Bogor-Jakarta Naik Kereta

Saya lupa kapan tepatnya dan di umur berapa pertama kali mengajak anak sulung saya, Hazel (hampir 7 tahun sekarang) pergi jalan-jalan naik kereta api.   Tapi … mungkin itulah yang disebut cinta pada pandangan pertama, karena sejak itu … anak saya luar biasa tergila-gila dengan  kuda besi itu.  Apalagi setelah kemunculan serial Thomas & Friends … si kereta biru dan kawan-kawannya yang lucu serta bisa ngomong … wah, tambah suka dia.

Untuk mobilitas sehari-hari, kami sekeluarga memang biasanya menggunakan kendaraan pribadi.  Jadi kalau satu ketika saya iseng mengajak anak saya itu, “Yuk, kita jalan-jalan ke Botani Square–misalnya–, tapi kita naik ojek dulu … trus naik angkot … trus pulangnya naik bus Trans Pakuan (kembarannya busway di Bogor)”.  Pasti dia menerima ajakan itu dengan sangat senang hati dan tanpa keluhan. Walaupun gerah  … mungkin dalam hatinya sudah bosan banget naik mobil … kalau naik angkutan umum walaupun keringetan dan kadang penuh penumpang, tapi seru juga melihat banyak pemandangan dan ketemu banyak orang.

Tambah senang lagi kalau satu ketika ayahnya atau saya mengajak jalan-jalan ke Jakarta naik kereta api.  Tujuannya bisa kemana-mana … entah ke Mangga Dua,  Glodok, atau ke Senayan City.  Atau kadang tanpa tujuan jelas … turun di Stasiun Kota … makan di A & W sambil mengamati lalu-lalang kereta datang dan pergi … kemudian kembali pulang ke Bogor.  Dia pasti menjalani rencana itu dengan semangat empat lima.

Biasanya kami pergi di Sabtu atau Minggu pagi menjelang siang,  berangkat  dari rumah menuju Stasiun Bogor dengan kendaraan pribadi … lantas mobil diparkir di halaman stasiun dan selanjutnya kami membeli tiket di loket untuk kereta AC express PAKUAN tujuan  Bogor-Jakarta Kota yang biasanya ditempuh selama kurang lebih 1 jam perjalanan.

Oh ya, jadwal keretanya tersedia mulai pagi hingga malam hari dan harga tiket per orangnya adalah Rp. 11 ribu.  Tak perlu cemas karena gerbong keretanya bersih, AC dingin, kursinya empuk pula dan relatif aman. Biasanya tak perlu berdesak-desakan karena kami berangkatnya di saat akhir minggu di mana kantor libur.  Bahkan, kalau misalnya pun kereta sedang penuh ya tinggal lesehan saja di lantai yang cukup bersih … hehehe … (biasanya si Ayah tuh, karena dia selalu memberikan kursinya untuk ibu-ibu saat penumpang padat).

Setelah sampai di stasiun tujuan … perjalanan biasanya dilanjutkan dengan Bajaj (kalau ingin ke Mangga Dua) atau naik taksi argo Blue Bird (kalau tujuannya ke mal misalnya).  Rute pulangnya juga sama seperti itu.

Anak saya itu, setiap kali menginjak stasiun, entah stasiun Bogor, Gambir, Kota, Jatinegara, atau Cirebon misalnya … pasti terkesima, menoleh kanan-kiri dengan sangat antusias.  Terpesona dengan deretan gerbong kereta yang datang dan pergi atau yang keluar-masuk stasiun.  Dia menutup kupingnya dengan gembira setiap terdengar bunyi peluit yang nyaring.  Wah, senang sekali rasanya melihatnya begitu riang.  Dan setiap kali diajak pergi, selalu terasa bagai pengalaman pertama yang penuh kesan buatnya, padahal mungkin dia sudah mengalami naik si gerbong besi itu berpuluh-puluh kali.

Kalau dipikir-pikir, bagus juga ya memperkenalkan anak-anak dengan berbagai jenis alat transportasi umum.  Biayanya tak terlalu mahal, yang pasti memperkaya pengalaman dan menambah wawasannya.

*Dikirim oleh Rosdiana Suryani, ibu dari Hazel (7 tahun) dan Raya (3 tahun) Ide jalan-jalannya asyik sekali!


7 Comments - Write a Comment

  1. waaahh.. kereta pakuan ternyata oke juga ya.. Beberapa bulan lalu ngajak anakku naek kereta ke Bogor, naiknya yang ekonomi, non AC pula.. tapi tetep adem kok buat toddler, soalnya banyak angin masuk dari kaca yang udah pada pecah, hueheheheh.. lebih irit pula, tiketnya cuma 2 ribu perak :D

  2. Kangen kereta AC Bekasi Ekspress :)). Dulu setiap berangkat kerja selalu naik kereta ini, nyaman & cepat, kalaupun padat, setidaknya masih adem he he he..
    Sayang, transportasi umum di jakarta belum memadai dalam hal fasilitas, maaf, hanya sekedar berbagi, di Paris, hampir semua angkutan umum ada tempat untuk kereta dorong bayi dan juga untuk pengguna kursi roda, mulai dari bus, metro, tram sampai kereta (RER) hanya repotnya kalau di stasiun gak ada tangga jalan atau lift, cuma biasanya suka ada aja yang nolong buat ngegotong kereta bayi :)
    kalau untuk pengguna kursi roda ada semacam plat besi di bawah bus yang bisa dikeluarkan kalau ada pengguna kursi roda, untuk kereta/metro, bisa minta bantuan ke petugas di stasiun untuk disiapkan plat metal sebagai “jembatan” antara peron dan kereta.

  3. haduhhh….aku kok baru liat dan baca artikel ini ya…hiks…dasar ibu2 tulalit…hehehe….makasih ya buat para mama yg sudah komen, kapan hari aku ngajak anakku yg no 2 (Rayya), ternyata gak seantusias kakaknya naik KA :)

Post Comment