Orangtua yang (pernah) memiliki anak berusia 0-3 tahun tentunya tak asing dengan perilaku ngambek, menangis, menjerit, bahkan memukul saat permintaan atau keinginan anak tidak kita penuhi. Ini rupanya merupakan hal yang terbilang wajar karena pada usia tersebut, anak sedang berada pada proses mengenal dan belajar menghadapi kekecewaan. Kalau begitu, apa yang melatarbelakangi timbulnya luapan emosi tersebut dan bagaimana mengatasinya?
Berikut hasil dari seminar tantrum oleh Bapak Toge Aprilianto yang beberapa saat lalu saya dan sugarenspice ikuti.
Temper tantrum atau yang kerap disingkat ‘tantrum’ sebenarnya merupakan cetusan atau letupan emosi yang tampil dalam bentuk perilaku agresif tak terkendali. Tantrum biasanya muncul saat terjadi situasi yang secara emosi mengecewakan, misalnya saat anak gagal mendapat apa yang ia inginkan atau saat permintaan anak ditolak oleh orangtua.
Letupan emosi saat berhadapan dengan situasi yang tak sesuai harapan ini dapat ditampilkan secara agresif terhadap orang lain (memaki, memukul, menendang, mengigit, menjerit, dsb) ataupun kepada diri sendiri (menyakiti diri sendiri). Selain itu, kekecewaan anak juga dapat ditampilkan secara pasif (menarik diri, ngambek, dll).
Tantrum dianggap berbahaya jika tampil dalam bentuk perilaku agresif baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri dimana tak jarang hal tersebut malah menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya.
Usia 0-3 tahun merupakan masa anak untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang ia kehendaki tak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun kerapkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yg anak rasakan. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dsb demi menghentikan tangisan anak. Hal ini menurut sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbullah yg disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yg nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.
Mengetahui bahwa emosi merupakan hal yg lumrah, kita sebagai orang tua disarankan agar memberi kesempatan kepada anak untuk menghayati dan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka. Artinya, saat anak menangis kecewa atau merasa sedih kita hanya berperan untuk mendampingi, memeluk (jika dibutuhkan) dan menyatakan pengertian kita atas perasaan yang sedang anak rasakan tanpa memberikan intervensi apalagi berusaha menghentikan emosi tersebut. Kita juga dapat mengajarkan anak bentuk atau ekspresi emosi yang menurut kita (orang tua) dapat diterima, misalnya: boleh manangis, boleh berteriak dengan ditutup bantal, dll. Bentuk ini dapat kita tentukan sendiri sesuai dengan budaya dan kebiasaan masing-masing.
Jika temper tantrum telah terlanjur muncul dalam bentuk perilaku yg membahayakan dan berpotensi menimbulkan kerusakan, maka tindakan intervensi harus segera dilakukan dan diharapkan tantrum ini sudah akan hilang sebelum anak berusia 3 tahun. Mengapa? Karena semakin besar anak, tenaga juga semakin kuat dan akan semakin sulit bagi orang tua untuk mengendalikan atau mencegah tingkah lakunya yang tak terkendali. Selain itu timbunan emosi ini juga dapat mengarah pada ‘kerusakan’ lain baik secara fisik ataupun bentuk perilaku berbohong, menyalahkan orang lain, menutup diri, merebut milik orang lain secara paksa dan sebagainya.
Langkah yg diambil saat tantrum terjadi:
Pada masa transisi dari masa ‘batita’ menjadi masa kanak2 (usia 3-6 tahun), penting bagi seorang anak untuk belajar mandiri/otonom sesuai dengan kapasitasnya. Kurangnya kesanggupan untuk mengatasi kekecewaan akan membuat anak senantiasa berbenturan dengan orang lain karena ia akan memaknai orang lain sebagai penyebab kesulitan atau ketidaknyamanan yang ia hadapi. Hal ini tentunya akan menyulitkan anak untuk berhubungan secara harmonis dengan orang lain karena akan senantiasa muncul tuntutan-tuntutan dari anak terhadap orang lain.
Hal ini dapat dihindarkan dengan cara mengajarkan anak sejak dini untuk memilih dan bernegosiasi. Tujuannya agar anak memahami bahwa tak semua keinginannya dapat terpenuhi dan bahwa pilihannyalah yang menentukan apa yang dapat ia peroleh dan apa yang tak dapat dia peroleh. Dengan demikian ia akan siap saat berhadapan dengan rasa kecewa saat salah satu keinginannya tak terpenuhi dan memahami bahwa hal tersebut merupakan akibat dari pilihan yang dibuatnya sendiri.
Contoh negosiasi:
Saat si A meminta mainan di toko, ajukan pilihan: beli mainan atau pergi ke Timezone?
