Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk!

Orangtua yang (pernah) memiliki anak berusia 0-3 tahun tentunya tak asing dengan perilaku ngambek, menangis, menjerit, bahkan memukul saat permintaan atau keinginan anak tidak kita penuhi. Ini rupanya merupakan hal yang terbilang wajar karena pada usia tersebut, anak sedang berada pada proses mengenal dan belajar menghadapi kekecewaan. Kalau begitu, apa yang melatarbelakangi timbulnya luapan emosi tersebut dan bagaimana mengatasinya?

Berikut hasil dari seminar tantrum oleh Bapak Toge Aprilianto yang beberapa saat lalu saya dan sugarenspice ikuti.

Temper tantrum atau yang kerap disingkat ‘tantrum’ sebenarnya merupakan cetusan atau letupan emosi yang tampil dalam bentuk perilaku agresif tak terkendali. Tantrum biasanya muncul saat terjadi situasi yang secara emosi mengecewakan, misalnya saat anak gagal mendapat apa yang ia inginkan atau saat permintaan anak ditolak oleh orangtua.

Letupan emosi saat berhadapan dengan situasi yang tak sesuai harapan ini dapat ditampilkan secara agresif terhadap orang lain (memaki, memukul, menendang, mengigit, menjerit, dsb) ataupun kepada diri sendiri (menyakiti diri sendiri). Selain itu, kekecewaan anak juga dapat ditampilkan secara pasif (menarik diri, ngambek, dll).

Tantrum dianggap berbahaya jika tampil dalam bentuk perilaku agresif baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri dimana tak jarang hal tersebut malah menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya.

Latar belakang luapan emosi

Usia 0-3 tahun merupakan masa anak untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang ia kehendaki tak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun kerapkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yg anak rasakan. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dsb demi menghentikan tangisan anak. Hal ini menurut sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbullah yg disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yg nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.

Bagaimana mencegah?

Mengetahui bahwa emosi merupakan hal yg lumrah, kita sebagai orang tua disarankan agar memberi kesempatan kepada anak untuk menghayati dan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka. Artinya, saat anak menangis kecewa atau merasa sedih kita hanya berperan untuk mendampingi, memeluk (jika dibutuhkan) dan menyatakan pengertian kita atas perasaan yang sedang anak rasakan tanpa memberikan intervensi apalagi berusaha menghentikan emosi tersebut. Kita juga dapat mengajarkan anak bentuk atau ekspresi emosi yang menurut kita (orang tua) dapat diterima, misalnya: boleh manangis, boleh berteriak dengan ditutup bantal, dll. Bentuk ini dapat kita tentukan sendiri sesuai dengan budaya dan kebiasaan masing-masing.

Mengatasi tantrum

Jika temper tantrum telah terlanjur muncul dalam bentuk perilaku yg membahayakan dan berpotensi menimbulkan kerusakan, maka tindakan intervensi harus segera dilakukan dan diharapkan tantrum ini sudah akan hilang sebelum anak berusia 3 tahun. Mengapa? Karena semakin besar anak, tenaga juga semakin kuat dan akan semakin sulit bagi orang tua untuk mengendalikan atau mencegah tingkah lakunya yang tak terkendali. Selain itu timbunan emosi ini juga dapat mengarah pada ‘kerusakan’ lain baik secara fisik ataupun bentuk perilaku berbohong, menyalahkan orang lain, menutup diri, merebut milik orang lain secara paksa dan sebagainya.

Langkah yg diambil saat tantrum terjadi:

  1. Pegang anak erat-erat (tangan dan kaki) hingga dia tak dapat memukul/menendang dan melakukan hal berbahaya lain.
  2. Jangan ajak anak berkomunikasi hingga anak selesai dengn usahanya untuk memberontak (hal ini termasuk jangan berteriak untuk menyuruh anak berhenti).
  3. Dalam waktu 15-20 menit maka rata2 anak akan merasa letih dan berangsur tenang. Saat itulah anak dapat diajak berbicara.
  4. Jelaskan mengapa kita memegangnya erat2 dan mengapa kita tidak memenuhi permintaannya.
  5. Ajarkan anak bagaimana lain kali ia dapat menunjukkan kemarahannya.

Belajar memilih

Pada masa transisi dari masa ‘batita’ menjadi masa kanak2 (usia 3-6 tahun), penting bagi seorang anak untuk belajar mandiri/otonom sesuai dengan kapasitasnya. Kurangnya kesanggupan untuk mengatasi kekecewaan akan membuat anak senantiasa berbenturan dengan orang lain karena ia akan memaknai orang lain sebagai penyebab kesulitan atau ketidaknyamanan yang ia hadapi. Hal ini tentunya akan menyulitkan anak untuk berhubungan secara harmonis dengan orang lain karena akan senantiasa muncul tuntutan-tuntutan dari anak terhadap orang lain.

Hal ini dapat dihindarkan dengan cara mengajarkan anak sejak dini untuk memilih dan bernegosiasi. Tujuannya agar anak memahami bahwa tak semua keinginannya dapat terpenuhi dan bahwa pilihannyalah yang menentukan apa yang dapat ia peroleh dan apa yang tak dapat dia peroleh. Dengan demikian ia akan siap saat berhadapan dengan rasa kecewa saat salah satu keinginannya tak terpenuhi dan memahami bahwa hal tersebut merupakan akibat dari pilihan yang dibuatnya sendiri.

Contoh negosiasi:

Saat si A meminta mainan di toko, ajukan pilihan: beli mainan atau pergi ke Timezone?

Saat si A meminta menonton televisi, berikan syarat agar ia terlebih dahulu melakukan A, B, C dan kemudian dia akan diijinkan menonton televisi.

Tahapan mempelajari pilihan ini dimulai dari pilihan yg enak vs enak, enak vs tidak enak, hingga tidak enak vs tidak enak.

Well moms, semoga berguna ya. Saya juga lagi mencoba nih ….

*Dikirim oleh Ruf Lie, ibu dari Fausto (18 bulan) dan bayi usia 32 minggu didalam rahim

gambar dari sini


42 Comments - Write a Comment

Post Comment