok Bermain Sekolah Kembang, selain membayar uang masuk dan  uang sekolah setiap bulan, tidak pernah sepeser pun kami dimintai iuran; apakah itu atas nama perayaan ultah sekolah, ultah kemerdekaan RI ataupun Lebaran dan Natal. Dan, tidak pernah pula anak kami diberi tugas untuk membawa peralatan apa pun untuk kegiatan di sekolah; gunting, kertas ataupun lem kertas. Karena semua sudah disediakan dan semua sudah termasuk di dalam uang yang sudah kami bayarkan di muka.

Itu pula yang membuat kami memutuskan untuk memilih TK untuk si kecil di Sekolah Kembang tahun ajaran baru ini (tentu saja setelah membandingkan dengan beberapa TK yang lain). Telanjur jatuh cinta dengan suasana sekolah yang bebas namun bertanggung jawab, lingkungan yang tidak borju dan gaya pengajarannya yang penuh perhatian dan kasih sayang, namun mengajarkan kemandirian dan sikap hidup positif. Ssst tambahan lagi, ada bakso dan somay yang selalu ngangenin di Sekolah Kembang itu. Karena sudah mangkal di halaman sekolah itu sejak 30 tahun lalu, Bakso Pak Kumis superbeken  & ditanggung sedapnya, terbukti terpilih sebagai salah satu makanan yang direkomendasikan dalam buku Jakarta Good Food Guide 2008-2009. Jadi, nggak heran kan kalau setiap Sabtu saya betah nunggu anak saya sekolah di Sekolah Kembang?

*Dikirim oleh Marlini Hasan Potoh, ibu dari Kinanti (4,5 tahun)

 


16 Comments - Write a Comment

Post Comment