Saat si A meminta menonton televisi, berikan syarat agar ia terlebih dahulu melakukan A, B, C dan kemudian dia akan diijinkan menonton televisi.
Tahapan mempelajari pilihan ini dimulai dari pilihan yg enak vs enak, enak vs tidak enak, hingga tidak enak vs tidak enak.
Well moms, semoga berguna ya. Saya juga lagi mencoba nih ….
*Dikirim oleh Ruf Lie, ibu dari Fausto (18 bulan) dan bayi usia 32 minggu didalam rahim
gambar dari sini
Share with us your precious parenting stories: funny, embarrassing, inspiring — we want to hear them all! Submit your stories in Bahasa Indonesia or English to (use form)
Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb http://myloc.me/jj5um
RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
Yuk! But how?? :( RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
Must read! RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
☀ ☂♓ÅήK•̃ Ɣ☺ΰ ☀ RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
baca! baca! baca! RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
Sebelum bertanya2 gmn mengatasi tantrum, kenali juga latar belakangnya. Baca deh artikel @mommiesdaily hari ini http://bit.ly/gFImAp
Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/JESekrD via @mommiesdaily
Baca ya @ifannus RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
Apaan? RT @mommy_danial: @abu_danial RT @mommiesdaily: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://fdly.me/fh6jxb
[...] jaga-jaga, Bunda pun searching bagaimana mengatasi anak ketika tantrums, terus ketemu deh artikel ini dari Mommies [...]
[...] yang paling bikin para ibu stres selain tantrum biasanya adalah GTM! Ya, gerakan tutup mulut ini biasanya paling top bikin para ibu pusing tujuh [...]
Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/8rGaCcnu *colek* @astrinitawk
RT @MrsEsti: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/fhQUxXCO *colek*
Membaca ulang artikel dari @mommiesdaily yg membahas soal tantrum. Siapa tau dpt pencerahan http://t.co/usgp7ZBM
RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/EbpINagc
Tfs :) RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/wXX8NWSb
[From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/6yre057U
Yukzz RT @mommiesdaily [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/Ox4CpKVV
Baca nih @MusGibran RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/ERPkBgvw
Nice info..! :)RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/fj1VmlxP
RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/5tptUYN3
RT @eviemommyrafa: Tfs :) RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/DnzV4QRn
RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/LXZUpdlV
@phiiit » RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/4nSayyrW
Ayo dibaca. RT @IntanBasunondo: RT @mommiesdaily: [From The Archive]: Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk! http://t.co/L9j9Hc2y
Ayahh @punyamun —> http://t.co/dbmPJ0Y5
Wah, thank u ya mak ruf! Artikelnya bagus dan bermanfaat nih pastinya buat mommy2 :)
Iya betul banget, dibawah 3 tahun kan emang karena anak belum bisa mengkomunikasikan apa yg mereka rasain, jadi stress ya bisa keluarnya tantrum. Mungkin bisa diajarin pelan2 ya untuk mengenali perasaannya, kalo kata Ibu Elly Risman, identifikasikan perasaan anak. Lagi sedih, senang, kecewa, marah, dari situ anak bisa belajar mengungkapkan perasaannya *panjang bener komennya, hihihi*
Gw melakukan ini sih, alhamdulillah pas rentang usia 1-3 tahun ini Langit amat sangat jarang tantrum. Terutama diatas 2 tahun ini malah seinget gw nggak sama sekali :)
yay ! mak sto ! kok kagak pengumuman di pos kalau artikelnya dimuat ? congrats ya mak ! thank you buat sharingnya….iya, gw juga masih belajar buat hal ini. emang jadi emak2 tuh belajar tanpa henti deh.
Lita: benulll.. Ajarin anak buat kenal dan komunikasikan perasaan misal: langit kesel mama.. Ato langit sedih.. Dll helps a lot gw yakin! Krn anak jd belajar menghayati, mengenali dan trus bahas tuh perasaan.. Ahhh susahnyaaa apalagi pas anak mulai nangissss grrrhhhhh kadang emosi kita ikut naik (mama lagi kesel nak haha)
Muti: haha gw aja baru tau nih :p selamat yak, lu punya 2 jagoan buat di handle hihihi caiyooo!!
muti & ruf, gw lupa kemaren mo pengumuman di pos :))
Mak Ruf thanks banget ini sharingnya jd tercerahkan gw, nambah bekal buat gw, persiapan ntr anak gw :)
thank you banget untuk masukannya,
skg ini dillema lebih mengarah ke penerapan disiplin pada anak.
Kira-kira apa yah yang harus kita lakukan untuk memberi pengarahan yang ga kolot banget tapi cukup membuat anak kita mengerti batas-batas peraturan?